Rangkuman: Objek Kritisisme

Sumber Gambar: google.com


Mempertanyakan Selubung Ideologi

Dalam kenyataannya, pemikiran kritis berupaya menegakkan harkat dan martabat kemanusiaan dari berbagai belenggu yang diakibatkan oleh proses sosial yang bersifat profan. Proses pembongkaran ini dilakukan hampir di semua segmen kehidupan, terutama persoalan-persoalan yang menyangkut tentang keilmuan dan keagamaan. Karena kecenderungan ideologi adalah pemutlakan tuntunan-tuntunan yang tidak boleh dipersoalkan.
Michael Foucault (1980), seorang ilmuwan sosial pelopor postmodernisme, pernah mengatakan bahwa pengetahuan bukan sesuatu yang ada tanpa hubungan kekuasaan. Hubungan pengetahuan adalah hubungan kekuasaan. Pengetahuan adalah peredaran perwakilan negara, perusahaan multinasional, universitas, dan organisasi formal lainnya dalam memajukan masyarakat kapitalis. Foucault sebenarnya hendak mengatakan bahwa proses muncul dan berkembangnya ilmu pengetahuan sangat terkait dengan relasi kekuasaan. Ilmu pengetahuan akan semakin dominan dan dianut kebenarannya oleh masyarakat akademik apabila ditopang secara kuat oleh struktur kekuasaan.
Dalam dataran empiris, struktur kekuasaan ini dapat berupa kapital. Artinya, penguasaan struktur kapital dapat dipergunakan secara mudah untuk memengaruhi tumbuh kembang dan benar salahnya suatu pengetahuan. Para elite politik (penguasa) dan elite ekonomi (pengusaha) dengan struktur kapital yang mereka miliki dapat dengan mudah memengaruhi dan mengendalikan proses-proses penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan sosial supaya hasil penelitian tersebut sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Fenomena semacam inilah yang dinamakan dengan "kapitalisasi ilmu-ilmu sosial" ke dalam struktur hegemoni kapitalisme.

 

Keluar dari Dominasi dan Hegemoni

Hegemoni bisa dilakukan oleh kekuatan apa dan siapapun sebagai upaya untuk dan melanggengkan kuasanya. Berbagai model dan bentuk hegemoni bisa dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya proses penyelubungan tabir pengetahuan, pola-pola pemberian material (ekonomi), atau pensakralan atas pranata-pranata yang pada perkembangan selanjutnya menjadi dogma.
Konstruksi pola pikir ini akan semakin berbahaya, ketika masyarakat masih teridap budaya dan penyakit bisu untuk melakukan kritik atas kuasa negara. Namun, di sisi lain, tidak mudah untuk mengentas tatanan masyarakat yang cenderung bersifat akut. Sebab dalam situasi ini, kesadaran yang digunakan oleh masyarakat sesungguhnya adalah kesadaran semu yang berada di bawah tabir dan bayang-bayang hegemoni kuasa. Kesadaran semacam ini yang paling berbahaya dalam kehidupan masyarakat karena kesadaran seseorang dalam kondisi itu merupakan kesadaran yang  berada di bawah ketidaksadaran. Dengan demikian perlu diciptakan sebuah kesadaran sejati dalam diri manusia.
Untuk melakukan pembongkaran atas budaya bisu masyarakat, maka perlu dilakukan cara berpikir kritis terhadap realitas yang ada di sekelilingnya. Pola pikir kritis inilah yang akan menghantarkan masyarakat untuk tidak mudah dipolitisir sedemikian rupa oleh penguasa-penguasa maupun kelompok yang sengaja ingin memanfaatkan politisasi dan hegemoni terhadap rakyat. Segala sesuatu yang datang dari kekuasaan harus dikritisi, karena di balik kebijakan ada selubung-selubung hegemoni kuasa.
Demikian pula dengan klaim-klaim yang mengatasnamakan kepentingan rakyat harus dipertanggungjawabkan di hadapannya. Dengan demikian tersobeklah tabir kepolosan ideologis. Klaim-klaim legitimasi segala macam kekuatan, entah bersifat kekuasaan langsung, atau tersembunyi di belakang pembenaran normatif, dipaksa untuk membenarkan diri.
Paradigma kritis ini akan mendestruksikan afirmativitas pada wilayah-wilayah yang sulit dan bahkan tidak dipertanyakan, mendongkel klaim-klaim kekuasaan yang naif, sampai mereka membuktikan diri dan dengan demikian menjadi refleksi dan terbuka terhadap kritik, atau memang ditelanjangi sebagai layar asap ideologis bagi kepentingan-kepentingan khusus.

 

Keluar dari Dogmatisme Agama

Ideologi secara tidak sadar akan masuk dan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari manusia, ketika manusia itu semakin dininabobokan oleh kamuflase-kamuflase ideologis. Perdebatan tentang istilah ideologi mula-mula digunakan oleh Destert de Tray pada akhir abad ke-18 dan kemudian dikembangkan penuh sebagai konsep selama abad ke-19, namun perenungan yang lebih dalam dengan beberapa persoalan yang dimunculkan oleh pengertian ideologi telah dimunculkan oleh pengertian ideologi telah dimulai jauh lebih awal.
Sebagai ilustrasi, ketika konsepsi Hobbes tentang agama yang berdasar pada rasa takut dan kebodohan secara luas –oleh para ahli filsafat abad ke-18, mereka melepas pandnagannya mengenai pentingnya sesuatu yang yang dapat dijadikan sebagai pegangan masyarakat dalam kebaikan bersama. Sebaliknya pencerahan terjadi di Perancis yang menyatakan hak berpikir bebas.
Dalam hal ini agama tidak lagi dianggap sebagai kekuatan yang mengintegrasikan, namun dianggap sebaliknya, sebagai sumber tahayyul, kesalahpahaman, dan sumber berbagai prasangka dan konflik. Bahkan secara radikal Helvetius (1715-1771) dan Hobach (1723-1789) dengan kuat mengemukakan versi ini dalam teori mereka tentang kebohongan kaum agamawan (priestly decit). Dalam pandangan mereka, para pendeta itu berupaya menahan orang-orang dalam kebohongan supaya dapat mempertahankan kekuasaan dan kekayaannya.
Agar prasangka-prasangka dapat diatasi, manusia harus merumuskan kepentinganya sendiri, sehingga manusia harus dibebaskan dari semua rantai penindasan dalam kehidupan ekonomi seperti dalam hal keimanannya. Pembongkaran-pembongkaran itu kiranya bisa dilakukan dengan berpikir secara kritis terhadap dogma-dogma agama. Masyarakat tidak begitu saja menerima ajaran agama yang disampaikannya, namun bagaimana masyarakat agama juga berhak melakukan tafsiran-tafsiran atas segala nilai dan pranata-pranata agama yang selama ini mereka anut.

Proses kritisisme dan interpretasi atas ajaran agama bukan berarti memberikan peluang untuk menghancurkan agama itu sendiri atau desakralisasi agama, namun justru sebaliknya bagaimana agama ditempatkan pada posisi atas agar tidak digunakan oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Proses kritik ini tidak saja dilakukan terhadap dogmatisme agama, namun juga dogma-dogma budaya, tatanan masyarakat, dan pemikiran-pemikiran sosial yang ada. Dengan berpikir kritis, maka akan terjadi dialektika dan dinamika dalam kehidupan.

Related Posts:

0 Response to "Rangkuman: Objek Kritisisme"

Post a Comment