Kendeng Yang Kian Tersakiti


Oleh Ubaidillah Achmad

pasak kendeng
berbisik bersama para darwis:
matilah kalian dalam hidup
maka kalian akan hidup dalam kematian
manusia itu jika dalam kematian
maka mereka itu telah lahir sehat dan suci
manusia itu jika telah melepas keinginan
maka mereka itu telah memetik kekuatan tanpa batas
manusia itu jika telah merampas hak setiap rakyat
maka mereka itu telah terendam dalam panas jiwa dan tanah

pasak kendeng
berbisik kepada mereka yang berada di pemakaman:
wahai para pemimpin
bagaimana dengan kain kafan kalian
itulah selimut penantian
kau tidak lagi terikat dengan kehendak
karena kau tinggal tulang yang terendam tanah
kau tidak lagi terikat dengan relasi suci kesemestaan
karena kau tinggalkan rakyatmu yang kekeringan
dan kau ganti dengan makanan janji kalian
dan bau tidak sedap dari mulut dan keringat kalian

dasi kalian, minyak kalian, istana kalian telah menjadi sampah
yang menambah pencemaran udara
menembus kebocoran lapisan langit
yang menambah rintihan para Malaikat penyangga
dan rintihan manusia bumi
itukah kalian
kalian sudah tidak di dunia lagi
kalian telah berselimut kain kafan
bagi mereka yang merusak bumi
maka mereka itu telah mati kedinginan
akan terjadi pesta binatang melata
untuk mereka yang pasta atas nama bumi
untuk mereka yang pesta atas nama gunung
untuk mereka yang pesta atas nama hukum
untuk mereka yang pesta atas nama bisnis
untuk mereka yang pesta atas nama rakyat

wahai para rakyat
bagaimana dengan aroma wangi sorgawi kalian
itulah misk dari sorga kalian
kalian tidak lagi menjerit dan bertasbih
       sejak pagi hingga senja di sore hari
       meninggalkan jejak mereka yang menghianati kalian

kalian semua yang telah berselimut kain kafan
jawablah dengan tegas
kalian tidak bisa lagi berdalih, berkata kata
meski demikian, Tuhan kalian, tetaplah Allah Yang Esa
nabi kalian, tetaplah nabi pembebas,
Ibrahim, Musa, Dawud, Isa, dan Muhammad
tanpa memaksa kalian,
mengapa kalian harus risau
atas hukum penistaan
yang tidak tercatat para penjaga Arsy
para malaikat hanya mencatat:
siapa pendusta agama
siapa yang mengabaikan kebenaran
siapa yang memfitnah mereka yang percaya Tuhan
untuk mereka adzab yang pedih
bagiku pada keyakinanku
semua pengikut agama, adalah saudara meniti kebenaran
agamaku, adalah jalan kebenaranku
yang kan terus menghormati dan menghargai:
setiap jalan kebenaran khalifah bumi
pada bangsa dan tanah airku
padamu negeriku
bagiku indonesiaku

Semarang, 30 12 2016


Ubaidillah Achmad, Penulis buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, Dosen UIN Walisongo Semarang, Pengasuh Majlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang.

Related Posts:

0 Response to "Kendeng Yang Kian Tersakiti"

Post a Comment