'Idul Fitri: Agama Dan Puasa Mewujudkan Kekuatan Fitrah Manusia


Oleh Ubaidillah Achmad

Dalam istilah sansekerta, agama bermakna jalan lurus dan tidak berbelok. Sehubungan dengan makna agama ini, maka istilah agama ibarat sebuah perpustakaan yang memuat semua ajaran kenabian dan kearifan lokal. Hal ini dikarenakan, semua ajaran kenabian dan kearifan lokal mengajak semua umat manusia supaya berada pada jalan lurus, seperti yang telah diajarkan para pengikut agama leluhur masyarakat nusantara.

Ajaran kenabian berbeda dengan kearifan lokal. Ajaran kenabian bersumber dari wahyu dan pengalaman spiritual dari para Nabi sendiri. Misalnya, Islam bersumber dari wahyu dan jejak pengalaman spiritual Nabi Muhammad. Islam membawa ajaran kenabian dan mengajarkan tentang arti penting menjaga kearifan lokal. Sehubungan dengan cakupan makna Islam, prinsip jalan lurus Islam dapat dimasukkan pada kawasan studi agama. Dalam studi agama agama menegaskan, bahwa semua ajaran yang memiliki ciri jalan lurus dan tidak berbelok, adalah benar.

Prinsip semua agama itu benar, tentu berbeda dengan masing masing keyakinan dari pengikut agama yang berbeda beda. Dengan demikian, dapat dimaklumi jika masing masing dari agama yang diakui di Indonesia memiliki hak untuk saling berpegang pada prinsip kebenarannya sendiri sendiri. Adanya perbedaan keyakinan sesuai prinsip para pengikut agama agama merupakan bentuk keanekaragaman keyakinan dan kepercayaan yang diakui di Indonesia sebagai bentuk jalan kebenaran.

Sehubungan dengan perbedaan keyakinan agama di atas, dapat menjadi dasar kebhinnekaan atau keragaman bagi bangsa Indonesia. Dalam konteks keagamaan ini, juga ada kebenaran lain, yang selama ini tidak dikenal berasal dari sumber kewahyuan dan pengalaman spiritual Nabi Muhammad. Kebenaran dimaksud, adalah model kebenaran yang bersumber dari kearifan lokal. Meskipun demikian, banyak diyakini adanya kebenaran ini, juga dipastikan bersumber dari jejak kenabian yang sudah melewati sejarah para Nabi yang sudah dikenal dalam sejarah agama agama langit dan melewati budaya masyarakat lokal.

Dengan latar belakang relasi sederhana antara agama dan sumber kenabian dan pengalaman spiritual para Nabi di atas, maka perlu diajukan rumusan masalah berikut: mengapa umat Islam menggunakan istilah agama? Bagaimana kebenaran nilai agama Islam relevansinya dengan puasa?

Agama Versi Jalan Kenabian
Alasan yang mendasar penggunaan istilah agama, karena agama sudah dikenal sebagai representasi pada semua ajaran yang mengajarkan moral dan etika universal di tengah kehidupan umat manusia. Keutamaan agama terlihat dari adanya kritik terhadap agama, namun tidak berujung pada konflik dan kebencian terhadap agama. Kebanyakan pihak yang mengkritik kebenaran agama, karena adanya harapan besar, yaitu untuk mengetahui pengetahuan yang ingin mereka rasakan dari teks agama.

Dengan kata lain, kritikus yang selalu mengkritik term agama, sebenarnya berharap untuk mendapatkan berkah keberagamaan atau untuk mendapatkan inti pengetahuan agama yang mencerahkan. Hal ini berbeda dengan kritik yang ditujukan terhadap ideologi besar dunia, bertujuan untuk memperebutkan kehendak kuasa dan kepentingan politis. Kritik ini, kebanyakan telah dilalui melalui kritik terhadap ideologi dunia. Adanya sistem pembagian kekuasaan dalam konflik ideologis, pada akhirnya akan menyisakan kebencian dan ancaman konflik yang disebabkan oleh perebutan kembali kehendak kuasa.

Jadi, kebanyakan ideologi dunia, baik yang bersumber atau lahir dari individu maupun bersumber secara komunal, telah mengarah pada rasisme, radikalisme kehendak, dan menjadi dasar intoleransi masyarakat bangsa. Berbeda dengan pembahasan kehendak kuasa yang bersifat ideologis, jika ada konflik dalam agama karena disebabkan ada kepentingan ideologis yang memanfaatkan keutamaan agama, sehingga terkesan dalam kawasan agama juga ada konflik kepentingan.

Jika mengkaji sejarah agama agama dunia, maka dengan mudah akan terbaca, bahwa agama selalu mengajarkan jalan lurus atau jalan yang tidak berbelok. Jalan agama, adalah jalan lurus menuju kebenaran hakiki yang tidak merugikan diri sendiri relasinya dengan Allah dan tidak merugikan pihak yang lain. Adanya konflik di kawasan agama, karena adanya kepentingan pribadi dan kepentingan komunal yang keluar dari prinsip kebenaran agama atau kebenaran jalan lurus.

Karenanya, hingga sekarang ini, agama masih menjadi legitemasi gerakan moral masyarakat. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa para politisi dan gerakan komunal berupaya selalu berlindung di balik gerakan moral dan etika yang diajarkan di dalam prinsip agama. Hal ini bertujuan untuk mengelabuhi agama dalam desain kehendak kuasa. Namun demikian, seiring dengan perkembangan pengetahuan manusia, sudah banyak yang memahami antara prinsip agama dan mereka yang menjarah agama untuk kehendak kuasa.

