Merindukan Mbah Syahid: Mengajarkan Relasi Suci Kosmologi


Oleh Ubaidillah Achmad

Dalam rangka menyambut haul KH.A.Syahid Kemadu, dikenal dengan sebutan Mbah Syahid, perlu kiranya membacakan manakib Mbah Syahid. Banyak pengalaman ruhaniyah dari Mbah Syahid yang dapat membantu para santri membentuk keseimbangan psikis dan kepribadian yang baik. Mbah Syahid bukan saja seorang sufi besar yang menandai dunia tasawwuf, namun juga menandai perlunya setiap manusia menjaga teks relasi suci kosmologis yang menghubungkan antara: Allah Jalla Jalaluhu, Manusia dan Kesemestaan. Manusia perspektif Mbah Syahid bertugas menjaga gerak unsur keutamaan relasi suci kosmologis  yang bersumber dari gerak utama, yaitu Allah Jalla Jalaluhu.

Beberapa teman alumni Santri Mbah Syahid, telah mengkisahkan kehadiran Mbah Syahid yang terus muncul menginspirasi dan menguatkan kesadaran diri melalui jalur luar ruang dan waktu kawasan kesemestaan ini. Selama hidunya, Mbah Syahid telah mampu meneguhkan keyakinan  Santri, supaya yakin pada sebuah nilai keutamaan hidup: bagaimana manusia meneguhkan sikap sebagai hamba dan sebagai khalifah Allah yang senantiasa menjaga amanah-Nya: menjaga relasi suci kosmologi. Adapun selebihnya, manusia hanya tinggal menyempurnakan usaha sesuai dengan kemampuannya.

Dengan demikian, manusia akan merasakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sebelum sampai pada puncak kesadaran ini, seseorang perlu mempertimbangkan norma norma agama kenabian sesuai tata aturan yang disampaikan dari setiap Nabi Pembebas.

Sehubungan dengan keteguhan sikap dan keyakinan pada prinsip nilai keutamaan dan kebenaran tersebut di atas, keberadaan Mbah Syahid telah membuktikan semasa hidupnya dengan bersikap teguh pada prinsip kebenaran dan menjaga lingkungan yang lestari. Bersamaan dengan tasbih semua unsur kesemestaan, Mbah Syahid juga beristiqamah memunajatkan rasa syukur kepada Allah: Alhamdulillah.

Dalam suasana menyambut para tamu, Mbah Syahid sering berbuat telah menyenangkan para tamu. Dalam setiap harinya, Mbah Syahid menerima tamu dari berbagai kalangan: yang berbeda kebangsaan, keyakinan, ideologi, politik, status sosial, jenis kelamin. Selama menemui para tamu, Mbah Syahid tidak pernah membeda-bedakannya. Dengan model dan variasi para tamu yang berbeda ragam dan budaya ini, Mbah Syahid tetap menyambut penuh ramah bersamaan dengan suara lirih Hamdalah.

Beberapa tamu yang secara khusus tercatat dalam Web KH.A.Mustofa Bisri, misalnya, mbak Tutut, Suryadi, Gus Dur, mbak Mega, Martin Van Bruinessen, Danarto, Abdul Hadi WM, Alm. Arifien C, Noor, Amak Baldjun, Dedi Mizwar, Neno Warisman, hingga engkoh Ong Ho agen Bus Malam, pernah datang ke kiai yang rendah hati ini.

Alkisah, di penghujung tahun 1990-an, ba’da shalat Isyak, pukul 21.00 WIB, para Santri sedang belajar mendengarkan penjelasan kitab Minhajul Abidin dari Mbah Syahid, tiba-tiba datang sosok yang ‘nyentrik’, ketika sosok ini berjabat tangan dan mencium Mbah Syahid, Mbah Syahid tetap memberikan isyarat kepada para Santri untuk tetap memperhatikan kitabnya. Setelah sosok nyentrik ini sesegera pamit pulang, Mbah Syahid menegaskan kepada para Santri, bahwa setiap manusia mempunyai sikap lelaku secara berbeda, namun kalian tetap harus menghormati dengan tetap fokus pada kajian keilmuan.

