Muhasabah Ramadlan: Mbah Tamam Dan Analogi Zaman Pada Tubuh Manusia


Oleh Ubaidillah Achmad
Berikut ini hikmah singkat dari KH. A. Tamamuddin Munji,  disampaikan kepada khadim majlis kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang. Hal ini dapat menjadi media muhasabah ramadlan terhadap realitas perkembangan manusia yang tercermin pada tubuh manusia. Beberapa cermin tubuh yang digunakan untuk menandai kronologi perkembangan manusia, berupa kepala, leher, dada, perut, kemaluan, dan kaki.

Keenam kawasan ini, dapat dijadikan instrumen: bagaimana membaca sejarah manusia yang akan terus berulang dari atas kepala hingga kaki, dan sebaliknya. Masa pilihan manusia yang mengikuti analogi tubuh akan tergantung pada lingkungan masing masing manusia, baik yang terkait dengan hal yang fisika dan yang metafisika.

Sejarah manusia melalui analogi tubuhnya, telah ditandai dengan dua model zaman keemasan: pertama, keemasan tradisi kenabian yang tidak hanya berkemampuan menghubungkan antara yang fisika dan metafisika, namun juga mampu membuka rahasia hidup dan rahasia kelembutan sinar cahaya kenabian. Kedua, zaman keemasan tradisi filsafat yang telah kuat mencari akar berfikir secara mendasar. Dalam masa ini, para filosof bercita cita kuat untuk mendapatkan kerangka berfikir mendasar hingga seakar akarnya.

Berfikir radikal pada kawasan ini untuk mendapatkan pemahaman hingga mendasar dan mendalam. Berfikir radikal di sini berbeda dengan kehendak radikal untuk merebutkan kekuasaan, seperti yang dilakukan oleh kelompok radikalis agama yang telah dimainkan oleh gerakan komunalisme kehendak kuasa. Fenomena radikalisme kehendak kuasa inilah yang mengancam keselamatan pihak lawan atau keselamatan setiap orang yang berbeda visi dan misi.

Tentu saja, pembacaan ini tidak bersifat muthlak dan tidak menutup pembacaan yang lain untuk membaca fenomena secara tertib tentang kawasan unsur manusia. Yang lebih penting dari tulisan ini, adalah hikmah zaman yang bisa dipahami secara kronologis pada tubuh manusia.

Kawasan kekuasaan Kepala 
Fenomena: "manusia bisa berfikir jernih dan idealis yang memungkinkan dapat menjangkau antara yang fisika dan metafisika. Kajian antara yang fisika dan metafisika ini, telah mewarnai masa awal perkembangan pemikiran manusia."

Analisis:
Jika penulis pahami, maka kawasan ini menandai zaman kenabian dan berfikir kritis para filosof. Kawasan ini yang menandai zaman berpijak para generasi kenabian dan berfikir kritis berikutnya setelah melalui konflik dan pertentangan pemikiran dan kehendak manusia. Hikmah di atas dapat penulis relevansikan dengan sejarah pemikiran manusia yang tidak dapat dilepaskan dari hal hal yang bersifat fisik dan non fisik. Proses berfikir yang seperti ini memerlukan kesadaran manusia yang tinggi.

Kemampuan berfikir memadukan dua sifat di atas, akan membuka cara berfikir seseorang tentang sesuatu yang ada (ontologis). Cara berfikir ini, tidak terikat dengan benar atau salah tentang yang ada, baik yang ada dalam jangkuan manusia maupun yang keluar di alam raya yang menjadi objek berada sejati dengan cara beraktualisasi diri.

Sehubungan dengan cara manusia beraktualisasi ini yang disebut dengan istilah eksistensi. Hal ini sudah berkembang subur pada masa Babylonia (-+ 650 SM). Pada zaman ini, banyak yang melakukan proses berfikir yang integratif, baik antara yang fisik dan non fisik. Kajian tentang yang non fisik ini yang disebut dengan mitos, yaitu cerita tentang tanda atau simbol yang mengaktualkan makna realitas kehidupan yang bersumber dari nilai kebenaran. Misalnya, cerita pewayangan yang mencetuskan pengalaman manusia relasinya dengan ilmu kehadiran, manusia yang melebur menjadi satu dengan alam.

Jadi, akal budi pada zaman Babylonia, tidak hanya digunakan untuk memahami unsur kesemestaan, namun juga digunakan untuk merasakan hal hal yang diluar unsur kesemestaan. Pada masa ini, rasa ingin tahu terhadap fenomena yang terjadi di alam dan di luar alam, yang mendorong perkembangan pemikiran manusia. Misalnya, peristiwa gunung meletus, yang manusia tidak mengetahui jawabannya, maka manusia mereka-reka sendiri, bahwa penunggu gunung yang meletus sedang marah.

