Serawung Kaum Muda: Bergerak Untuk Visi Keberagaman Dan Kebangsaan

Simbolik harmoni dalam keragaman oleh para tokoh agama pada 05 Maret 2017

Serawung Kaum Muda: Bergerak Untuk Visi Keberagaman Dan Kebangsaan*
Oleh Ubaidillah Achmad

Fenomena kemunculan gerakan intoleransi dan radikalisasi dalam satu tahun terakhir, pada tahun 2016 ini, telah menunjukkan sikap euforia gerakan intoleran dan radikal, yang seakan tanpa kendali dari aparat. Fenomena ini terbaca dari kemunculan gerakan intoleran dan radikal menentang aktivitas keberagamaan dan kebudayaan yang dianggap bertentangan dengan kepentingan ideologis atas nama agama. Meski dalam momentum tertentu kepentingan ideologis atas nama agama ini menunjukkan sikap yang bertentangan dengan prinsip keragaman (kebhinnikaan), namun tetap saja masih dibiarkan bersikap konfrontatif terhadap keragaman bangsa.

Dalam konteks tertentu, meskipun kelompok intoleran dan radikal melakukan kehendak paksa terhadap setiap yang berbeda, namun hingga sekarang justru bebas tumbuh menjamur seperti rerumputan di musim penghujan. Adanya perkembangan kelompok intoleran dan radikal ini, adalah bentuk perkembangan yang telah mengancam kebhinekaan dan demokrasi yang mulai berjalan baik sejak Gus Dur menjadi presiden RI.

Jadi, perkembangan kekerasan atas nama agama ini bukan merupakan bentuk perkembangan kekerasan yang bersifat isapan jempol, karena sudah pada tataran benar benar menunjukkan sikap mengganggu ketentraman warga negara melaksanakan hak keyakinan, hak beragama dan hak menjaga kearifan lokal. Hak hak ini merupakan wujud keragaman yang senafas dengan prinsip kebhinnikaan bangsa Indonesia. Yang menjadi persoalan justru mendapatkan pertentangan dari kelompok ideologis atas nama agama. Sementara itu, mayoritas umat beragama dari lima agama di Indonesia sudah sepakat menjadikan ideologi pancasila sebagai dasar ideologi bangsa. Ideologi Pancasila ini pula yang mengesahkan sistem keragaman yang sudah menjadi tradisi leluhur bangsa Indonesia.

Sehubungan dengan adanya gerakan intoleran dan radikalisme ini, telah masuk dan menginfiltrasi institusi pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menengah. Jika kemlompok intoleransi dan radikalisme ini dibiarkan atau tidak segera dihentikan oleh pihak pihak yang berwenang, maka qkan membuka peluang kelompok gerakan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) memanfaatkan kondisi psikis masyarakat yang berhasil dalam rayuan kelompok intoleran dan radikal untuk memperkuat ISIS di Indonesia. Tentu saja, karena ini sebuah refleksi dari pengamatan sementara, maka masih memerlukan penelitian yang mendalam dari para pihak akademisi dan pihak intelejen yang kompeten dan bekerja untuk NKRI.

Apa relevansi tema intoleransi dan radikalisme dengan kaum pemuda bangsa ini? relevansi intoleransi dan radikalisme dengan kaum muda, adalah adanya upaya gerakan intoleran dan radikal yang menggunakan kaum muda sebagai alat atau instrumen visi dan misi gerakan ideologi fasis atas nama agama. Setidaknya, data data selebaran berita di sosial media, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif atau model gerakan yang anti keragaman dan mereka yang mengukur keragaman dengan kehendak kelompok sendiri, banyak yang berwajah pemuda.

Sebagai contoh, terlepas dari arah visi FPI dan HTI yang masih memerlukan penelitian dari para akademisi dan intelejen, demo yang dilakukan oleh FPI dan gerakan khilafat yang dilakukan oleh HTI, juga banyak melibatkan kaum muda. Kaum muda merupakan alat yang efektif untuk menjadi instrumen menyerukan sebuah tuntutan, baik berupa tuntutan yang baik maupun buruk, tuntutan yang politis dan yang non politis.

