Skip to main content

Public Speaking?


Apakah Anda pernah meyadari bahwa di pekerjaan Anda saat ini, orang yang karir nya hebat adalah orang yang sering dan mampu berbicara di depan umum? Sedikit kemungkinan seorang pimpinan perusahaan mengangkat karyawan nya menjadi seorang Manager, Kepala Divisi, ataupun koordinator jika karyawan tersebut tidak memiliki kemampuan berbicara di depan umum. 

Begitu juga para pengusaha, mereka akan semakin sukses jika mereka mampu membicarakan / menawarkan produk yang mereka miliki. Ketika mereka mempunya karyawan, mereka pun harus mampu menyampaikan arahan, peraturan dan yang lainnya di depan para karyawan.

Ketika Anda sukses dalam profesi yang Anda geluti tanpa memiliki kemampuan berbicara, maka dari sekarang Anda harus memepersiapkan diri menjadi seorang public speaker. Karena, apapun profesi Anda, apabila telah menjadi orang yang berhasil maka orang lain akan menjadi ingin tahu dan ingin belajar dengan Anda. Orang lain ingin mendengar pengalaman dan ingin tahu ilmu yang Anda kuasai kemudian mempelajarinya dan melakukannya dalam kehidupan. Anda akan dijadikan seorang model yang akan diikuti oleh orang lain. Dan Anda akan diberi kesempatan / diundang untuk menjadi seorang pembicara. Pada saat itulah, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka Anda akan “dipaksa” untuk hadir menjadi seorang pembicara. Oleh karena itu, siapkanlah kemampuan public speaking Anda dari sekarang. 

Jadi, kemampuan bicara di depan umum bukan hanya diperlukan oleh trainer, juru kampanye, guru atau dosen dan tetapi diperlukan oleh siapapun yang ingin menjadi sukses dan hebat.

Bagi orang awam public speaking sering kali terdengar bersahabat tetapi sulit diartikan/dipahami. Public speaking jika kita penggal suku kata nya maka menjadi dua suku kata yaitu “public” dan “speaking”. “Public” yang artinya (masyarakat) umum dan “speaking” yang artinya berbicara. Maka public speaking adalah berbicara di depan umum atau jika dijabarkan kemampuan/teknik untuk berbicara di depan umum. Berbicara di depan umum merupakan suatu keterampilan, sehingga kemampuan ini lebih banyak ditentukan berdasarkan latihan, praktek dan pengalaman. Public speaking bukanlah bakat yang hanya didapatkan dari keturunan melainkan public speaking adalah hasil dari proses seseorang dalam menggabungkan informasi, latihan, keberanian, kesempatan dan pengalaman dalam berbicara. Jadi pada dasarnya setiap orang yang bisa “talk” (ngobrol) maka maka bisa “speak” (berbicara). Jadi kata “bakat” tidak layak lagi untuk dijadikan alasan. 

Di Indonesia, kemampuan/keahlian Berbicara di Depan Umum (Public Speaking) maupun keahlian-keahlian lain yang serupa, masih belum diterima luas sebagai suatu keahlian yang bergengsi bagi individu maupun institusi/instansi. Lain halnya dengan negara lain seperti Amerika Serikat ataupun Singapura, yang mana keahlian berbicara mendapat tempat yang terhormat sebagai suatu keahlian. Padahal tidak sedikit waktu dipergunakan manusia (karyawan, guru, dosen, pemuka agama, dll) untuk berbicara di depan umum, utamanya dalam konteks karir, profesionalitas kerja dan penyampaian informasi. Bahkan banyak terjadi ketika seseorang diminta untuk tampil berbicara di depan umum, yang bersangkutan tidak percaya diri, takut dan minder untuk tampil dihadapan orang banyak sehingga maksud untuk mentransfer gagasan, pesan dan informasi tidak berlangsung dengan baik yang pada akhirnya apa yang disampaikan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Secara umum public speaking adalah bagian dari ilmu komunikasi. Komunikasi merupakan proses interaksi untuk berhubungan dari satu pihak ke pihak lainnya.
Secara teoritis, fungsi komunikasi adalah menciptakan kesadaran, mengubah persepsi, mengubah keyakinan, mengubah sikap, mengingatkan kembali, mendapatkan respon langsung, dan membangun citra.