Dalam waktu yang bersamaan, Mbah Syahid kembali menegaskan, yang terpenting sebagai Santri harus tetap istiqamah menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu. Alasan Mbah Syahid terhadap pesan ini, adalah dengan didasarkan pada prinsip: Al Istiqamatu Alfu Alfin Min Al Karamah. Artinya, keberlangsungan berbuat kebaikan dan menuntut ilmu secara terus menerus itu adalah perbuatan yang melampaui kekaramahan seseorang atau kemuliaan seseorang yang dipuja-puja karena keanehannya yang bersifat sementara.

Mbah Syahid lebih menekankan pada sikap Santri untuk mendalami ilmu agama dan mengamalkannya. Mbah Syahid merupakan Ulama Sufi besar di antaraa yang pernah ada di Indonesia atau secara khusus yang bermuqim di desa Kemadu kecamatan  Sulang, sekitar 9 km dari Rembang. Semasa hidupnya, rumah Mbah Syahid tidak pernah sepi dari para tamu, yang berlangsung sejak pagi (Dluha) hingga jam 23.00 WIB. Di pagi hingga sore hari selain jam Shalat lima waktu, beliau menemui tamu dari berbagai kalangan atau elemen masyarakat.

Sedangkan, pada malam hari setelah kajian kitab Minhajul Abidin, beliau menemui tamu lagi tanpa mengenal lelah untuk mendengarkan kisah suka duka masyarakat. Mbah Syahid merupakan konselor yang tidak membedakan lapisan masyarakat dan tidak menolak keluhan masyarakat. Semua didoakan dan mendapatkan sambutan hangat dari Mbah Syahid.

Meskipun tidak secara formal nama beliau muncul pada acara muktamar NU, namun dibalik itu beberapa Ulama peserta muktamar menyebut keunikan dan berharap beliau membacakan dan mendoakan kelangsungan muktamar dan kelangsungan organisasi NU bermanfaat untuk zamannya. Beliau juga selalu mengirim utusan rombongan untuk turut berdzikir bersama pada acara pembukaan muktamar NU.

Pesantren beliau terbuka lebar untuk pertemuan para Ulama di Rembang, baik pada saat mengadakan pembahasan persoalan hukum di lapangan (bahtsul masail) maupun pada saat para Ulama menghadapi cobaan teror yang terjadi di beberapa masyarakat, seperti kasus ninja.

Mbah Syahid bagaikan tanda akan sebuah keputusan Allah Jalla Jalaluhu, karena banyak doa beliau yang dirasakan masyarakat. Alkisah, ada seorang Santri yang sewaktu masih sekolah di MTs suka berpindah dari sekolah yang satu hingga yang lainnya sampai empat kali, namun sewaktu mondok di pesantren beliau selama satu tahun, telah merasakan betapa arti penting pendampingan beliau untuk dapat meneguhkan prinsip nilai keislaman. Akhirnya seorang Santri dimaksud ingin melanjutkan Aliyah sesuai saran dan nasehat beliau. Atas restu Mbah Syahid, anak dimaksud telah melanjutkan sekolah di pesantren Futuhiyah Mranggen Demak.

Sungguh, betapa agung dan sangat terasa teduh dan tenang berada dalam bimbingan beliau, banyak prinsip nilai keutamaan yang membentuk kepribadian yang dapat dirasakan oleh para Santri. Mbah Syahid merupakan konselor ruhaniyah yang mengalirkan suara hati dan kesabaran melakukan pendampingan ala Kiai yang berpedoman pada prinsip nilai dari Islam Nusantara.