Jika diamati, gerakan sosial dan keagamaan yang melibatkan anak muda, hampir melibatkan dukungan anak muda yang berada dalam usia produktif bersamaan dengan adanya ledakan jumlah penduduk usia produktif di Indinesia. Kaum muda merupakan masa depan Indonesia yang akan menjadikan demografi sebagai bonus pembangunan. Kaum muda tidak hanya dominan dari sisi demografi, namun juga mengisi deret hitungan berkatagori mayoritas dalam elektoral dan sebagai generasi milenial.

Karenanya, perlu ada gerakan mulia yang juga dari kaum muda untuk melakukam perlawanan secara damai melawan intoleransi dan radikalisasi yang mengatasnamakan agama. Sehubungan dengan alasan ini, Gerakan kaum muda melawan intoleransi dan radikalisasi ini telah menemui momentum yang akan digelar dalam program serawung kaum muda melawan Intoleransi dan radikalisme atas nama agama. Kegiatan ini akan dilaksanakan 5 Maret 2017 yang melibatkan lintas Imanse jawa tengah. Dalam serawung kaum muda ini, akan menghadirkan berbagai tokoh lintas iman, pejabat pemerintah, akademisi dan aktivis lingkungan dan kemanusiaan.

Teks Sumpah Pemuda
Dalam diskursus sejarah dan sastra indonesia perlu mengkaji lebih mendasar terhadap teks sumpah pemuda. Dengan demikian, sumpah pemuda tidak hanya diartikan dari satu aspek saja, yaitu sebagai semangat tekad pemuda membentuk pandangan dan sikap nasionalisme. Dengan demikian, setiap kajian terhadap sumpah pemuda yang dilihat dari berbagai aspek ini akan menambah khazanah nilai nilai keutamaan dan sikap luhur para pemuda dan generasi penerus bangsa Indonesia.

Sehubungan dengan perlunya kajian ini, karena dilatar belakang adanya konflik anak bangsa yang didominasi oleh para pemuda. Isu yang menjadi bahan bakar emosi para pemuda selalu dikaitkan dengan agama dan nasionalisme. Yang menjadi ironi, justru dengan isu agama lebih mengarah pada sikap yang mengancam kerusakan tatanan keberagaman dan isu nasionalisme, juga lebih mengarah pada sikap yang mengancam kerusakan tatanan hidup berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu, dengan mengkaji teks sumpah pemuda diharapkan dapat menguatkan kembali sendi sendi keragaman dan kebangsaan yang hendak dirapuhkan oleh pihak pihak yang tidak bertanggung jawab yang ingin menjadikan pemuda sebagai alat kehancuran keragaman dan kebabgsaan. Alasan yang mendasar, jika keragaman dan kebangsaan ini rusak, maka secara otomatis akan merusak negara kesatuan indonesia.

Adapun relevansi adanya kajian terhadap teks sumpah pemuda dengan tema ini, karena bagi penulis sumpah pemuda dapat menjadi tonggak sejarah menguatkan bangunan kergaman dan kebangsaan yang sudah tertanam oleh para leluhur bangsa Nusantara. Hal ini, telah dibuktikan dengan adanya konsep Bhinika Tunggal Ika. Meskipun konsep keragaman dan kebangsaan sudah tumbuh subur sejak para leluhur bangsa Indonesia mengenal agama dan kebudayaan, namun jika tidak dirajut kembali nilai nilai luhur ini, maka akan membuka peluang terjadinya konflik desintegrasi bangsa.

