KH. A. Tamamuddin Munji: Gelisah Kebhinekaan Indonesia Pasca Gus Dur


Oleh Ubaidillah Achmad
Dalam perkembangan sepuluh tahun terakhir ini, telah banyak informasi tentang gerakan intoleransi dan radikal yang muncul dari komunitas agama. Gerakan ini ditandai dengan sosok yang dikenal menunjukkan gerakan komunalisme atas nama agama Islam, bernama Habib Rizieq dan Bachtiar Nasir (Ketua Alumni Saudi Arabia se-Indonesia). Kedua tokoh ini menjadi idola pelajar dan pengurus Unit Kegiatan Sekolah Kerohanian Islam di beberapa SMA Negeri favorit di Jawa Tengah dan DIY.

Kedua tokoh idola para pelajar ini, telah mencuat pada acara Seminar Hasil Penelitian Agama di Laras Asri Hotel Salatiga yang digelar 29-31 Maret 2017 oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang atau Blas.

Fenomena ini, telah mengejutkan para aktivis gerakan kebangsaan dan kebhinekaan, karena beberapa siswa SMA Negeri setuju untuk mengubah dasar negara Pancasila, memilih pemimpin semata-mata berdasarkan kesamaan agama, serta adanya pemisahan secara tegas antara ikhwan dan akhwat dalam kegiatan keagamaan. Hal ini menunjukkan, bahwa para orang tua telah kecolongan terhadap adanya penyemaian bibit-bibit radikalisme yang tumbuh melalui Rohis.

Fenomena perkembangan intoleransi di lingkungan pelajar kita, juga ditemukan melalui Penelitian Wahid Foundation bekerja sama dengan LSI (2016) dengan sebaran 1.520 siswa di 34 propinsi menyebutkan 7,7 % siswa SMA bersedia melakukan tindakan radikal. Penelitian Setara Institut (2015) terhadap siswa SMA di Bandung dan Jakarta menyebutkan sebanyak 7,2 % setuju dan tahu dengan paham ISIS.

Kebhinekaan Dan Kebangsaan Gus Dur
Fenomena perkembangan agama dan kebangsaan tahun 2016 dan 2017, adalah fenomena yang mengejutkan kita semua. Hal ini disebabkan oleh dua hal: perebutan kekuasaan dengan pendekatan isu komunal dan perebutan kebenaran dengan pendekatan isu agama. Kedua pendekatan ini, yang telah mendorong Gus Dur menandai keberlangsungan gerakan Islam ramah lingkungan. Gerakan Gus Dur ini bertujuan supaya tidak terjadi lagi konflik yang berkepanjangan karena ketidaktahuan warga negara terhadap politik kehendak kuasa dan agama kehendak kuasa.

Modeling Gus Dur ini menandai sejarah pluralisme Indonesia yang menguatkan cakupan makna kebhinekaan dan cakupan makna ideologi pancasila. Sejak timbul konflik politik kehendak kuasa dan agama kehendak kuasa tahun 2016 dan 2017 ini, kita semua dapat merasakan betapa berat pejuangan Gus Dur pada zamannya. Sekarang ini terlihat, bagaimana indonesia tanpa tokoh kebangsaan dan keindonesiaan yang sekaligus menguasai nilai nilai agama agama besar dunia, khususnya Islam. Islam merupakan agama pilihan Gus Dur yang diterimanya sejak berada dalam lingkungan keluarga. Nilai keislaman yang membentuk kepribadian keluarga Gus Dur, adalah agama yang mengajarkan kepasrahan dan kecondongan kepada Allah dan menghargai kemanusiaan.

Sejak tahun 2016 dan 2017, pilar kebangsaan dan kebhinekaan Gus Dur ini terancam kembali oleh komunalitas agama. Sejak era zaman Gus Dur telah menunjukkan betapa berat bersuara tentang tema pluraliame pandangan kebangsaan dan keberagamaan. Benih benih intoleransi ini tumbuh subur sejak Gus Dur wafat dan lebih menguat dahsyat sejak adanya politisasi agama menjadi hidangan yang disuguhkan oleh kelompok kepentingan kepada masyarakat.

