Skip to main content

Thoriqoh Malamatiyah #1


Malamah Istiqamah Sirri:
Sâlik selalu menyendiri dalam amal ibadahnya, selalu bersungguh-sungguh menjaga agamanya, dan hubungan muamalahnya. Sehingga para manusia mencaci-maki sementara Sâlik ini tidak memperdulikan dan mengabaikan hinaan tersebut.
Sâlik dalam tahap ini meniadakan sifat munafik dalam hati, meninggalkan riya‟, tidak takut dihina makhluk, tetap berjalan pada prinsip-prinsip tiap ahwal, sanjungan dan hinaan terasa sama oleh Sâlik, (Kasyf al-Mahjûb, halaman: 261)
Diceritakan bahwa Syaikh Abû Thahir al-Harami pada suatu hari menunggang keledai yang berjalan menuju ke arah pasar, salah satu muridnya menghalau keledai tersebut dengan memegang tali kendalinya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki berteriak “ini (Abû Thahir al-Harami) adalah syaikh Zindiq, dan disahut oleh orang-orang pasar yang lain”. Ketika mendengar teriakan ini,salah satu murid ingin membalas dengan melempari batu terhadap penghina tanpa kehendak gurunya. Lalu syaikh Abû Thahir al-Harami berkata kepada muridnya: “Jika Engkau tetap diam aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu agar engkau bisa selamat dari cobaan ini.” Maka muridpun diam.

ketika keduanya kembali ke tempat pemondokannya, maka sang guru berkata kepada muridnya: ambillah kotak itu dan keluarkan isinya berupa beberapa surat, kemudian sang guru berkata kepada muridnya: Lihatlah!, Saya telah memberikan surat ini kepada beberapa orang, dan masing-masing dari mereka memberikan julukan yang berbeda diantaranya memberikan julukan syaikh seorang pemimpin, dan yang lain memberikan julukan syaikh seorang yang cerdas, ada yang memberikan julukan syaikh seorang yang zuhud, ada yang memberikan julukan syaikh al-Haramain dan lain-lain, semuanya adalah laqab bukan sebuah nama. Semua itu mengatakan dengan dasar keyakinan mereka masing-masing.

Malamah al-Qashd:
Adapun seseorang yang menyengaja tharîqah Malâmatiyah,meninggalkan pangkat dan kedudukan, meninggalkan bergaul dengan makhluk, maka hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Amîrul Mukminîn Utsman Ibn Affan Ra., ketika beliau sedang berada di kebun kurma, beliau sedang memikul kayu sedangkan beliau mempunyai 40 pembantu, lalu seorang pembantu berkata kepadanya, ya Amîral Mukminîn apa yang baginda lakukan? Beliau menjawab: (saya ingin melatih hati saya). Hal ini saya lakukan sampai saya bebas melakukan apapun tanpa adanya halangan antara saya dan kedudukan saya. Hal inipun juga dilakukan oleh Imam Abû Hanifah.
Kisah yang sama juga dikisahkan oleh Abu Yazid al-Busthami ketika beliau hendak ke Madinah, semua orang keluar untuk menyambut dan memuliakannya, dan ketika semua orang memberikan pujian kepadanya, maka masuklah Abu Yazid al-Busthami ke pasar dan beliau mengeluarkan roti dari dalam sakunya dan kemudian memakannya, dan kejadian ini berada pada bulan Ramadhan. Maka kembalilah semua orang dan meninggalkan beliau sendirian. 

Malamah al-Tark:
Adapun orang yang tharîqahnya meninggalkan pangkat dan kedudukan dan memilih sesuatu yang bertentangan dengan syari'at, maka dia akan mengatakan: saya adalah orang yang sedang masuk dalam tharîqah malamah, pendapat ini adalah pendapat yang sesat, bahaya yang nyata dan benar-benar gila. 
Sebagaimana pendapat mayoritas orang-orang pada zaman sekarang, adapun yang dimaksud meninggalkan makhluk adalah menerima makhluk, karena kewajiban seorang manusia pertama adalah diterima oleh makhluk kemudian berusaha untuk menolaknya. 
Adapun tharîqah ini disebar-luaskan oleh Hamdûn ibnu Ahmad ibnu „Ammârah al-Qashshâr. Beliau berkata: (al-Malamah adalah meninggalkan keselamatan). Ketika seseorang meninggalkan keselamatannya, maka dia akan melakukan beberapa cobaan dan meninggalkan semua hal-hal yang disenanginya, karena berangan-angan ingin menggapai keagungan Tuhan dan akhirat, sehingga dia cuek dengan makhluk dan meninggalkannya. Semakin cuek dan meninggalkan makhluk, maka semakin dekatlah dia kepada Tuhannya. Maka segala sesuatu yang diterima oleh semua makhluk, itulah keselamatan, dan ini ditujukan kepada Ahlu malamah, agar semua prasangka makhluk berbeda dengan prasangka Ahlu malamah dan prasangka Ahlu malamah berbeda dengan prasangka para makhluk.

Hakikat mahabbah yang terindah adalah berada dalam tharîqah malamah, karena caci makian seorang yang dicintai tidak memberikan dampak pada yang dicintai, dan tidak membuat lari kekasih kecuali masuk ke wilayah kekasihnya, tidak ada getaran jiwa selain kepada kekasihnya, karena tharîqah Malâmatiyah merupakan taman orang-orang yang rindu pada kekasih. 
Golongan ini khusus dicaci secara fisik karena keselamatan hati. Derajat ini tidak bisa diperoleh oleh malaikat muqarrabîn karubiyyin ruhaniyyin, manusia (ahli zuhud, ahli ibadah) kecuali Sâlik tharîqah ini yaitu orang-orang yang menjalankan tharîqah dengan memutus tali temalinya hati, (Kasyf al-Mahjûb, halaman: 264-265).

Source: instagram.com/tamansufi.id

Comments