Sebenarnya, jika para pemuda membaca sumber ancaman terhadap keragaman dan kebangsaan, maka akan sangat mudah disimpulkan. Misalnya, sumber ancaman yang sengaja dilakukan oleh mereka yang merasa terganggu melakukan upaya peningkatan sistem permodalan di negera Indonesia (kapitalisme). Sudah tidak menjadi rahasia umum, para pemodal lebih suka pemerintahan yang dikendalikan oleh sistem kapitalisme. Hal ini bisa terjadi, jika para pemimpin hanya mengejar kekayaan dan kekuasaan semata. Sebaliknya, jika pemimpin tidak bisa dimainkan dengan sistem kapital, maka secara otomatis akan mengancam kapitalisme dunia.

Sekarang ini, Indonesia yang bersatu dipimpin oleh Bapak Presiden Joko Widodo, yang bersih dan nasionalis adalah mimpi buruk bagi para kapitalis internasional. Karena alasan ini, kapitalisme dunia akan terus bersikap memecah belah nilai nilai keragaman dan kebangsaan. Misalnya, dengan memunculkan isu sektarian agama, suku dan ras. Hal ini menjadi pintu masuk yang dianggap efektif oleh para kapitalisme dunia untuk membuat perpecahan dan kehancuran bangsa.

Oleh karena itu, perlu membentuk kesadaran bersama, bahwa sistem kapitalisme internasional lebih suka berhadapan dengan pemerintahan korup karena bisa dijinakkan dengan uang, sebab  pemerintah yang bersih akan sulit dijinakkan, sehingga akan menjadi duri dalam daging bagi para kapitalis.

Jadi, sudah dapat dibaca wajah sistem kapital akan mengalami kerugian besar dengan adanya pemerintah yang bersih dan tidak dapat dimainkan dengan cara cara kapital. Karenanya, para kapitalis memainkan anak bangsa dengan cara cara licik, seperti mengadu domba antar anak bangsa yang dapat mempengaruhi sistem pemerintahan bersih hancur. Meskipun demikian, langkah yang strategis bagi anak negeri, adalah tidak perlu takut menghadapi sistem kapitalisme.

Langkah strategis melawan ancaman para kapital yang ingin meruntuhkan sistem pemerintahan bersih, adalah dengan membangun lebih kokoh lagi fondasi keberagaman dan kebangsaan. Alasan yang sangat mendasar, akan menjadi sikap kurang bijak, apabila membaca sumber ancaman dan mengabaikan potensi nilai nilai luhur kebangsaan, yaitu makna Bhinneka Tunggal Ika. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Diterjemahkan per kata, kata bhinneka berarti "beraneka ragam" atau berbeda-beda.

Frase Bhinneka Tunggal Ika, dapat juga bermakna dengan adanya beraneka ragam perbedaan agama dan budaya, namun tetap dalam kesatuan bangsa Indonesia. Konsep ini, telah dikuatkan kembali pada saat keragaman dan kebangsaan kita terancam oleh cara cara penjajah yang didukung sistem kapital dan kehendak kekuasaan para penjajah. Hal ini yang menjadi alasan para pemuda saat itu mengumandangkan deklarasi, yang dikenal dengan sumpah pemuda.

Ilham Serawung Kaum Muda
Sudah menjadi pandangan umum, rumusan Kongres Sumpah Pemuda kali pertama ditulis oleh Moehammad Yamin. Alkisah, dengan didasarkan pada penghayatan mendalam terhadap nilai nilai budaya bangsa dan adanya keragaman masyarakat Indonesia, namun masih tetap bersatu menjaga bangsa yang kuat. Artinya, Muhammad Yamin telah membaca adanya potensi konflik bangsa karena terdapat beraneka ragam suku dan bahasa, namun pada saat dihadapkan pada musuh bersama, bangsa Indonesia kembali menjadi satu kesatuan kekuatan yang tidak mudah diadu domba oleh kolonialis dan kapitalisme dunia.

Muhammad Yamin sangat memahami, para kolonialis dan kapitalis akan menguras kekayaan bangsa Indonesia melalui cara cara yang meruntuhkan kebhinnikaan bangsa Indonesia. Sehubungan dengan adanya sikap yang membahayakan dari para kolonialis dan kapitalis ini, telah memunulkan inisiatif untuk diadakan kegiatan kongres bersama pemuda, yang bertujuan membangun kesadaran pemuda menghadapi ancaman kolonialis dan kapitalis. Kongres pemuda ini sudah pernah dilakukan, namun yang berhasil mengeluarkan maklumat sumpah pemuda, adalah Kongres Pemuda Kedua, yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta).