Dalam ilmu komunikasi, public speaking merupakan sebuah cara dan seni berbicara di depan umum yang sangat menuntut kelancaran berbicara, kontrol emosi, pemilihan kata dan nada bicara, kemampuan mengendalikan suasana, dan juga penguasaan bahan/materi yang akan dibicarakan. Di dalam public speaking dibutuhkan penguasaan medan dan pengenalan terhadap karakter audiens yang diajak berbicara dan bahasa juga menyangkut gaya tubuh yang menunjang materi pembicaraan. Bagian dari public speaking yang sering kita lihat diantaranya sambutan, mc, presenter, pidato, orasi, dakwah, presentasi, dan mengajar.

Dan perlu diingat, public speaking bukan hanya sekedar bisa berbicara melainkan bagaimana pesan/informasi yang disampaikan mampu terserap oleh yang mendengarkan.

4 teori Dasar Melakukan Public Speaking:

1. Start of Fire
Ingat!! ketika Anda mengucapkan kata pertama jangan sekali-kali menampakan diri dengan wajah lemas, tidak semangat dan bahkan biasa saja pun harus Anda hindari. Buatlah gebrakan untuk memecah suasana ketika memulai berbicara. Start of fire ini dalam arti harafiahnya adalah bagaimana kita menyulut api agar para pendengar / audiens fokus perhatiannya kepada kita. Misalnya Anda membuka dengan kata salam “SEMANGAT PAGI” / “MERDEKA” sambil mengacungkan dan mengepal tangan. Bisa juga dengan cerita lucu. intinya yang ditekankan disini adalah mengambil perhatian pendengar / audiens.

2. Build a Bridge
Sebelum masuk pada materi inti sebaiknya Anda mengantarkan dengan sebuah perumpamaan, cerita aktual di masyarakat yang sedang hangat. Hal ini untuk menarik perhatian lebih jauh serta sebagai bahan perantara masuk pada materi pokok yang akan kita bicarakan. Jadi build a bridge dalam arti harafiahnya adalah bagaimana cara membangun jembatan pembicaraan dari pembukaan dengan sebuah gebrakan menuju materi pokok yang akan disampaikan.

3. For Instance
Materi inti akan diuraikan pada bagian ini. Sebaiknya penyampaian materi disampaikan dengan contoh nyata, maka dari itu bagian ini disebut dengan for instance artinya contoh – contoh konkrit. Yang akan menentukan pada bagian ini yaitu Anda harus memiliki kemampuan menguasai materi, luasnya pengetahuan, dan kemampuan empati.

4. So What
Untuk akhir dari pembicaraan Anda harus menutup dengan langkah-langkah tindak lanjut, baik berupa pesan, harapan, point-point yang penting dan kesimpulan.
Perlu kita pahami bahwa teori diatas akan berlaku apabila Anda memiliki ketekunan dan kemauan untuk berlatih, praktek, berani mencoba dan mengalami akan jauh lebih cepat meningkatkan kemampuan anda.

4 Faktor yang Menunjang Keberhasilan dalam “Public Speaking”:

1. Mengatasi Masalah dalam Diri
Hampir setiap orang yang belum terbiasa akan merasakan gejala-gejala saat berbicara di depan umum seperti tegang, gemetar, berkeringat dingin, gugup, gagap, denyut jantung semakin kencang, mendadak ingin buang air, demam panggung dan lupa ingatan (sesuatu yang inging disampaikan).
Atasi masalah tersebut diantaranya dengan: persiapan yang matang, tarik nafas dalam-dalam ketika ingin memulai bicara, kontak mata (lihatlah kepada audiens yang bikin hati dan pikiran tenang), dll.

2. Body Language yang Tepat
Dalam berbicara di depan umum, meskipun dalam acara formal jangan lupakan “body language” walaupun hanya gerakan kepala dan tangan. Apalagi dalam acara semi formal atau informal Andaharus melakukakan body language yang tepat diantaranya postur tubuh, Perpindahan tempat, Gerak isyarat, Mimik wajah, Mata yang bersinar. Teteapi ada juga Body Language yang harus dihindari ketika berbicara di depan umum diantaranya : Memasukan tangan ke saku, Tangan ditangkupkan di belakang punggung, Lengan disedekapkan, Bertolak pinggang, Meremas-remas tangan, Memegang bagian wajah.

