Simbah KH. Achmad Tamamuddin Moenji Al-Mutamakkin Yang Gigih Pada Pendampingan Sosial Dan Menjaga Marwah NU


Pada hari Rabu, 29 Maret 2017, ribuan masyarakat Rembang memadati desa Sidorejo dan sepanjang jalur utama Pamotan-Rembang dan Pamotan-Gunem, yang kearah menuju ndalem KH. A. Tamamuddin Munji. Pada hari ini, telah kehilangan seorang Ulama kharismatik, yang gigih menjaga tradisi pesantren dan marwah prinsip ajaran Ulama di lingkungan NU, Mbah Tamam memiliki jalur kenasaban dengan Syekh Achmad Al Mutamakkin. Pada setiap buka selambu haul Syekh Achmad Al Mutamakkin, belau sering memimpin tahlil dan doa di sarean Syekh Ahmad Al Mutamakkin di desa Margoyoso Kajen Pati.

Sehubungan dengan kepergian Mbah Tamam, telah banyak fenomena yang dapat dicatat. Ribuan pelayat mengantarkan kepergian KH. Achmad Tamamuddin Munji. Shalat janazah yang tidak berhenti hingga keluarga memutuskan untuk segera diberangkatkan ke pemakaman yang sudah menunggu sejak pukul 16.00 hingga 21.00. Sejak sudah diistirahatkan di sarean pun hingga subuh, masih banyak pelayat yang turut shalat janazah hingga malam yang diselimuti rasa duka masyarakat desa Sidorejo Pamotan Rembang, karena kepergian Mbah Tamam.

Pada saat KH. A. Musthafa Bisri mewakili keluarga menyampaikan kesaksian (Tasyahud) yang diikuti ribuan pelayat, banyak takbir berkumandang bersamaan memberikan kesaksian kepada Kiai Tamam, penuh haru dan terasa banyak yang merasakan, hari begitu cepat bersamaan dengan kembalinya seorang Ulama dihadapan Ar Rahman.

KH. Achmad Tamamuddin Munji, adalah salah satu di antara Ulama Rembang yang sudah banyak memberikan kenangan pendampingan kepada masyarakat. Selain telah istiqamah merawat majlis selapanan pengajian bulanan di Rembang, beliau dengan gigih mempertahankan model pembelajaran tradisi pesantren dengan sistem salafiyah. Model pembelajaran sistem salafiyah ini, kini mulai dirindukan kembali di tengah masyarakat transisional dari agraris menuju industrialisasi.

Selama ini, Mbah Tamam masih tetap bertahan dengan model kajian kitab kuning, yaitu model kajian terhadap kitab klasik abad pertengahan yang bersumber dari Madzhab empat dan menguatkan pada salah satunya, seperti Madzhab Syafi'i. Selain itu, dalam ilmu kalam merujuk pada konsep dan sanat asy'arian. Model ini, yang telah diwasiatkan kepada para santri untuk teguh menjaganya melewati setiap perkembangan ilmu pengetahuan. Sedangkan, dalam bidang tasawuf merujuk keilmuan Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazzali.

Menjaga Marwah Pendampingan Sosial
Mbah Tamam gigih menjaga prinsip kebenaran, pembebasan dan pencerahan yang mencerahkan umat. Misalnya, beberapa keputusan yang terkait dengan kemaslakhatan umat, beliau tetap gigih menjaganya. Karenanya, meskipun subjek dampingan Mbah Tamam berbeda dengan keluarga dan orang orang terdekat, beliau tetap memilih perspektif kebenaran yang telah diteguhkan kepada subjek dampingan. Fenomena ini, selain membuat lega subjek dampingan berhadapan dengan pihak yang merasa dekat dengan Mbah Tamam.

Tentu saja, tidak mudah menghadapi orang orang terdekat yang berbeda, namun karena sifat keteguhan Mbah Tamam, justru membuat santri, alumni, jamaah dan masyarakat percaya penuh pandangan dan sikap keberpihakan Mbah Tamam kepada prinsip kebenaran. Hal yang sama ditegaskan oleh Mbah Mustafa, panggilan akrab KH. A. Mustofa Bisri, bahwa kehadiran Kiai Tamam telah turut menguatkan sikap umat Islam untuk turut menandai prinsip kebaikan dan kelangsungan risalah kenabian yang di syiarkan melalui pribumisasi Islam Walisongo dan para sesepuh tradisi pesantren di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Pada hari senin, 03 April 2017, bertepatan dengan hari ketujuh wafat KH. A. Tamamuddin Munji, Gus Qayyum, panggilan akrab KH. A. Qayyum Mansyur, yang juga masih saudara Mbah Tamam, dari jalur kenasaban Syekh Ahmad Al Mutamakkin menegaskan, bahwa Mbah Tamam termasuk seorang Ulama yang gigih melakukan nasyrul 'ilmi (pengembangan Ilmu) sejak di Kajen di Madrasah Mathaliul Falah Kajen.

