Rangkuman: Sejarah Dan Perkembangan Konsep Teori Kritis

Sumber Gambar google.com
Teori Kritis merupakan anak dari aliran besar filsafat berinspirasi Marx. Meski teori tersebut mengambil inspirasi dari pemikiran Karl Marx, itu tidak berarti bahwa teori kritis selalu mengikuti Marx. Bahkan, teori kritis melampaui dan meninggalkan Marx serta menghadapi masalah-masalah masyarakat industri maju secara baru dan kreatif.
Teori ini berkembang tahun 30-an di Jerman yakni di Institut fur Sosialforschung di Frankfurt, sehingga sering juga disebut aliran Frankfurt. Tokoh-tokoh terkemuka dari teori ini adalah Horkheimer, Adorno, dan Marcuse. 
Teori Kritis muncul sebagai kritik terhadap perkembangan masyarakat dengan maksud membebaskan manusia dari belenggu budaya teknokrat modern. Karena itu, teori ini tidak hanya bersifat kontemplatif, melainkan juga bersifat praksis karena bermaksud mengubah dan membebaskan manusia dari belenggu yang dibuatnya sendiri. Dengan kata lain, teori ini ingin mengembalikan kemerdekaan dan masa depan manusia.
Pola pikir atau sikap kritis semacam ini sebenarnya sudah muncul sejak zaman Immanuel Kant sebagai respons atas kebekuan pemikiran karena terjebak dalam dogmatisme empirisme dan rasionalisme. Kant mendobrak kejumudan ini dengan mengkolaborasikan keduanya dan melahirkan suatu faham yang disebut dengan filsafat kritisisme. Pola pikir Kant ini akhirnya dikembangkan oleh Fitche, Hegel, dan sampai pada puncaknya yakni Karl Marx.
Pada tahun 60-an, teori kritis mencapai kejayaan di Eropa. Ia menjadi inspirasi sebuah gerakan masyarakat dan mahasiswa di sana. Sayangnya, gerakan ini berkembang menjadi gerakan anti masyarakat industri dan kapitalis, sehingga sering disebut “Neo Merxisme”.  Sejalan dengan gagalnya Marxisme paham teori kritis juga memudar.  Perkembangan dunia ternyata tidak sesuai dengan pengandaian (presumsi) Marx bahwa manusia adalah makhluk berkebutuhan, dan hal ini merupakan peluang untuk dimanipulasi oleh kapitalisme dengan kedok perkembangan sains.
Salah satu unsur utama dari teori kritis adalah keyakinan bahwa di balik selubung objektivitas sains tersembunyi kepentingan kekuasaan. Kepentingan ini dipahami sebagai kepentingan eksploitatif; bersifat ekonomis, kapitalis, dan dehumanis. Karena itu, penganut teori kritis ingin membuat semacam pencerahan (enlightenment/aufklarung) dengan mengungkap tabir yang menutupi maksud yang tidak manusiawai dari perkembangan sains. Sinyalemen tentang tidak sterilnya sains dari kepentingan sebenarnya sudah dikemukakan berabad-abad silam oleh filsuf Yunani yakni Francis Bacon yang mengatakan bahwa “Sains adalah kekuasaan”.
Teori kritis berusaha menciptakan kesadaran kritis terhadap “kemajuan-kemajuan” kehidupan manusia. Teori kritis hendak menyingkap kemajuan semu yang berkembang, misalnya: rasionalisasi dari akal budi obyektif ke akal budi instrumentalis menghasilkan irasionalitas karena akal budi kehilangan otonomi dan menjadi alat belaka. Semua segi dan relung-relung kehidupan masyarakat berkolusi sehingga menimbulkan kesan bahwa semua baik adanya, semua kebutuhan dapat dipuaskan, menjadi efisien, dan bermanfaat. Namun di balik itu terbersit keinginan (kehendak) jahat yang menghantarkan manusia ke jurang kegelapan dan keterbelengguan.