Berdasarkan kongres ini, lalu diadakan peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober pada setiap tahunnya. Yang perlu dipahami, istilah "Sumpah Pemuda" sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya. Sebelum diadakan pembacaan terhadap teks sumpah pemuda, sebelumnya bermula dari Muhammad Yamin yang merefleksikan pembacaannya terhadap kondisi bangsa Indonesia. Alkisah, Muhammad Yamin mengajukan secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo.

Pada saat Muhammad Yamin mengajukan secarik kertas yang berisi sumpah pemuda kepada Soegondo, telah berlangsung orasi kebangsaan yang disampaikan oleh Mr. Sunario. Secarik kertas ini telah direspon positif oleh Soegondo, sehingga langsung membubuhi paraf persetujuan yang diikuti oleh yang lainnya. Setelah sumpah pemuda dibacakan oleh Soegondo, akhirnya Muhammad Yamin mempertanggungjawabkan penjelasan secara panjang lebar dari kalimat sumpah pemuda.

Jika dilihat dari sejarah kolonialis dan kapitalis yang membabi buta untuk menguasai pemerintahan dan disistem perekonomian bangsa, maka menjadi sebuah perjuangan yang sangat berharga bagi anak bangsa yang masih gigih terhadap bangsa para leluhurnya, yaitu bangsa nusantara yang sekarang dikenal dengan Indonesia Raya. Karenanya, tidak berlebihan, jika dikatakan Sumpah Pemuda merupakan bentuk sumpah para pemuda yang dapat menjadi satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Jadi, Ikrar sumpah merupakan wujud kristalisasi semangat anak muda untuk menegaskan berdirinya negara Indonesia yang berdaulat dan berperadaban Indonesia. Indonesia dengan keanekaragaman agama dan budayanya, adalah Indonesia yang berdaulat dan bersatu padu dalam kesatuan bangsa Indonesia, tanah air Indonesia, bahasa Indonesia. Dengan adanya sumpah pemuda ini, maka secara otomatis menegaskan sendi sendi berbangsa Indonesia yang dapat menjadi prinsip setiap kebangsaan Indonesia.

Berikut ini adalah bunyi tiga keputusan kongres tersebut sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda. Penulisan menggunakan ejaan van Ophuysen. Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Brikut teks sumpah pemuda yang benar dengan ejaan baru Bahasa Indonesia saat ini: Pertama, Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kedua, Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Ketiga, Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Jika dianalisis dengan seksama tentang era lahirnya sumpah pemuda dengan pemuda era sekarang ini, maka dapat disimpulkan, bahwa persoalan isu yang dihadapi kaum muda era lahirnya sumpah pemuda ini berbeda dengan persoalan isu yang dihadapi kaum muda sekarang ini. Meskipun demikian, jika dikaji lebih mendalam siapa musuh yang memainkan persoalan kedua isu yang berbeda ini, maka dapat diidentifikasi yang ternyata telah memiliki kesamaan tipologi: pertama, tipologi kolonialisme yang mengedapankan model fasisme politik dengan cara yang berbeda beda. Kedua, topologi kapitalisme internasional yang memainkan perekonomian bangsa di bawah kendali sistem kapitalisme global. Kedua tipologi inilah yang memainkan bangsa Indonesia dengan cara yang berbeda.

Jika kedua tipologi di atas memainkan bangsa indonesia pada era lahirnya sumpah pemuda dengan bersenjata api dan mengadu domba anak bangsa, maka di era kaum muda sekarang ini, kedua tipologi di atas memainkan bangsa indonesia dengan teknologi informasi dan mengadu domba anak bangsa. Sejak awal, anak bangsa yang menjadi incaran mereka, adalah para pemuda terpelajar yang menjadi ujung tombak kemajuan bangsa Indonesia.