Selain itu, jika dibaca dari kisah perjalanan dakwah Mbah Tamam hingga ke Rembang, sebelum ke Rembang, bertepatan dengan berdakwah di desa Sidorejo Pamotan Rembang, Kiai Tamam juga sudah memberikan dampingan keberagamaan di Kajen Margoyoso Pati yang menjadi basis lingkungan Pesantren Raudlatul Ulum. Pesantren Raudlatul Ulum, adalah pesantren pertama di kajen dari garis Syekh Ahmad Al Mutamakkin yang pernah mengalami transisional dan berkembang lagi sejak diteruskan Kakak KH. A. Tamamuddin Munji, yang bernama: KH. A Fayumi Munji, sekarang di teruskan KH. A. Ismail Fayumi dan KH. Abdullah Umar Fayumi.

Kisah unik Mbah Tamam, sebagaimana dikisahkan oleh putra beliau, Ubaidillah Achmad, Dosen UIN Walisongo Semarang, di antaranya: pertama, setelah selesai studi S2 UIN Walisongo, Gus Ubaid mencoba terjun di partai politik PKB era Gus Dur di Kab. Rembang. Dalam kiprah politik ini, baik secara struktur dan kultur basis massa telah mendapatkan tempat yang strategis secara hitam putih. Namun demikian, suasana politik terkait dengan kiprah Gus Ubaid dalam perspektif Mbah Tamam justru menolak Gus Ubaid, sehingga tidak mendapatkan tempat di partai politik. Sebagaimana alasan Mbah Tamam, beliau ingin Gus Ubaid berada di tengah masyarakat bebas dari kelompok kepentingan. Dengan demikian, bisa lebih leluasa memberikan dampingan kepada masyarakat.

Kedua, Mbah Tamam merupakan sosok yang hati hati dan menghindari sikap mengedepankan kepentingan pribadi dan keluarga. Misalnya, pernah terjadi rapat pengurus masjid desa sidorejo mengusulkan, agar salah satu putra beliau memberikan khatbah jumat di Masjid Al Mubarak desa Sidorejo, namun mendengarkan usulan ini, Mbah Tamam dengan tegas menolaknya dan memilih beberapa tokoh masyarakat dampingannya yang lebih mumpuni, baik dari segi usia dan kiprahnya di masyarakat. Hal ini menunjukkan, bahwa Mbah Tamam tidak memandang kedekatan keluarga sebagai orang yang harus dipercaya untuk mengganti peran pendampingan beliau.

Ketika ada salah satu santri alumni bertanya, mengapa tidak menunjuk putra untuk mewakili memberikan pendampingan kepada masyarakat? Jawaban beliau dengan tegas, semua akan kembali kepada masyarakat dan kemanfaatan pendampingan yang dirasakan masyarakat akan berdampak langsung kepada setiap orang. Dengan demikian, seseorang tidak perlu mempromosikan anak sendiri, karena akan kembali kepada kemanfaatan seseorang di tengah subjek dampingan.

Ketiga, pernah ada salah satu dari alumni menceritakan tentang respon positif masyarakat terhadap putra Mbah Tamam, Mbah Tamam spontan tidak meresponnya dan mengalihkan tema perbincangan memgarah pada tema yang lain.

Sehubungan dengan model pendampingan tersebut, telah menunjuukan kegigihan Mbah Tamam pada proses pencerahan dan pembebasan kepada subjek dampingan atau  masyarakat. Artinya, pendampingan itu tidak dilihat dari upaya memperoleh keuntungan pribadi, namum harus dilihat dari bagaimana membangun kemaslakhatan kepada masyarakat atau subjek dampingan.

Yang unik dari selama kiprah KH. A. Tamamuddin Munji, yaitu selama menjadi rujukan sikap politik masyrakat, beliau tidak pernah mempromosikan putra beliau untuk mendaftarkan diri berebut kursi kekuasaan, namun mempercayakan kepada subjek dampingan yang lain. Karena netralitas Mbah Tamam dari kepentingan politik pribadi,justru telah memposisikan beliau mendapatkan kemuliaan yang tinggi di sisi masyarakat, baik di tengah masyarakat yang sejalan dalam konteks agama, budaya, politik dan di tengah masyarakat yang tidak sejalan.