Hal yang sangat fundamental yang dirasakan oleh para Santri, adalah ketika beliau membongkar rahasia kalimah tauhid, yang disampaikan sesudah dzikiran ba’da shalat maghrib hingga jam 20.30 WIB dilanjutkan shalat Isya. Dzikir ba’da maghrib merupakan dzikir yang terlama, namun sangat fenomenal bagi seluruh Santri. Karenanya, wajar jika para tamu hingga sampai larut malam sowan Mbah Syahid sesudah acara pembacaan kitab minhajul abidin.

Di antara tamu istimewa beliau, yang membuat kami suka menunggu di depan pintu Mushalla persis de depan ndalem Mbah Syahid, adalah KH. A. Mustafa Bisri. Semasa hidup, Mbah Syahid terlihat sangat memuliakan Gus Mus (KH. A. Mustafa Bisri). Sungguh kita semua merindukan Ulama seperti KH. A Syahid Kemadu Rembang dan KH. A. Mustafa Bisri.

Seperti sebuah darma yang tidak pernah putus dari ingatan, Mbah Syahid sudah menjadi darma yang mendarmakan seluruh hidupnya untuk berdizikir, bersyukur, dan menatap semua unsur kesemestaan dengan selalu membaca Hamdlalah. Mbah Syahid mendidik kepada masyarakat tidak hanya dengan kata-kata. Sikap beliau dalam konteks apap pun sudah menjadi cermin atau percontohan (modeling) bagi masyarakat, baik dari kalangan Santri maupun masyarakat abangan. Ada santri yang telah menceritakan selama menjadi Santri beliau, beliau selalu menegaskan ayat yang menunjukkan , bahwa Allah benar-benar telah memuliakan anak cucu Adam: Wa laqad karramna bani ‘adam wa khamalnahum fil barri wal bahri wa razaqnahum min at Tayyibati wa faddlalnahum ala katsirin mimman khalaqna tafdlila (QS. Al Isra/17: 70).

Selain ayat ini, Mbah Syahid, juga selalu mengingatkan secara berulang-ulang teks kewahyuan berikut: Waidz ta’dzdzana Rabbukum lain syakartum la aziidannakum walain kafartum inna ‘adzaabii lasyadied (Q. 14: 7). Kebanyakan mufassir menegaskan maksud ayat ini, sebagai sebuah penegasan bagaimana Allah memaklumkan bagi hamba yang bersyukur dipastikan akan mendapatkan bertambahnya anugrah nikmat Allah yang akan diberikan hamba hamba yang bersyukur. Sebaliknya, jika manusia mengkufuri anugrah nikmat Allah, maka Allah akan memberikan adzab yang lebih pedih.

Konsep Kosmologi Mbah Syahid
Alkisah ada seorang santri yang menceritakan, telah mencatat uraian Mbah Syahid pada saat Mbah Syahid menjelaskan rahasia energi positif kalimat tauhid dan dzikir lathif: Ya Lathifan Bikhalqihi Ya Aliman Bikhalqihi Ya Khabiran Bikhalqihi, Ultuf Bina Yaa Lathif Ya Alim Ya Khabir.

Dalam kajian ini tercermin keteguhan sikap dan keyakinan Mbah Syahid menjalani hari penuh bahagia, tegas menatap setiap persoalan yang menyapanya dan menjawabnya dengan senang hati. Jika seseorang sudah meneguhkan unsur ruhaniyah, pikiran, sikap hati, kehendak dan jasad kepada Allah Jalla Jalakuhu, maka harus percaya penuh pada kehendak Allah, Dzat yang menggerakkan unsur kesemestaan.

Kalimah tauhid ini akan menjawab pertanyaan: di mana dan bagaimana Allah? Cahaya tauhid yang dirasakan dengan penuh seksama, akan menghapus keraguan manusia yang suka bertanya. Sebagaimana ditegaskan Mbah Syahid, justru banyak manusia yang tertutup oleh pertanyaan ketika sedang berteologi atau berdiskusi. Kosmologi Allah dalam perspektif Mbah Syahid sudah berada dalam potensi kesadaran manusia, sehingga tidak perlu memperpanjang kalam tentang kosmologi Allah.