Sehubungan dengan ini, banyak yang murni hendak menguatkan peran agama di tengah masyarakat, namun karena mendekati kehendak kuasa, maka model kuasa agama ini berubah menjadi kendaraan politik penguasa untuk memperebutkan kekuasaan. Meskipun demikian, publik atau masyarakat telah menyadari, fungsi keutamaan agama versi jalan kenabian, telah mengajarkan pendidikan sikap dan perbuatan yang terpuji relasinya secara vertikal dan horizontal.

Secara vertikal, agama versi jalan kenabian terkait dengan ketundukan, kepasrahan dan kecondongan kepada Allah. Sedangkan, secara horizontal agama versi jalan kenabian terkait dengan pandangan dan perbuatan yang ramah terhadap lingkungan hidup yang lestari atau saling memberikan kasih sayang sesuai dengan keutamaan masing masing. Karenanya, dalam konteks lingkungan hidup yang lestari, setiap orang tidak boleh saling menggunakan kesempatan untuk saling merusak lingkungan.

Puasa Mewujudkan Kekuatan Fitrah
Semua agama kenabian mengajarkan dan menekankan tentang arti penting puasa. Yang membedakan, adalah proses pelaksanaan puasa. Dalam ajaran agama yang dikenal secara universal sebagai agama Islam yang disampaikan melalui risalah Nabi Muhammad, secara umum mengajarkan puasa selama bulan Ramadlan, yaitu tidak makan dan minum sejak fajar hingga sore hari memasuki waktu shalat maghrib. Meskipun demikian, selain agama kenabian, agama agama yang lain, juga mengajarkan tentang puasa, sehingga seakan tidak dianggap agama tanpa ajaran puasa dan tanpa pencerahan terhadap umat manusia.

Ajaran puasa dan gerakan pencerahan agama bertujuan untuk membentuk pandangan dan sikap perbuatan manusia secara seimbang dan bersahaja, sehingga tidak dirusak oleh perasaannya sendiri dan emosi amarahnya. Keutamaan dari puasa ini akan dirasakan langsung secara fisik oleh diri sendiri dan pihak terkait yang terlibat, baik dirasakan dalam konteks relasinua dengan Allah atau relasinya dengan kemanusiaan.

Pandangan normatif tentang puasa tersebut di atas, telah dikembangkan secara filosofis dan mendalam oleh Khalifah ke 4, Ali RA. Dalam pandangan Ali RA mengklasifikasi tingkat kesadaran yang akan dirasakan dalam puasa. Puasa hatilah yang lebih berat dilaksanakan. Hal ini berbeda dengan puasa lisan dan puasa perut. Karenanya, jika seseorang telah mampu melaksanakan puasa hati, maka akan mendapatkan martabat yang tinggi.

Puasa hati, misalnya, mempotensikan unsur hati di antara unsur jiwa manusia. Selain hati, dalam diri manusia ada ruh, akal, nafs, dan fisik. Sedangkan, yang dimaksud Puasa hati, berupa konsistensi pada rasa empati dan simpati pada prinsip kemanusiaan dan menetapkan keteguhan hati beristiqamah menjalankan kebaikan, membangun peradaban, dan membela kemanusiaan. Sehubungan dengan puasa hati ini, maka hati akan berhadapan dengan tingkatan nafsu yang dasar, yaitu nafs al amarah bissu'. Artinya, nafs yang mendorong kepada kejahatan dan kejelekan.

Karenanya, dalam upaya menghindari kehendak (nafs) yang dasar ini, hati seseorang harus istiqamah selalu bersama nafs yang sudah mengalami transformasi diri, yang disebut dengan nafs yang sudah tenang dan stabil (nafs al muthmainnah), yaitu nafs yang tidak goyah oleh godaan potensi buruk dari luar yang akan memancing pandangan dan perbuatan jahat manusia.

Berbeda dengan nafs al muthmainnah, nafs al amarah merupakan nafs yang belum bertransformasi, sehingga akan menjadi lebih berbahaya jika mengikuti kebutuhan biologis yang datang dari luar (syahwat) dan jika mengikuti hayalan kosong (al hawa). Kerja dari nafs al amarah bissu, adalah selalu berkecenderungan terhadap kebutuhan yang bersifat sementara, seperti harta, tahta dan wanita.
Hal hal yang bersifat sementara ini diperoleh dengan cara yang tidak bermoral dan mengabaikan potensi ruh yang ingin selalu mengingat Allah, mengabaikan potensi akal yang selalu ingin berfikir membedakan yang baik dan buruk, mengabaikan potensi hati yang selalu bersatu dengan Allah.
Jadi, agama menekankan arti penting jalan lurus kebenaran yang tidak berbelok. Sedangkan, puasa menekankan bentuk kesadaran merespon nilai kebenaran, baik yang bersumber dari Allah maupun yang bersumber dari nilai kemanusiaan. Setiap yang berpuasa akan menggali potensi fitrah manusia yang terpendam oleh jasad dan kehendak manusia. Puasa akan melahirkan rasa kehadiran hati kepada Allah lebih banyak daripada lapar dan haus.

Dengan kata lain, jika manusia mampu berpuasa sampai pada hatinya, maka ia akan lebih banyak mengingat Allah daripada mengingat isi perut. Puasa sampai pada hati ini, dapat dilalui melalui: puasa yang hanya menahan lapar dan haus saja, puasa khowash yang sanggup menjaga anggota tubuhnya dari maksiat, dan yang puncak adalah puasa khawasil khawash, yaitu puasa hati yang disertai dengan muraqabah. Artinya perasaan hati yang selalu merasa diawasi Allah swt.

Ubaidillah Achmad, Penulis buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, Dosen UIN Walisongo Semarang, Khadim Majlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang.

Related Posts:

0 Response to "'Idul Fitri: Agama Dan Puasa Mewujudkan Kekuatan Fitrah Manusia"

Post a Comment