Skip to main content

Thoriqoh Ahmadiyah #1


Thoriqoh yang pendirinnya dinisbatkan kepada seorang wali quthub terkenal yang bernama al-Sayyid al-Hasib al-Nasib Abu al-Abbas Sayyid Ahmad al-Badawi al-Syarif Ra. Beliau masih keturunan Rasulullah dari jalur Sayyidina Husain bin Ali. Nasab beliau adalah sebagai berikut: Syaikh Ahmad al-Badawi bin Ali bin Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakar bin Isma'il bin Umar bin Ali bin Utsman bin Husain bin Muhammad bin Musa al-Kadzim bin Yahya bin Isa bin Ali bin Muhammad bin Hasan bin Ja'far bin Ali bin Musa bin Ja'far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib Krw.

Kemudian Syaikh Ahmad al-Badawi tinggal di Makkah dan dikenal dengan sebutan al-Badawi karena biasa memakai cadar. Beliau memakai dua cadar yang tidak pernah dilepas, Ketika ditawari menikah oleh saudaranya, ia menolak dan tidak menikah sama sekali. Lalu ia bimbing saudaranya itu dan disuruh mempelajari al-Quran. Pada saat tinggal di Makkah ia terkenal sebagai pemberani sehingga dijuluki si pemberani dan si watak keras.

Setelah menghafal al-Quran Syaikh Ahmad al-Badawi disibukkan dengan mencari ilmu. Untuk beberapa tahun lamanya ia mengikuti madzhab Syafi'i sampai terjadi sesuatu hal padanya kemudian ia tinggalkan itu semua. Jika memakai baju atau sorban, ia tidak melepasnya baik di waktu mandi atau waktu yang lainnya sampai sorban tersebut basah, setelah sorban yang ia kenakanan hancur barulah ia melepasnya dan mengganti dengan baju yang lain. Dia  juga tidak membuka kain cadarnya, kemudian Abdul Majid bertanya kepada dia: berilah tahu wajahmu kepadaku, dia berkata: “Kami membuka setiap pandangan dengan orang laki-laki”, kemudian Abdul Majid bekata: “Ya aku telah mengetahuinya, maka ketika mati bukaklah cadar ini”, kemudian beliau mati seketika, (al-Thabaqat al-Kubra, Juz 1, halaman: 185 dan al-Kawakib al-Durriyah fi Tarjami al-Sadat al-Shufiyah, juz 2, halaman: 145). Lalu terjadi suatu hal pada dirinya sehingga tingkahnya berubah dan menjauhi orang-orang dan selalu berdiam diri.

Ia tidak berkata kecuali dengan bahasa isyarat. Senantiasa berpuasa dan bangun malam selama 40 hari ia tidak makan, minum, dan tidur kemudian turun dari tempat tidurnya. Dari waktu ke waktu ia selalu memandang ke langit sampai kedua matanya merah membara.Kemudian mendengar suara berkata tiga kali: “Berdirilah dan berhadaplah ketempat munculnya matahari, ketika sudah menemukannya maka berhadaplah ke tempat tenggelamnya matahari”. Dia berjalan sampai ke kota Thanta (Mesir) tempat makam as-Sayyid Ahmad al-Badawi. Beliau keluar dari daerah Faisya al-Munarah kemudian anak-anak kecil mengikut beliau diantaranya yaitu bernama Abdul, Al dan Abdul Majid, (Nur al-Abshar, halaman: 261 dan al-Kawakib al-Durriyah fi Tarjami al-Sadaal-Shufiyah, juz 2, halaman: 144).

Imam al-Matbuli berkata: "Rasulullah Saw. bersabda kepadaku, Tidak ada wali di Mesir setelah Imam Syafi'i yang sangat pemaaf melebihinya (Syaikh Ahmad al-Badawi), lalu Sayyidah Nafisah, Syaikh Syarifuddin al-Kurdi dan al-Manufi', (Nur al-Abshar, halaman: 266).

Source: instagram.com/tamansufi.id

Comments