Perbincangan tentang kosmologi Allah cukup dari keteguhan dan ketegasan sikap menggerakkan energi sebuah kalimah tauhid. Hal ini harus dimunajatkan dan didzikirkan supaya terjadi integrasi yang membentuk fungsi keberadaan manusia dihadapan Allah. Inilah potensi kalimah Ultuf Bina dalam ajaran doa Mbah Syahid, adalah karena dimaksudkan untuk memohon kepada Allah, agar Allah membuka hati manusia, telah benar benar merasakan kehadiran Allah (Allah Lathif), penggerak sifat lembut jiwa manusia.

Sebagaimana ditegaskan Mbah Syahid, jika Allah sudah (mem-futuh) hati hamba yang menjadi khalifahnya, maka akan tersalur energi positif dan kekuatan jiwa merasakan kelezatan berdzikir kepada Allah, menjalankan perintah Allah, dan meneguhkan diri menjaga relasi suci kosmologis di tengah kehidupan bersama unsur kesemestaan. Konsep ini dalam perspektif ilmu pengetahuan disebut dengan model relasi kosmologi antara manusia dengan Allah Jalla Jalaluhu.

Dalam membongkar rahasia kalimah tauhid ini, Mbah Syahid menambahkan arti penting rahasia kalimah tauhid untuk menguatkan daya magnetik manusia di tengah unsur kesemestaan atau antropik kosmologis. Artinya, sama seperti manusia, seluruh unsur kesemestaan ini bersama manusia berdzikir kepada Allah Jalla Jalaluhu. Jadi, sebagaimana ditegaskan Mbah Syahid, keberadaan pohon, tumbuhan, gunung, air, matahari, bumi, lautan, dan semua unsur kesemestaan bertasbih kepada Allah. Semua unsur kesemestaan ini berdzikir tidak berhenti kepada Allah.

Jika manusia tidak penuh konsentrasi dan penuh keteguhan jiwa mengungkapkan kalimah tauhid, maka tidak akan merasakan keindahan relasi dengan Allah, gerakan lembut kesemestaan ini bertasbih kepada Allah Jalla Jalaluhu, dan merasakan relasi antara dirinya sebagai manusia dengan kesemestaan atau lingkungan lestari. Karenanya, manusia tidak boleh menabang pohon dengan tidak mempertimbangkan fungsi dan kegunaannya untuk kemanusiaan serta kembali pada kelestarian manusia dan alam semesta. Jadi, seluruh unsur kesemestaan bertasbih kepada Allah, maka manusia sebagai pembawa amanah harus memberi ruang antara sesama manusia dan lingkungan yang bersih dan lestari.

Konsep kosmologi Mbah Syahid ini, yang barangkali bisa disimpulkan, mengapa beliau suka bertani, berkebun,  berternak dan beliau juga suka menyusuri sungai sepanjang pekarangan dan sawah beliau yang mengalir sumber mata air dari pegunungan Kendeng. Bersantri di pesantren Mbah Syahid semasa beliau masih bersama kita, benar-benar telah menyaksikan pandangan relasi suci kosmologi yang indah, berupa kepribadian yang berakhlak mulia, hamba Allah dan guru sufi yang arif yang bersabar mendampingi para santri untuk menguatkan relasi dengan Allah dan mengenalkan alam lestari. Dari pendampingan Mbah Syahid, kita semua memahami ada relasi suci antara Allah, Manusia, dan Kesemestaan yang tidak boleh dipisah-pisahkan.