Teori kritis mengutuk ilmu-ilmu positif seperti ekonomi, sosiologi, psikologi, dan filsafat, karena dalam perkembangannya ilmu-ilmu itu justru keluar dari fitrahnya, yakni tidak lagi membahas (mempersoalkan) tentang masyarakat, melainkan berusaha melancarkan proses pembelengguan masyarakat (ideologisasi) atas dasar ilmu-ilmu itu sendiri. Meski secara sepintas tampak rasional-argumentatif, namun dataran realitas-empirisnya ilmu-ilmu itu justru menjadi irrasional karena melakukan pendukungan terhadap sistem-sistem yang irrasional.
Kritik teori kritis terhadap teori tradisional terletak pada statusnya sebagai teori, bukan menyangkut bahwa para pemikirnya mempunyai pamrih pribadi. “Objektivitas” teori tradisional dituduh justru tidak objektif karena, di bawah label “kontemplasi dunia objektif” disembunyikan bahwa dunia itu dapat juga lain. Dengan kata lain, “objektivitas” teori tradisional mengeliminasikan dimensi kritis. Sesuatu dinyatakan objektif, maka harus diterima. Padahal objektivitas itu hasil tindak manusia dalam sejarah, hasil sebuah sejarah penindasan dan penghisapan. Ciri teoretis murni ilmu-ilmu itu pun semua. Dengan menutup-nutupi kenyataan alternatif, ilmu-ilmu itu menutup kemungkinan tindakan alternatif yang mengubah realitas yang ada. Melalui “objektivitas”nya itu ilmu-ilmu tradisional menjadi praksis terbalik, tindak refresif terhadap usaha pembebasan dari realitas yang tidak beres itu. “Teori Tradisional” melayani kepentingan status quo, mendukung kelestarian struktur-struktur kekuasaan yang ada. Di bawah selubung objektivitas dan kebebasan dari kepentingan “teori tradisional” menjadi pendukung sistem kekuasaan yang berdasarkan penindasan. Oleh karena itu, “teori tradisional” menjadi ideologis.
Perlu ditegaskan bahwa teori itu “kritis” bukan dalam arti sebuah teori yang asal mengkritik pelbagai ketidakberesan dalam masyarakat. “Kritis” pertama-tama berarti sadar akan pengandaian-pengandaian dan fungsi sosial teori-teori, termasuk teorinya sendiri. Sebuah teori yang kritis merefleksikan, menurut rumusan Habermas, kaitan perkembangannya (Entstehungszusammenhang-nya) maupun kaitan penggunaannya (verwendungszusammenhang-nya). Bukan tugas teori kritis untuk langsung mengkritik sana sini karena dengan demikian ia menjadi ajaran positif dan dogmatis, hanya dalam tanda kutip negatif, ia akan merosot kembali menjadi teori tradisional, teori murni yang kemudian diterapkan pada realitas (sebagaimana dituduhkan Habermas kepada Marx).
Dengan kepentingan emansipatorisnya, tujuan ilmu-ilmu kritis adalah membantu masyarakat untuk mencapai otonomi dan kedewasaan (Mundigkeit). Ini sesuai dengan konsep Pencerahan sebagaimana yang dirumuskan Immanuel Kant (1724-1804). Menurut Kant, Pencerahan merupakan "jalan keluar" untuk membebaskan manusia dari situasi ketidakdewasaan, yakni situasi manusia yang masih menggantungkan dirinya pada otoritas di luar dirinya, yang dengannya ia sendiri merasa bersalah, entah otoritas itu atas nama tradisi, dogma agama, ataupun negara. Dengan demikian, Makna Pencerahan di sini dipahami sebagai sebuah proses mendewasakan diri dengan berani menggunakan rasio sendiri. Sapere Aude! (Beranilah berpikir sendiri!) menjadi semboyan kuatnya. Dari sinilah Kant lalu memunculkan konsep "kritisisme", yang dalam pandangannya berarti usaha untuk menentukan batas-batas kemampuan dan syarat kemungkinan rasio, yang dengannya kita bisa menentukan apa yang mungkin kita ketahui, kita kerjakan, dan kita gantungi harapan.