Dalam konteks sosial keagamaan, KH. A. Tamamuddin Munji pernah menjabat sebagai Rais Syuriah NU kab Rembang dan Ketua MUI Kab. Rembang. Semangat beliau mengawal institusi sosial ini sejalan dengan semangat beliau mengawal kultur keberagamaan masyarakat dan warga Nahdliyyin.

Menjaga Marwah Nahdlatul Ulama
Komitmen KH. A. Tamamuddin Munji turut mengawal keberlangsungan Nahdlatul Ulama di Indonesia, sebagaimana yang sering ditegaskan kepada santri dan jamaah, karena NU merupakan salah satu organisasi yang sejak berdiri, telah gigih mengawal pribumisasi Islam di tengah tradisi dan budaya masyarakat Nusantara. Yang sekarang ini visi pergerakan NU lebih dikenal dengan istilah visi membangun peradaban Islam Nusantara.

Dari catatan alumni, beliau gigih memperjuangkan visi dan Misi NU, karena NU merupakan wadah umat Islam yang masih menjaga ilmu para Ulama abad pertengahan yang merujuk pada primsip ajaran Al Quran, Hadis, Ijma dan Qiyas. Prinsip ini merupakan prinsip ajaran agama Islam yang bersumber dari pandangan ulama fiqh dari madzhab empat, Ulama Asy'ariyah dan Ilmu Tasawuf Al Ghazaliyah.

Kepada beberapa alumni yang telah belajar dan bekerja di kota besar, Mbah Tamam selalu berpesan, agar tetap menjaga prinsip pemikiran yang dipertahankan di lingkungan tradisi pesantren salafiyah dan NU. Hal yang sama juga beliau tegaskan di beberapa pengajian majlis selapanan di hampir seluruh desa kec. Pamotan dan Kec. Gunem kab. Rembang. Prinsip keberagamaan yang diajarkan di majlis selapanan ini mengacu pada sumber rujukan yang tetap berpegang pada kitab karya Ulama klasik yang menjadi rujukan Nahdlatul Ulama.

Majlis selapanan ini dibentuk Kiai Tamam melalui perintah dari KH. Abdullah Hafidz (Ayahanda KH. Wahab Hafidz) dan KH. Bisri Musthafa (Ayahanda KH. A. Musthafa Bisri). Jadi, majlis selapanan ini sudah berlangsung sejak Guru Besar Ulama NU, yaitu KH. Bisri Musthafa dan KH. Abdullah Hafidz. Kehadiran KH. A. Tamamuddin Munji di Rembang didasarkan pada komitmen mengikuti jejak Ulama NU, seperti jejak keilmuan yang diajarkan oleh KH. Bisri Musthafa dan KH. Abdullah Hafidz.

Hingga sekarang, Majlis selapanan ini masih berlangsung di dua kecamatan yang langsung melibatkan pengurus Fatayat dan Muslimat organisasi Islam Nahdlatul Ulama. Sebelum KH. A. Tamamuddin Munji Wafat, dua bulam sebelumnya sudah memberikan isyarat kepada putra beliau, yang bernama Ubaidillah Achmad (Gus Ubaid), bahwa beliau tidak lama akan memenuhi panggilannya. Bersamaan dengan isyarat ini, beliau berpesan agar Gus Ubaid bersabar mendampingi putra beliau yang terakhir, bernama: Gus Humam (Humam Najah).


KH. Muad Thahir Kajen, pada saat menghadiri peringatan tiga hari Wafat KH. A. Tamamuddin Munji, berkisah kembali kepada keluarga, bahwa Kiai Muad pernah menerima pesan Mbah Tamam, agar dicarikan pengganti pembawa bacaan tahlil pada acara haul Syekh Ahmad Al Mutamakkin, yang sejak KH. Sahal Mahfudz sudah sering dipimpin oleh Mbah Tamam. Selain itu, sehari sebelum wafat, Mbah Tamam dawuh kepada Gus Humam, "ini sudah saatnya yang sabar dan ikhlas". Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiu-n, sugeng kundur Mbah Tamam bersama Syekh Ahmad Al Mutamakkin.

Related Posts:

0 Response to "Simbah KH. Achmad Tamamuddin Moenji Al-Mutamakkin Yang Gigih Pada Pendampingan Sosial Dan Menjaga Marwah NU"

Post a Comment