Jadi, otak yang bersemayam pada organ tubuh yang berfungsi untuk menterjemahkan fenomena di alam semesta dan di luar alam semesta. Kekuatan awal manusia menggunakan otak ini, telah mewarnai sejarah awal perkembangan pemikiran dan pengembangan keilmuan dari semua perkembangan fenomena berfikir teologis akan menguatkan makna dan tanda yang terdapat pada mitos.

Model penalaran manusia dari perkembangan kawasan unsur kepala ini, telah mampu melakukan abstraksi yang memaparkan hakikat sesuatu. Sehubungan dengan analogi perkembangan ilmu pengetahuan pada kepala, yang paling memberikan kenangan dunia pemikiran hingga kini. Hal ini, menunjukkan berfikir secara positif. Misalnya, berfikir melalui pengamatan, percobaan dan perbandingan yang menggunakan nalar.

Kawasan kekuasaan Leher
Fenomena: "ada dorongan manusia merebut kekuasaan yang dilakukan dengan cara politik kekerasan hingga kebenaran menjadi milik mereka yang berkuasa dan kekalahan akan mati dan terhakimi."

Analisis:
Unsur leher ini menandai adanya sebuah zaman yang berlangsung, telah menghalalkan sikap pembunuhan antar sesama umat manusia. Masa ini tidak mengenal prinsip hidup, bahwa manusia sebagai sosok yang harus dijaga kehormatannya. Masa pada kawasan leher ini mengabaikan, bahwa manusia merupakan unsur tanah yang terbuat rapi dan indah serta terbuat secara sempurna oleh Allah.

Masa ini merupakan cermin dari zaman keemasan para fasis yang ingin menguasai dunia dan menguasai sistem kekuasaan. Masa ini, telah mengemuka menutupi masa keutamaan tradisi kenabian dan filsafat yang ditandai oleh kawasan kepala. Pada zaman yang ditandai dengan zaman leher ini, telah terjadi fasisme politik, bertujuan untuk membangun relasi kuasa yang tidak seimbang. Dalam upaya memperebutkan kekuasaan ini, semua telah dipertaruhkan untuk memperebutkan kursi kekuasaan dan kesenangan nafsu biologis manusia.

Masa yang melewati leher ini merupakan masa gelap, karena telah menutup zaman pencerahan yang dilakukan oleh para Nabi dan para filosof.

Kawasan kekuasaan Dada
Fenomena: "manusia akan kembali pada fitrahnya, ingin kembali pada masa pencerahan dan pembebasan Nabi. Kebanyakan manusia merasakan keutamaan cahaya kenabian yang dapat menjadi instrumen untuk membuka hati manusia memahami ketuhanan dan kemanusiaan."

Kawasan dada membentuk kesadaran hati relasinya dengan Tuhan dan prinsip kemahusiaan. Hal ini disebabkan oleh pengalaman manusia menghadapi hidup yang menyengsarakan seperti yang dialami pada masa Nabi, yang akan terus berada dalam konflik kemanusiaan.

Sumber potensi unsur hati ini, memiliki kesamaan dengan potensi unsur kepala, yang lebih menekankan kepada kebaikan dan keutamaan. Yang membedakan kawasan kepala dan dada, jika semangat manusia pada unsur kepala bermula dari semangat membangun idealisme dan menyatukan antara yang fisika dan yang metafisika. Sedangkan, kawasan dada membentuk kesadaran manusia terhadap bahaya fasisme politik. Potensi dada ini, sering dikenal dengan abad pencerahan umat manusia.

Kawasan kekuasaan Perut
Fenomena: "manusia telah berpihak pada sistem permodalan yang memanjakan kebutuhan perutnya."
Pada masa ini memasuki zaman konflik kemanusiaan, seperti zaman leher, namun lebih menekankan pada kebutuhan perut dan akan selesai setelah terpenuhinya. Jalan yang ditempuh, adalah dengan merebut kekuasaan.

Berbeda dengan zaman leher, yang benar benar mengejar kekuasaan dan mengorbankan harga diri sifat kemanusiaan. Hal ini sering dikenal dengan perebutan kekuasaan murni. Sedangkan, zaman perut, hanya persoalan pembagian kue untuk memenuhi kebutuhan semata mata perut manusia.

Kawasan kekuasaan Kemaluan
Fenomena: "manusia lebih memilih mempertontonkan seks bebas dengan berbagai kedok dan bungkus yang selalu mengiringi kekuasaan dan perjuangan para pejuang sosial, baik dari oknum agamawan maupun oknum aktivis kemanusiaan."