Sehubungan dengan pengalaman ini, maka para tokoh lintas iman se jawa tengah, telah sepakat mengadakan kegiatan serawung kaum muda lintas Iman. Karena sekarang ini umat beragama telah diuji adanya adu domba yang dilakukan oleh kedua topologi di atas dengan melalui jalur agama.

Karenanya, banyak konflik yang menggunakan isu agama dan keragaman. Jika hal ini tidak segera mendapatkan jawaban dari komunitas yang merindukan keragaman dan kebangsaan, maka bukan tidak mungkin akan terjadi konflik antar agama yang justru akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Secara real, karena kekuatan kesatuan bangsa Indonesia adalah kebhinnikaanya, maka mereka yang berkepentingan merusak indonesia, telah menjalankan setrategi dengan merusak Indonesia melalu pintu agama dan budaya sebagai pintu gerbong kekuatan kesatuan bangsa Indonesia.

Sehubungan dengan fenomena di atas, maka kerukunan keragaman umat beragama dan kerukunan tradisi kebhinnikaan bangsa indonesia harus tetap terjaga. Dengan demikian, mereka yang bertipologi kolonialis dan kapitalis tidak akan mudah merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang sudah terbangun sejak berabad abad.

Visi Keberagaman Dan Kebangsaan
Indonesia merupakan rumah singgah kita bersama menuju hari kebangkitan. Para pendiri bangsa, telah merancang kawasan yang terbatas pada teritorial dan kondisi geografis yang disebut Indonesia raya. kawasan Indonesia memiliki berbagai paham kepercayaan, keagamaan dan kebudayaan yang dibatasi oleh koridor ideologi pancasila. Dengan Ideologi pancasila, para founding fathers bangsa Indonesia berhasil membangun keragaman masyarakat bangsa untuk membuka diri kepada berbagai ragam kepercayaan dan keyakinan yang berkembang di Indonesia.

Karenanya, dalam kehidupan bangsa Imdonesia tidak boleh ada diskriminasi terhadap perbedaan kepercayaan dan agama. Demikian halnya dalam konteks kesukuan yang beraneka ragam sama sama telah berkembang di Indonesia. Namun demikian, ibarat sebuah pohon yang tinggi dan rindang, maka akan mendapatkan terpaan angin yang kencang dan besar yang akan merobohkannya. Dalam perspektif sosial-historis, semua warga negara Indonesia memiliki tanggung jawab yang berat untuk mengawal bangsa ini menuju visi keragaman dan kebangsaan.

Sebagai bangsa besar yang berdaulat yang mengusung nilai dan Ideologi Pancasila, Indonesia bagian dari dinamika dan pertumbuhan bangsa bangsa dunia. Adanya Indonesia sekaligus sebagai wujud semangat luhur masyarakat dan tokoh bangsa Indonesia untuk membangun peradaban Indonesia yang berdaulat dengan keragaman dan kebangsaan NKRI. Karenanya, Indonesia bukan negara yang eksklusif terhadap perbedaan dan keragaman. Keragaman dan pluralitas merupakan prinsip kebhinnikaan bangsa Indonesia. Jadi, Kebhinekaan dan kemajemukan merupakan fondasi kebangsaan di negara Indonesia.

Yang menjadi persoalan, adalah tidak semua individu dan komunitas dalam sebuah bangsa yang besar ini, dapat mentransformasikan nilai budaya dan kearifan lokal dalam konteks kebangsaan. Misalnya, sikap dasar kebangsaan NU yang dibangun pada prinsip keseimbangan antara ukhuwah islamiah (persaudaraan sesama Islam), ukhuwah basyariah (persaudaraan sesama manusia), dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa). Contoh yang lain, sikap dasar kebangsaan orang Jawa yang dibangun pada prinsip keselarasan hubungan antarmanusia. Karenanya, akan mudah didapatkan sikap moderat orang jawa dan memilih "jalan damai".