Pada umumnya, kritisisme Kant selalu dipahami sebagai sebuah solusi dan prinsip universal, sebagaimana bisa dilihat dalam pemikiran para filosof Pencerahan setelah Kant, seperti Hegel, Marx, dan Habermas. Seakan-akan rasio itu begitu unggul, mengatasi semua pengalaman yang bersifat partikular dan khusus, dan menghasilkan kebenaran-kebenaran mutlak yang universal, tak terikat waktu. Dan dengan ditemukannya rasio tersebut, maka Mundigkeit pun tercapai. Karena kritisisme dipahami dalam rangka standar universal, maka ia selalu berarti suatu penilaian, pengujian dan pemeriksaan klaim-klaim kesahihan dari satu posisi di luar arena, sudut pandang Archimedean, yang dengannya kebenaran bisa ditentukan desain dan arahnya. Dengan prinsip rasional, kehidupan publik pun lantas bisa diatur.
Demikianlah kita melihat hal itu pada G.W.F. Hegel (1770-1831). Pandangan Hegel bahwa sejarah adalah gerak rasionalitas yang menaik secara dialektis untuk mencapai totalitas dan kesempurnaan rasio itu sendiri menyiratkan secara kuat semangat universal kritisismenya. Universal karena kritisisme dalam arti Hegelian tidak lain adalah dialektika itu sendiri, sehingga segala perbedaan, otherness, oposisi, kontradiksi semuanya akan lebur dalam rekonsiliasi menuju totalitas tadi (Aufhebung). Meminjam ungkapan Adorno, bangunan sejarah Hegel yang totalistik mengarah pada suatu filsafat "identitas", di mana segala carut-marut perbedaan harus disubordinasikan ke dalamnya.
Kita juga melihat klaim universal dalam kritisisme Karl Marx (1818-1883). Menurut Marx, kritisisme tidak hanya gerak dialektika yang mengawang-awang dalam ide sebagaimana kata Hegel, melainkan juga terutama suatu praksis emansipatoris, yakni usaha-usaha mengemansipasi diri dari penindasan dan alienasi yang dihasilkan oleh hubungan-hubungan kekuasaan dalam masyarakat. Dengan demikian, segala bentuk pengetahuan dan kesadaran yang masih berada dalam hubungan-hubungan kekuasaan dalam masyarakat, jadi masih belum teremansipasi, pasti terdistorsi dan bias, karena itu bersifat ideologis dan palsu. Maka, kritisisme haruslah berusaha menghapus hubungan-hubungan kekuasaan dalam masyarakat yang tercermin dalam hubungan pemilikan alat-alat produksi agar pengetahuan dan kebenaran rasional tercapai. Dari sini kita bisa melihat bahwa pengetahuan sejati dan benar menurut Marx hanya ada dalam masyarakat komunis. Kebenaran, dengan begitu, sudah tersedia dan terletak di depan sana, bersifat objektif dan berlaku universal.
Dengan nada yang lebih aktual, kritisisme Hegel dan Marx --sekaligus bias universalnya-- dilantunkan kembali oleh Teori Kritis aliran Frankfurt. Kata kunci yang paling digemari mereka adalah praksis emansipatoris. Sebagaimana para filosof Pencerahan sebelumnya, kritisisme Teori Kritis terletak pada obsesi mereka untuk menjadi Aufklarung, yang berarti mau menyingkap dan menyobek selubung-selubung ideologis yang menutupi kenyataan tak manusiawi dari kesadaran kita. Dengan membuka kedok-kedok ideologis dalam segala hal, termasuk bangunan pemikiran Teori Kritis sendiri, Teori Kritis ingin mengajukan kembali maksud dasar Marx, yakni pembebasan manusia dari segala belenggu penindasan dan pengisapan.
