KH. A. Tamamuddin Munji: Filosofi Pendampingan Keberagamaan dan Rahasia Ketauhidan


Banyak pengalaman pendampingan yang bisa kita kaji untuk penguatan nilai keutamaan dalam tradisi pesantren. Salah satunya, adalah penguatan nilai yang bersumber dari KH. A. Tamamuddin Munji, yang baru meninggalkan kita dalam usia 87, sejak 29 Maret 2017. Beliau meninggalkan dua putri dan lima putra, salah satunya Ubaidillah Achmad penulis buku: 1) Suluk Kiai Cebolek Dalam Konflik Keberagamaan dan Kearifan Lokal. 2) Islam Geger Kendeng Dalam Konflik Ekologis Dan Rekonsiliasi Akar Rumput.

Mbah Tamam merupakan putra KH. Abdullah Munji Bin KH. Abdullah Ismail. Dari Istri KH. Abdullah Ismail ini bersambung hingga Syekh Ahmad Al Mutamakkin. Sejak Kiai Ismail wafat, Kiai Munji masih kecil. Hal yang sama, Kiai Munji Wafat, Mbah Tamam juga masih usia Yatim. Bersamaan dengan anugrah Allah dan kegigihan Mbah Tamam, bisa meneruskan jejak Marwah leluhurnya yang gigih melakukan pengembangan keilmuan di desa Kajen Margoyoso Pati. Karenanya, seluruh santri Mbah Tamam, ketika sudah lulus dari pesantren diharuskan melakukan khataman Al Quran di Sarean Syekh Ahmad Al Mutamakkin Kajen.

Berikut ini pengalaman pendampingan Mbah Tamam dari hasil wawancara dengan Ubaidillah Achmad, dosen UIN Walisongo Semarang, yang berhasil Ar Rahmah himpun. Pernah suatu ketika, kira kira bulan oktober 2013, Mbah Tamam menanyakan banyaknya tamu dihalaman rumah As Syuffah, belakang Masjid Al Mubarak desa Sidorejo Kecamatan Pamotan Kab. Rembang, setiap Sabtu sore hingga maghrib. Pertemuan rutin ini berlangsung hingga 7 bulan selama tahun 2013.

Sebelum menjawab pertanyaan ini, penulis buku Suluk Kiai Cebolek, penuh kekhawatiran menjawab, bahwa pertemuan itu merupakam acara diskusi rutin setiap hari Sabtu, yang bertema kesemestaan atau seputar kosmologi. Dalam diskusi ini selain mengkaji teks klasik tentang kealaman, juga mengkaji konteks yang terjadi di lingkungan masyarakat Rembang, yaitu rencana pendirian industri semen. Sehubungan dengan jawaban ini, telah terjadi diskusi serius perspektif tradisi menjawab persoalan masyarakat rembang versus industri semen.

Sebagaimana dijelaskan oleh penulis Islam Geger Kendeng, sehubungan dengan masyarakat rembang versus semen, Mbah Tamam tidak berkomentar dan terlihat diam. Meskipun demikian, ada beberapa perspektif sosiologis yang berhasil dikaji oleh khadim PP. As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang, yaitu seputar filosofi pendampingan keberagamaan dan rahasia ketauhidan.

Berikut ini hasil kajian yang berhasil dihimpun oleh tim investigasi Arrahmah:

Filosofi Pendampingan Keberagamaan
Dalam perspektif Mbah Tamam, model pendampingan keberagamaan itu memiliki keunikan tersendiri. Model ini bisa diintegrasikan dengan kearifan lokal masyarakat. Karenanya, jika pendampingan keberagamaan mengabaikan kearifan lokal masyarakat, maka akan menjadi langkah pendampingan yang kontra produktif.

Seringkali model agama dan budaya itu berbeda dengan sistem kekuasaan dan permodalan yang lebih terpusat pada para pengendali sistem kuasa dan sistem kapital. Sehubungan dengan fenomena ini, model pendampingan kepada masyarakat yang paling efektif untuk merubah peradaban masyarakat, adalah dapat dilakukan dengan pendekatan agama dan budaya.

Namun demikian, tegas Mbah Tamam mengutif konsep Syekh Ahmad Al Mutamakkin, sebaiknya pendampingan keberagamaan tidak melalui jalur sebagai tangan panjang sistem kekuasaan dan tidak berbenturan dengan sistem kekuasaan. Selain itu, yang perlu diperhatikan, adanya fenomena banyak kelompok kepentingan yang tega ingin membenturkan masyarakat dengan masyarakat, namun jangan sampai sebuah gerakan keagamaan itu berbenturan dengan masyarakat. Karenanya, tokoh agama harus mewaspadai kelompok yang ingin membenturkan tokoh agama dengan masyarakat.