Menandai Jejak Kenabian Pada Masyarakat
Ulama merupakan pewaris para Nabi yang berakhir hingga Nabi Muhammad, sebagai penghulu semua Nabi. Dari seorang Ulama ini, kita semua mengenal bagaimana bersyukur kepada Allah yang telah memberi anugrah nikmat yang besar dan yang tidak terhitung. Arti penting sikap bersyukur ini tercermin dari hitungan detik nafas Mbah Syahid yang selalu memberikan contoh dan mengiringi nafas para tamu-tamu beliau.

Hal ini secara langsung menjadi pembelajaran para Santri, tamu dan masyarakat untuk bersyukur kepada Allah. Tidak mudah untuk bisa memahami teks kewahyuan dan hadis nabi, karenanya Mbah Syahid lebih memilih memberikan model pendampingan yang langsung bisa membentuk sikap dan perilaku yang berakhlak mulia, bagaimana menjaga relasi suci dengan Allah dan sesama umat manusia. Mengapa model Mbah Syahid Kemadu disebut dengan istilah model jejak kenabian, karena sumber perilaku dan tata cara pergaulan relasinya dengan Allah, Umat Manusia dan Kesemestaan mengacu pada beberapa Nabi Pencerah dan Pembebas.

Jika ditinjau dari kawasan teks suci, maka bentangan relasi suci kosmologi merupakan kawasan teks yang harus tetap terjaga. Antara teks kewahyuan dan kawasan kewahyuan merupakan perpaduan simetris memaknai dan menandai jejak jejak kenabian.

Dalam sabar dan gigih menandai sebuah jejak kenabian, Mbah Syahid tidak bersifat eksklusif mengurung diri dengan alasan zuhud sufistik seperti yang banyak dipahami orang. Mbah Sahid di malam hari tetap berdzikir bersama santri, menemui tamu, dan secara pribadi melaksanakan shalat malam memunajatkan kerinduan kepada Allah Jalla jalaluhu. Sedangkan, di pagi hari sesudah jamah shalat subuh, Mbah Sahid bergegas mengelilingi pesantren menghirup asupan oksigen yang merupakan energi positif dari salah satu unsur lembut kesemestaan.

Meskipun melaksanakan shalat Dluha, namun tetap memberikan peluang kehadiran para tamu untuk berkisah tentang hal-hal kehidupan yang sedang dirasakan para tamu. Jadi, sejak pagi hingga senja sore hari dan malam hari, Mbah Syahid berada dalam pusaran kosmologi yang satu sama lainnya tidak terpisahkan. Jika meminjam istilah KH. A. Mustafa Bisri, model kesalehan Mbah Syahid berputar secara seimbang, antara shaleh ritual dan shaleh sosial.

Ibarat sebuah arus besar kehendak Allah Jalla Jalaluhu yang telah melewati sosok Mbah Syahid, maka sumbatan atau genangan yang menahan kotoran subjek dampingan, ketika sedang sowan Mbah Syahid, seluruh sumbatan dan kotoran yang berada dalam genangan subjek dampingan ini secara otomatis ikut arus besar Mbah Syahid. Mbah Syahid juga salah satu di antara kawasan kewahyuan, sehingga dengan mendekati kawasan kewahyuan, maka akan dapat membaca dari dekat pesan teks.

Bersama dengan cahaya jejak kenabian Mbah Syahid, rasanya tidak percaya, jika Mbah Syahid Kemadu harus dipanggil Allah Jalla Jalaluhu pada usia 78 tahun, Jum’at, 3 September 2004. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Alamarhum meninggalkan seorang istri, Nyai Hj Siti R, dan dua penerus jejak beliau, bernama: Rabbi’ Luthfi dan Safiqoh Samiyah. Almarhum dikebumikan di tempat pemakaman keluarga, samping makam almarhum istri pertamanya, Nyai Hj Sofia. Al Fatihah. []


Ubaidillah Achmad, Penulis buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, Dosen UIN Walisongo Semarang, Khadim Majlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang.

Related Posts:

0 Response to "Merindukan Mbah Syahid: Mengajarkan Relasi Suci Kosmologi"

Post a Comment