Karena terobsesi dengan cita-cita humanisme Marx muda tersebut, Teori Kritis generasi pertama, di antara yang terkenal adalah Horkheimer, Adorno dan Marcuse, memang sempat kecewa berat terhadap rasionalitas modern pada masa itu, yang dianggap kehilangan sifat kritisnya. Artinya, rasionalitas modern sudah melenceng dari khittah Pencerahan. Seperti ditunjukkan oleh Horkheimer dan Adorno dalam Dialektika Pencerahan dan Marcuse dalam Manusia Satu Dimensi, proses rasionalisasi masyarakat ternyata bermuara ke dalam tragedi agung. Karena mendewakan rasionalitasnya yang semula dikira memberi otonomi dan kebebasan, manusia modern justru terperangkap dalam sistem tertutup yang justru irasional dan hampa makna. Dalam kondisi demikian, tidak ada ruang sedikit pun bagi kritik kecuali bahwa kritik itu sendiri pasti ikut memperkuat sistem. Dalam masyarakat modern seperti ini, segala kontradiksi, penindasan, frustasi dan alienasi tidak lagi nampak. Seakan-akan semua aspek kehidupan berjalan lancar, efisien, produktif dan berdaya guna. Padahal yang sebenarnya berlangsung adalah proses dehumanisasi. Ketika kritik hendak bekerja menyingkap kesan semu ini, ia segera mendapati kenyataan bahwa sistem yang irasional itu justru malah merupakan akibat usaha manusia untuk bersikap rasional. Rasionalitas yang semula sangat kritis terhadap mitos-mitos tradisional pada gilirannya justru berubah menjadi mitos baru dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, Teori Kritis generasi pertama mengambil sikap pesimis terhadap rasionalitas, cenderung menarik diri (resignasi) agar tidak dicaplok oleh sistem, dan bahkan pada akhirnya terkesan anti-praksis.
Meski kesudahannya pesimis terhadap modernitas, Teori Kritis generasi pertama sebenarnya secara implisit tetap memahami kritisisme dalam rangka standar universal. Ini terbukti dengan pembedaan yang masih mereka pertahankan antara pengetahuan yang ideologis (pengetahuan yang melegitimasi sistem yang ada) dan pengetahuan sejati. Hanya saja mereka melihat bahwa pengetahuan modern pada masa itu justru ideologis karena terdistorsi oleh relasi kuasa masa modern yang bersifat opresif. Sedangkan pengetahuan rasional yang sejati, yakni yang bebas dari aneka relasi kuasa yang opresif, tetap ada meski kecil kemungkinannya terealisir saat ini.
Dalam perkembangan selanjutnya, pesimisme generasi Frankfurt awal direvisi oleh pewarisnya, yakni Jurgen Habermas. Intelektual yang belakangan justru secara lantang membela klaim universalitas standar rasional ini beranggapan bahwa "guru-guru"-nya di Frankfurt "salah baca" terhadap karakteristik Pencerahan modern. Habermas secara gigih ingin menyelamatkan elemen-elemen kritis emansipatoris dari Teori Kritis, dengan asumsi bahwa pencerahan Barat tidak hanya menjurus pada patologi, melainkan juga peningkatan diri dan pendewasaan kehidupan sosial.
Kesalahan generasi Frankfurt awal, menurut Habermas, adalah bahwa rasionalitas modern dipahami hanya sebagai "rasio-subjek", yakni yang melulu menyangkut kemampuan akal budi kita mengontrol proses-proses objektif alam semesta melalui "kerja." Inilah tipe rasionalitas yang oleh Weber disebut "rasionalitas-tujuan" (zweckrationalitat). Kalaupun rasionalitas modern nampak timpang dan opresif, hal itu karena rasionalitas-tujuan terlalu mendominasi dan menjarah segala aspek kehidupan.