Dalam konteks lingkungan lestari, masih dalam nasehat Mbah Tamam, semua umat manusia berkewajiban menjaganya. Yang menjadi persoalan, bagaimana menjaga lingkungan lestari? lebih lanjut Mbah Tamam menegaskan, "kamu yang memahami lapangan, yang tidak boleh kamu abaikan adalah model pendampingan keberagamaan, karena itu amanah dari Mbah Mutamakkin," tegas Mbah Tamam kepada penulis Islam Geger Kendeng.

Yang perlu dipahami, lanjut Mbah Tamam, sebaiknya pendampingan agama harus bisa membedakan antara model pendampingan kepada mereka yang berada di sistem relasi kuasa dan kepada mereka yang berada di luar sistem relasi kuasa. Kedua model pendampingan ini sebagai bentuk konsekuensi untuk memahami subjek dampingan yang tidak terbatas hanya kepada mereka yang berada di sistem kekuasaan.
Ulama Rembang KH. Mustofa Bisri menghadiri pemakaman KH. A Tamamuddin Munji

Cara yang harus di tempuh dalam memberikan pendampingan kepada mereka yang senang berada pada sistem kekuasaan, adalah dengan cara: menjaga jarak, tidak menjadi tangan panjang kekuasaan, terus sharing dan menguatkan potensi masyarakat korban, bersikap konsisten menyuarakan prinsip kebenaran, mengajarkan etika dan nilai keutamaan kepada umat.

Jika di tengah masyarakat terjadi ketidaksepahaman yang berujung pada "gejolak demokratisasi", maka peran pendamping berperspektif agama harus tetap berada dalam koredor akhlak al karimah. Secara spesifik, bagaimana bisa terbangun relasi kuasa yang seimbang tanpa menimbulkan korban kemanusiaan. Tujuan dari relasi kuasa yang seimbang, adalah tercipta peradaban kenabian dan kemanusiaan.

Selain itu, perlu memahami dampak dari relasi kuasa yang tidak seimbang, yaitu kemumculan varian masyarakat korban yang berbeda beda. Masyarakat dari dampak relasi kuasa yang tidak seimbang, telah membentuk identitas yang berbeda beda. Misalnya, masyarakat paguyuban petani desa, miskin kota, marjinal, dan gerakan keagamaan yang menjaga jarak dengan sistem kekuasaan.

Jika dipahami dari gagasan masyarakat korban relasi kuasa yang tidak seimbang, maka akan didapatkan banyak pandangan tentang gerakan yang bermanfaat bagi lingkungan, namun tidak mendapatkan respon dari pihak penguasa. Dalam konteks hak kewarganegaraan antara mereka yang berada di lingkaran sistem dan di luar lingkaran sistem, sebenarnya sama, namun banyak yang membedakannya. Misalnya, mereka yang berada pada siatem kekuasaan untuk memperebutkan kemapanan dan mengunggulkan diri sebagai masyarakat yang unggul dan maju.

Selain itu, bagi yang berada di lingkaran sistem kekuasaan banyak yang tidak memperhatikan masyarakat yang berada di luar lingkaran kekuasaan, sehingga mereka yang berada di luar lingkaran kekuasaan seperti komunitas terasing. Dalam konteks sosiologi sering disebut dengan masyarakat transisional. Peran individu yang berada di tengah masyarakat transisional ini sering diabaikan oleh pihak penguasa. Mereka ini, adalah komunitas yang sering dipandang berada di antara dua model masyarakat, yaitu masyarakat yang masih ingin bertahan dengan sistem agraris dan masyarakat yang terpaksa harus mengikuti perkembangan industrialis.

Sehubungan dengan adanya masyarakat transisional tersebut, hanya pendekatan agama dan budaya yang bisa dipercaya oleh mereka. Alasannya, agama dan budaya mengajarkan nilai keutamaan yang sekaligus dapat menguatkan keseimbangan psikis dan relasi keberagamaan sesama masyarakat yang terpinggirkan versus siatem relasi kuasa yang tidak seimbang.