Meskipun gerakan Gus Dur sudah menjadi merek kesadaran kewarganegaraan masyarakat Indonesia, namun gerakan ini masih banyak mengalami benturan dengan pihak kelompok kepentingan. Misalnya, pandangan kebangsaan Gus Dur versus pandangan loyalis HTI. Jika dilihat dari prinsip ideologi HTI yang ingin membangun khilafah dalam sistem pemerintahan, maka pemerintah dapat segera bertindak bersama kelompok nasionalis dan Ormas NU yang selama ini sudah terbukti dalam sejarah kemerdekaan bangsa.

Hal yang ironis, justru kesadaran untuk mensikapi hal ini minim semangat dari para aktivis partai nasionalis dan aktivis pergerakan yang beraviliasi kebangsaan. Yang terjadi justru adanya fenomena dari para politisi kebangsaan yang beraviliasi dengan gerakan islamis. Gerakan Islamis adalah sebuah gerakan kelompok umat Islam yang menggunakan Islam sebagai simbol untuk memperebutkan sistem kekuasaan.

Sebagai contoh, adanya sikap tegas Banser terhadap pembubaran HTI, sementara belum ada ketegasan dari ormas kebangsaan terhadap pembubaran HTI. Alasan Banser sudah tegas, karena HTI telah secara terus terang ingin menjadikan khilafah sebagai sistem pemerintahan. Jika gerakan ini kuat, maka akan menjadi ancaman bagi NKRI. HTI sebagai bentuk ancaman NKRI, karena adanya ideologi HTI yang bertentangan ideologi pancasila.

Secara ideologis, HTI menggunakan simbol Islam, namun hanya sebagai simbol untuk memperebutkan sistem kekuasaan dan mengganti ideologi pancasila. Sedangkan, alasan banser NU mendukung ideologi pancasila sebagai ideologi yang sah dalam sistem pemerintahan negara Indonesia, karena ideologi pancasila menggunakan dasar kebhinekaan yang sudah berlangsung secara turun temurun sebagai kearifan para leluhur bangsa Indonesia.

Sikap tegas banser ini berbeda dengan barisan nasionalis yang hingga sekarang belum bersikap tegas terhadap gerakan khilafah yang ingin menguasai sistem kekuasaan. Sebaliknya, banyak informasi sosial media yang menegaskan, bahwa dibalik perkembangan HTI di Indonesia, ternyata ada aktivis dari partai nasionalis. Fenomena ini, telah banyak dilansir oleh media. Misalnya, sebagaimana yang dilansir oleh Jurnalis senior Allan Nairn, dari hasil investigasinya dengan judul “Trump’s Indonesian Allies in Bed with ISIS-Backed Militia Seeking to Oust Elected President”.

Meskipun laporan Allan masih perlu dikaji ulang, namun setidak telah ada yang berani membongkar jaringan sosial politik yang dipertanggung jawabkan dengan data yang memiliki kronologi dan relasi yang rasional. Jika hasil investigasi Allan ini tidak benar, maka sebenarnya para nasionalis dapat bersikap tidak bermain api dengan kelompok radikal dan intolerans.

Gelisah Kebhinekaan Indonesia Pasca Gus Dur
Simpulan dari sub judul ini sudah dapat dibaca sejak masa kepemimpinan Gus Dur menjadi presiden RI. Jika kita membaca gerakan Gus Dur sejak sebelum menjadi presiden, pada saat menjadi presiden dan sesudah menjadi presiden, maka keberadaan Gus Dur akan dapat dirasakan hampir kebanyakan warga negara, yaitu sosok Gus Dur yang mencerminkan sikap berbhineka dalam negara kesatuan RI.

Sikap Gus Dur ini terbentuk dari para leluhurnya yang berhasil mengintegrasikan antara ajaran Islam yang mengajarkan umatnya bertauhid dengan model kearifan lokal yang bersumber dari para leluhur bangsa Indonesia sendiri.