Tapi bukan berarti ia menjadi alasan yang sah untuk bersikap pesimis dan menganggap kritisisme macet. Sebab, modernisasi masih mempunyai tipe rasionalitas lain, yang selama ini diabaikan oleh Marx dan generasi Frankfurt awal, yakni "rasio-intersubjektif" atau "rasio-komunikasi", yakni kemampuan akal budi untuk memahami maksud-maksud orang atau kelompok lain secara timbal balik. Proses rasionalisasi tidak perlu berujung pada dominasi dan opresi manakala ia dipahami sebagai pencapaian wacana argumentatif, di mana argumen yang lebih menawarkan klaim kesahihan yang lebih unggul, dapat diterima secara konsensus. Ketika komunikasi suatu ketika mengalami distorsi dan diselingi paksaan, ketika konsensus hanya merupakan pseudo-komunikasi, maka di situlah kritisisme rasional mulai berfungsi, yakni untuk menyingkirkan distorsi-distorsi tersebut. Dan itulah alasannya kenapa bagi Habermas modernisasi adalah "proyek sejarah yang belum selesai."
Berdasarkan hasil pelacakan di atas, kita pun mafhum bahwa kritisisme, yang menjadi ciri khas modernisme, di mata para pewarisnya berarti suatu "heroisme" dalam menanggapi situasi zamannya. Karena rasio sebagai prinsip kebenaran universal sudah ditemukan, maka alur sejarah pun bisa dipatok batas-batasnya dan telos (tujuan) sejarah bisa diprediksikan. Setidaknya itulah yang kita lihat pada Hegel ketika ia menganggap demokrasi liberal yang berkembang di Barat sebagai manifestasi kesempurnaan pembentukan diri rasio. Atau Marx ketika menggagas sosialisme ilmiahnya. Secara normatif, rasionalitas tersebut juga menjadi dasar pengorganisasian masyarakat modern. Setidaknya itulah kata Habermas ketika ia mengartikan "proyek modernitas" yang dirumuskan oleh para filosof Pencerahan sejak abad ke-18 sebagai:
"rangkaian usaha untuk mengembangkan ilmu objektif, moralitas dan hukum universal serta seni otonom menurut logika-dalam masing-masing. Pada saat yang sama, proyek ini dimaksudkan untuk membebaskan potensi-potens kognitif setiap domain tersebut dari bentuk-bentuk esoterisnya. Para filosof Pencerahan bermaksud mendayagunakan akumulasi dari satuan-satuan budaya itu untuk memperkaya (makna) kehidupan sehari-hari--yakni demi terciptanya suatu penataan kehidupan sosial secara rasional."

Selain itu, kritisisme juga membawa pada "keseriusan" dalam menanggapi kehidupan. Seandainya kita bayangkan, para filosof Pencerahan adalah tipe filosof yang secara serius bergulat dengan pemikiran-pemikiran "keras", lewat konsep-konsep, argumentasi filsafat dan teori-teori, untuk mencari kebenaran dan jawaban-jawaban yang definitif tentang inti segala sesuatu, termasuk dasar pengaturan kehidupan publik. Mereka begitu yakin bahwa kebenaran yang mereka kejar bisa secara persis berkoresponden dengan realitas di luar sana; bahwa konsep dan penggambaran filosofis mereka mampu menjadi cermin realitas. Dengan kata lain, mereka tidak menaruh kecurigaan sama sekali terhadap bahasa yang mereka pakai. Tidak heran kalau kemudian konsep dan teori yang mereka rumuskan diyakini mampu menjadi landasan bagi tindakan pencerahan dan praksis emansipasi.

Related Posts:

0 Response to "Rangkuman: Sejarah Dan Perkembangan Konsep Teori Kritis"

Post a Comment