Karena itu, Indonesia sebagai bangsa yang besar, harus tampil dan mampu mengikuti arah zaman dengan tetap mengacu pada ideologi pancasila dan kekhasan keragaman agama dan budayanya. Hal ini dapat diwujudkan melalui lembaga pendidikan yang mengenal keragaman dan makna kebangsaan. Karenanya, pemerintah perlu hati hati terhadap kelompok intoleransi dan radikalisme yang selalu mengatasnamakan agama, karena akan merusak tatanan dan prinsip keselarasan hubungan antarmanusia yang sesuai dengan ideologi pancasila.

Visi keberagaman dan kebangsaan tidak hanya memerlukan kesadaran masyarakat terhadap makna agama yang mencerahkan dan makna budaya yang menguatkan harmoni atau keselarasan antar umat manusia. Selain arti penting instrumen agama dan budaya untuk Indonesia, Indonesia juga sangat memerlukan kemandirian bidang berikut ini: pertama, bidang sosial ekonomi, sehingga tidak tergantung pada kolonialisme dan kapitalisme Internasional. Kedua, bidang  politik, sehingga tidak terjebak pada tipu muslihat politik yang akan meruntuhkan bangunan kebhinnikaan.

Sudah menjadi konsekuensi logis sebagai negara yang beragam agama dan budaya untuk bersikap dengan mengedepankan jalan tengah (tawassuth), bersikap dengan membentuk keseimbangan dan keselarasan (tawazun), bersikap dengan memilih keputusan teguh pada prinsip kebenaran yang tidak berat sebelah (i'tidal), dan bertindak seperlunya dan sewajarnya, tidak berlebihan (iqthishad). Dalam mentransformasikan visi kebangsaan, Indonesia juga perlu menampilkan dua watak: kebijaksanaan dan keluwesan. Kebijaksanaan merupakan bentuk tindakan yang menguatkan sikap seseorang yang bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.

Adapun, makna keluwesan bagi masyarakat bangsa Indonesia adalah sikap kompromistis yang tetap pada koredor nasionalisme melawan sikap ekstremisme yang tidak menjadi karakter bangsa Indonesia. Mengapa nasionalisme harus siap melawan ekstrimisme yang digambarkan dengan sikap yang intoleransi dan radikalisme? karena sikap ekstrimis akan mengancam terhadap keragaman negara kesatuan republik Indonesia. Karenanya, nasionalisme perlu diwujudkan dalam bentuk sikap mencintai terhadap ibu pertiwi dengan segala keanekaragaman sumber kekayaan dan kebudayaannya. Misalnya, dengan menghargai perjuangan para pahlawan bangsa, menggunakan hasil produk bangsa sendiri, membangun prestasi bidang olah raga, akademik, dan yang lainnya.

Sehubungan dengan sikap nasionalisme terhadap keragaman keyakinan, agama dan budaya ini, maka perlu membentuk sikap demokratisasi sebagaimana berikut: pertama, menghormati hukum yang sudah ditetapkan bersama. Kedua, menghindari sikap tirani, kekerasan, dan anarkis. Ketiga, menyelesaikan persoalan dengan musyawarah. Keempat, membangun negara bangsa yang damai. Kelima, menciptakan sistem pemilihan umum yang demokratis. Keenam, menjunjung tinggi hak asasi manusia dengan penuh manusiawi dan tanggung jawab. Ketujuh, mencintai keragaman adat, kepercayaan, budaya dan agama. Bravo!!

Semarang,  5/3/2017

Ubaidillah Achmad, Penulis buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, Dosen UIN Walisongo Semarang, Khadim Majlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang.


*) Artikel ini telah disampaikan pada acara Serawung Kuam Muda Lintas Agama, 05 Maret 2017 di Balaikota Semarang.

Related Posts:

0 Response to "Serawung Kaum Muda: Bergerak Untuk Visi Keberagaman Dan Kebangsaan"

Post a Comment