Zaman ini, telah berdirinya tempat penginapan, villa, dan hotel hotel untuk berbuat mesum dan untuk memenuhi kepuasan nafsu al amarah yang penuh dengan gerak syahwat dan dorongan emosi manusia. Masa ini menunjukkan pola hidup secara lebih mengerikan, karena kebanyakan model kejahatan manusia terbungkus dengan kedok moral, kedok agama dan kedok kekuasaan para oknum kelompok tertentu. Dengan adanya bungkus dan kedok ini, sebenarnya tersimpan kehendak yang tersembunyi, yaitu kehendak seks atau kepuasan biologis.

Kawasan kekuasaan Kaki
Fenomena: "manusia lebih memilih kekerasan fisik yang dilakukan secara terbuka oleh kebanyakan orang yang ingin merebut kekuasaan dan mengejar kepentingan."

Masa ini merupakan masa para pemburu kuasa yang sudah tidak menghiraukan kawasan kepala dan dada. Mereka yang menikmati kawasan kaki ini, tidak malu berantem dan ingin menginjak injak pihak yang lain. Dalam kontekps kekuasaan bisa diartikan model untuk merebut kekuasaan yang dilakukan dengan cara saling sepak antar masing masing yang berkehendak untuk memperebutkan sistem kekuasaan.

Sehubungan tinanda tersebut di atas, kita dapat membaca secara silih berganti adanya zaman manusia, yang dimulai dari kepala hingga ke kaki dan sebaliknya. Karenanya, pada setiap zaman ini tidak bisa diukur berapa lama keberlangsungannya.

Setidaknya, dengan tinanda pendek diatas, dapat dipahami keunggulan kawasan dan bagaimana setiap peristiwa dapat diurutkan pada kondisi dan karakter kawasan anatomi tubuh manusia.

Teori Al Ghazzali
Jika memahami perkembangan manusia dari fenomena di atas, maka dapat dibandingkan dengan teks Kimia Kebahagiaan karya Imam Al Ghazzali yang secara langsung memahami struktur manusia dari beberapa unsur kimia kejiwaan yang terdapat pada manusia.

Beberapa unsur kimia kebahagiaan manusia ini sangat menentukan bahagia atau tidaknya seseorang dalam menghadapi realitas kehidupan. Realitas kehidupan dalam pandangan Al Ghazzali akan terancam pada pola materialisme yang berpusat pada kebutuhan perut manusia. Perut ini yang membuat potensi kerja syahwat dan ghadlab menjadi lebih menunjukkan kekuatan sikap negatif manusia.

Dalam kimia kebahagiaan, manusia memiliki unsur: pertama, ruh yang ditiupkan Allah pada jasad manusia. Kedua, Qalb, sebagai sumber potensi rasa empati dan simpati manusia pada prinsip kebenaran dan kemanusiaan. Ketiga, aql, sebagai sumber pembeda terhadap sesuatu yang baik dan yang buruk. Keempat, nafs, sebagai sumer potensi kehendak manusia, baik berupa kehendak yang baik dan kehendak yang buruk.

Dalam kehendak inilah, manusia diperintahkan pada kehendak yang stabil dan tenang, sehingga tidak terjatuh pada kehendak yang buruk. Jika dikaitkan dengan kawasan tanda pada tubuh manusia, maka unsur kimia kebahagiaan ini terdapat pada tanda kepala yang menandai penalaran dan dada yang menandai kesadaran untuk berpihak peda pencerahan dan pembebasan.

Sedangkan, kawasan perut termasuk kawasan yang bersarang kebutuhan syahwat dan gadlab, maka harus ditahan pada kehendak yang stabil atau yang tenang dan penuh kerelaan kepada semua keputusan Allah dan tenang terhadap kehendak yang baik, sehinga tidak terpengaruh hal hal yang negatif.

Sehubungan dengan unsur kimia kebahagiaan perspektif Imam Al Ghazzali, telah ditegaskan dalam syarah arbain Nawawi, bahwa yang harus dikuatkan dalam kerajaan badan manusia, adalah qalb, yang berada di dada manusia. Jika qalb dapat mengendalikan seluruh unsur kerajaan badan manusia, maka manusia akan dapat merasakan kebahagiaan berdialog dengan kehidupannya dengan pendekatan nalar dan prinsip pencerahan.

Tentu saja, kesemua keseimbangan jiwa manusia dan kesempurnaan kepribadian manusia pun, tetap harus mengharapkan Ridlau Allah dan mengikuti jejak hidayah kenabian melalui Nabi Muhammad. Semoga Allah menerima Amal baik KH. A. Tamamuddin Munji dan menjadikan berlangsung jejak perjuangan beliau melalui generasi As Syuffah.


Ubaidillah Achmad, Penulis buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, Dosen UIN Walisongo Semarang, Khadim Majlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang.

Related Posts:

0 Response to "Muhasabah Ramadlan: Mbah Tamam Dan Analogi Zaman Pada Tubuh Manusia"

Post a Comment