3. Metode Penyampaian yang Sistematis dan Tepat Sasaran
Pada dasarnya apa yang disampaikan hanya meliputi 3 (tiga) rangkaian: Pembukaan, Isi dan Penutup. Supaya tepat sasaran, hal-hal yang harus diperhatikan: 
a.) Kenali latar belakang komunikan/audiens, dari pendidikannya, pekerjaannya, hobinya, kepentingannya maupun hal-hal yang nampaknya tidak ada artinya. 
b.) Ciptakan suasana yang menunjang, itu semua tergantung pada komunikan yang kita hadapi kembali kepada latar belakang audiens 
c.) Tentukan maksud dan tujuan pembicaraan: sekedar pengisi waktu, diskusi, penyampaian informasi, atau negosiasi. 
d.) Gunakan kalimat yang tidak menimbulkan pengertian ganda agar tidak membingungkan audiens. 
e.) Evaluasi terus menerus

4. Penggunaan Alat Bantu
Alat bantu merupakan salah satu cara untuk membuat komunikan / audiens mudah memahami apa yang kita sampaikan, jika Anda tampil di depan untuk presentasi sebuah produk maka perlihatkan produk tersebut atau kalau tidak memungkinkan untuk ditampilkan maka cukup dengan menayangkan slide power point yang menggambarkan apa yang kita sampaikan. 
Alat bantu ini khususnya yang visual dimaksudkan untuk: 
a.) Memfokuskan perhatian audience 
b.) Merangsang minat 
c.) Mengilustrasikan faktor-faktor yang sulit diverbalkan

7 Hal Penting yang Harus Diperhatikan dalam Public Speaking:

1. Perhatikan Penampilan
Lihat dan serasikan penampilan Anda dengan suana acara, kemeja, jas/blazer serta perhatikan juga asesoris yang dipakai. Kerapian dan keserasian memakai pakaian antara sepatu, celana, jam tangan, cincin akan sangat menampakkan dan menambah kewibawaan juga kadang bisa mencuri perhatian.

2. Perhatikan Volume Suara dan Intonasi
Volume suara Anda atur sehingga menyesuaikan dengan ruangan, baik pake sound system ataupun tidak. Pada dasarnya semua pendengar/audiens ingin mendengar dengan jelas. Intonasi disini maksudnya adalah bagaimana Anda berbicara tidak terdengar datar. Karena berbiicara datar akan membuat jenuh, membosankan dan membuat ngantuk.

3. Luasnya Wawasan, Pengetahuan dan Perbendaharaan Kata
Semakin luas pengetahuan akan menambah kewibawaan dan mantapnya bobot pembicaraan Anda. Perbanyaklah membaca, seringlah mengikuti diskusi, dll.

4. Mengontrol Waktu
Tanyakan dengan jelas kepada penyelenggara berapa waktu yang diberikan kepada Anda. Berbicaralah sesuai dengan waktu yang ditentukan, atur dan kontrol diri Anda sendiri. Jangan berbicara apa yang tidak perlu dibicarakan.

5. Pola Berpikir yang Sistematis
Pola berpikir yang sistematis harus tercermin dalam pembicaraan. Maka dari itu buatlah rencana terlebih dahulu sebelum tampil. Hal yang dipersiapkan akan lebih baik daripada sesuatu yang tidak dipersiapkan.

6. Pembicaraan yang Konkrit dan Membumi
Sesuaikan gaya bahasa dan contoh-contoh yang relevan dengan Audiens. Misalnya pemilihan kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan kepada pendengar yang tidak memakan ilmu pendidikan tentu akan berbeda dengan berbicara didepan mahasiswa.

7. Sikap dan Mental
Persiapkan mental yang kuat untuk menghadapi para Audiens yang membuat pembicaraan sendiri, acuh, dan bahkan memusatkan perhatian kepada Anda.

Sekian. Semoga bermanfaat.
: Achmad Shiva`ul Haq Asjach


Comments