Jika tidak ada agama dan budaya, masyarakat akan kehilangan visi dan misi kebenaran versus penguasa yang menggunakan segala cara untuk memaknai kebenaran. Kebenaran bagi penguasa hanya yang bersumber dari kepentingan yang tersembunyi di balik ajaran moral penguasa. Hal yang sama, juga terjadi pada sistem permodalan.
Suasana pemakaman KH. A Tamamuddin Munji

Rahasia Ketauhidan
Dalam pandangan Mbah Tamam, bahwa makna ketauhidan tidak hanya dapat dicakup dengan pengetahuan atau ikrar keyakinan seseorang. Makna ketauhidan memerlukan fondasi kesadaran sikap berikut ini: pertama, selalu berharap kepada Allah. Kedua, merasakan kekhawatiran diri yang jauh dari Allah karena tercerabutnya anugrah Allah. Ketiga, merasakan cinta yang mendalam kepada Allah melampaui batas keindahan kesemestaan.

Bersikap selalu berharap kepada Allah hampir menjadi keinginan kehidupan seorang hamba. Hal yang sama, kondisi seseorang yang merasakan kecemasan juga akan muncul di saat manusia mangalami kesulitan. Berbeda dengan Fondasi cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah memerlukan pengorbanan yang tinggi, yang tidak mudah dilakukan oleh setiap orang. Banyak orang yang ingin menguatkan rasa cinta kepada Allah, namun selalu terhalang oleh godaan materi duniawi. Tentu saja, jika hati seseorang tidak terhalang oleh materi, maka akan mudah merasakan cinta kepada Allah.

Dengan kata lain, banyak rasa cinta kepada Allah yang terhalang oleh materi, sehingga banyak yang tidak bisa membedakan cinta yang tulus dan cinta yang tidak tulus. Oleh karena itu, boleh jadi sesuatu yang tidak disukai manusia, ternyata lebih baik bagi manusia. Sebaliknya, sesuatu yang  dicintai manusia, justru lebih berbahaya bagi manusia. Hal yang demikian ini, adalah bagian dari rahasia Allah, yang tidak diketahui manusia.

Karenanya, cinta terhadap materi itu sekaligus merupakan bentuk kelemahan manusia. Hal ini terlihat dari pengalaman manusia ketika sedang mencintai materi, maka akan kehilangan rasionalitasnya. Hal yang sama, jika manusia sedang dimabuk asmara, maka akan bersikap merasakan paling benar, namun sesungguhnya merupakan sikap yang tidak rasional. Misalnya, dapat dibaca pada kisah Liala dan Majnun.

Sehubungan dengan keistimewaan rasa cinta kepada Allah yang sulit dirasakan manusia, maka kebanyakan para salik selalu menyertakan perjuangan melawan penghalang cinta, yaitu sikap materialistik. Imam al-Ghazaly (1058-1111 M) menempatkan rasa cinta kepada Allah akan dapat dirasakan manusia, jika tidak dihijab rasa cinta selain Allah. Hal ini yang menjadi alasan Imam Al Ghazzali melakukan Uzlah, dengan tujuan untuk merasakan hakikat cinta dan ilmu kasyf yang membuka ilmu al-rububiyah. Selain Imam Al Ghazzali, Mbah Tamam menyampaikan, bahwa banyak sufi yang menempuh jalan cinta kepada Allah, di antaranya: Rabi'ah binti Ismail Al-Adawiyah Ak Basriyah (713-801 M/95-185 H).

Dalam pesan Mbah Tamam melalui diskusi berdua dengan penulis Islam Geger Kendeng, adalah sikap yang perlu dihindari bagi mereka yang memasuki kawasan studi tasawuf. Misalnya,  bagi seseorang yang sudah belajar tasawuf, jangan sudah merasakan bertasawuf.

Alasannya, bertasawuf memerlukan tahapan rasa, asa dan fikiran yang teguh berada dalam kehendak Allah dan mengikuti keputusan Allah. Hal hal yang menghambat bertasawuf, adalah sikap seseorang yang kemasukan riya, sum'ah, dan takabbur.

Jalan yang harus ditempuh untuk menghindari sifat buruk ini, adalah dengan menguatkan rasa cinta yang dikelola secara nalar dan rasional sesuai dengan hidayah Al Quran, hidayah Nabi, dan firasat para Ulama yang shaleh dan mengamalkan ilmunya. Berat terasa berpisah sementara waktu dengan Mbah Tamam, namun kami akan mengikuti keputusan Allah, Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiuun.


Disusun Tim Redaksi Arrahmah

Related Posts:

0 Response to "KH. A. Tamamuddin Munji: Filosofi Pendampingan Keberagamaan dan Rahasia Ketauhidan"

Post a Comment