Hasil integrasi ini, telah melahirkan kekhasan Gus Dur melakukan gerakan meretas pemahaman yang dimokratis di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari embrio gerakan demokrasi Gus Dur ini, telah menguatkan kesadaran kewarganegaraan bangsa Indonesia dan menguatkan keberanian warga negara untuk mempertahankan hak hak kemanusiaannya.

Kekhasan gerakan Gus Dur ini, dapat melegitimasi gerakan pluralisme di Indonesia berani bersikap dan berhadapan dengan gerakan intoleransi dan radikalisme agama. Banyak keutamaan dan prinsip etis keberagamaan Gus Dur yang menjembatani pemahaman umat beragama dan umat bernegara. Karenanya, banyak dari para pakar politisi dan aktivis demokrasi mengkhawatirkan pasca wafat Gus Dur akan terjadi kemandegan gerakan toleransi dan Islam ramah lingkungan berhadapan dengan Islam intoleran atau Islam Radikal.

Sehubungan dengan keutamaan dan kekhasan Gus Dur di atas, pernah disampaikan oleh KH. A. Tamamuddin Munji, ketika menerima beberapa ansor dirumahnya untuk menguatkan peran ansor dan banser mengawal masa jabatan presiden Gus Dur berlangsung. Keutamaan dan kekhasan Gus Dur ini pula yang mendorong Kiai Tamam menyiapkan tim khusus untuk mengawal Gus Dur ketika mendapatkan goncangan dari kelompok Islam Radikal dan partai yang mengklaim sebagai partai nasionalis.

Beberapa pasukan khusus yang dikirim Kiai Tamam ini, sepenuhnya menunggu komando dari Gus Dur, namun karena Gus Dur ingin tidak terjadi konflik horizontal, maka tim khusus ini tetap bertahan di sekitar istana hanya bersiap siap sewaktu timbul anarkisme dari kelompok islam radikal. Beberapa hari kemudian, setelah suasana kondusif, Gus Dur memerintahkan semua pasukan khusus kiriman dari kiai NU seluruh indonesia, termasuk dari Kiai Tamam pulang ke pesantren.

Alasan Kiai Tamam, mengapa umat Islam harus membela Gus Dur, karena Gus Dur melanjutkan visi dan misi para Ulama dan Kiai dengan pendekatan pribumisasi Islam. Konsep pribumisasi ini salah satunya, adalah menekankan untuk menjaga kebhinekaan dan menerapkan model kearifan lokal.

Jika Gerakan Gus Dur tidak dipertahankan, maka bukan tidak mungkin indonesia akan menghadapi ancaman dari gerakan radikalisasi agama dan kelompok anti pancasila. Secara sosiologis, pada era Gus Dur belum terbaca gerakan radikal yang seberani pasca Gus Dur ini, sehingga banyak kalangan tidak merisaukannya. Hal ini didasarkan pada persepsi, tidak mudah bagi HTI berkembang dan kuat tumbuh sebagai ormas keagamaan di Indonesia, karena tidak sesuai karakter Indonesia.

Dalam kenyataannya, perspektif sosiologis ini, justru telah membuka peluang untuk semakin meningkatkan kuantitas kelompok Islam Radikal di tengah masyarakat Indonesia. Misalnya, adanya keberanian langkah yuridis yang ditempuh  oleh para aktivis HTI di indonesia.

Sehubungan dengan adanya langkah yuridis yang ditempuh aktivis HTI, maka pemerintah perlu menguatkan ajaran kebhinekaan dan kebangsaan Gus Dur. Gus Dur telah terbukti berhasil menerapkan resolusi konflik lintas budaya untuk penguatan kebangsaan dan kebhinekaan bangsa Indonesia.


Ubaidillah Achmad, Penulis buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, Dosen UIN Walisongo Semarang, Khadim Majlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang.

Related Posts:

0 Response to "KH. A. Tamamuddin Munji: Gelisah Kebhinekaan Indonesia Pasca Gus Dur"

Post a Comment