Ilmu dan Makrifat: Manusia Yang Mengerti Dan Mengenal Allah -Kajian Minhajul Abidin (2)


Oleh Ubaidillah Achmad

Dalam kajian ini, saya mengawali dengan memohon kepada Allah, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad dan para pembawa kitabullah: Nabi Dawud, Nabi Musa dan Mabi Isa. Selain itu, saya juga memohon kepada Allah, semoga Allah menempatkan pada martabat luhur (ulya) KH. Ahmad Al Mutamakkin dan KH. Abdullah Ismail Kajen serta para leluhur hingga Nabi Adam. Kepada ketiga guru saya: KH. A, Syahid Kemadu, KH. MSLH. Muslih Mranggen, dan KH. Wahab Hafidz Rembang, semoga berada di tempat para hamba hamba yang shalih dan berkah untuk para murid dan pewarisnya.

Sehubungan dengan tema pada salah satu bab kitab Minhajul Abidin ini, telah diberi judul oleh Maulana Al Imam Al Ghazzali, berupa Ilmu dan Makrifat. Judul ini bisa gunakan untuk menjawab problem keberagamaan masyarakat sekarang ini, yaitu banyak yang beragama namun mengacu pada imajinasi dan syahwat sendiri. Hal ini bertentangan dengan prinsip beragama yang dekenalkan oleh para Nabi dan utusanNya serta para Ulama, yaitu beragama yang didasarkan pada kesadaran akhlak yang mulia yang dibentuk dari pengetahuan, kesadaran, dan kesatuan ilmu dengan amal manusia, baik relasinya dengan Allah dan manusia.

Dalam tulisan ini, saya berupaya mengkaji uraian yang terdapat pada judul tersebut. Hasil kajian ini, saya beri judul sesuai dengan fokus kajian, sehingga lebih spesifik dan dapat dikembangkan pada pembahasan yang lebih kontekstual. Secara spesifik, kajian ini lebih menekankan pada pembahasan sesuai dengan judul tersebut di atas. Sehubungan dengan ilmu dalam kitab ini, berupa proses pengetahua keberagamaan yang secara kasat mata terkait dengan sumber ilmu pengetahuan (ilmu kaweruh) yang dapat menghubhngkan relasi suci, antara Allah, Manusia, dan Kesemestaan. Meskipun demikian, ini tidak mudah dapat dipahami oleh manusia secara umum. Konteks keilmuan ini, penulis sebut dengan istilah ilmu ilmu kemanusiaan. dan kesemestaan.

Sedangkan, terminologi Makrifat, adalah sumber ilmu penetahuan yang menghubungkan langsung antara manusia dan kesemestaan dengan Allah. Dalam ilmu makrifat memuat rahasia rahasia kosmologis dan rahasia ketuhanan. Dalam pengertian umum, ilmu makrifat sering dipahami sebagai ilmu pengetahuan ketuhanan dan jalan kebenaran yang tidak berbelok (agama) yang terintegrasi dengan sikap dan perilaku seseorang tentang ketuhanan.

Kedua makna ilmu ini merupakan bangunan keberagamaan yang akan membentuk kedewasaan dalam beragama. Karenanya, beragama tanpa bangunan kokoh dari kedua pengertian ilmu ini, maka akan membuat model beragama yang tercerabut dari akar keberagamaan yang ramah terhadap lingkungan hidup dan lingkungan kesemestaan (rahmatan lil'alamiin). Beragama tanpa kedua bangunan ilmu ini, maka akan mudah menjadikan orang beragama yang dalam keberagamaan selalu tergantung dengan imajinasinya sendiri versus apa yang disaksikan dihadapan mata terbukanya.

Dalam pembahasan ini, Maulana Imam Al Ghazzali ingin menegaskan, bahwa mempelajari ilmu bukan sesederhana yang dipahami kebanyakan orang, namun memiliki tujuan yang mulia, yaitu untuk proses melaksanakan darma kehidupan yang mulia. Dengan demikian, seseorang tidak akan menghadapi mara bahaya dan ilmu yang diketahui menjadi sia sia, karena tidak membentuk pandangan dan sikap kepribadian yang mulia, baik mulia dihadapan manusia dan mulia dihadapan Allah.

Padangan dan sikap keilmuan yang baik yang dimaksudkan oleh Maulana Imam Al Ghazzali dalam kitab Minhajul abidin, adalah ilmu yang terintegrasi membentuk kepribadian seseorang sebagai subjek yang selalu beribadah kepada Allah, baik berupa ibadah ritual maupun ibadah sosial. Ilmu dan ibadah merupakan pilar agama yang menjadi inti teks kewahyuan. Dalam minhajul abidin ditegaskan, bahwa isi langit dan bumi merupakan kawasan yang terhampar untuk pengembangan keilmuan dan kawasan yang terhampar untuk beribadah kepada Allah. Karenanya, pada hamparan kesemestaan antara langit dan bumi ini, diperintahkam supaya manusia mengetahui rahasia rahasia pada sistem kekuasaan-Nya (QS. At Thalaq/65: 12).

Sehubungan dengan kawasan antara langit dan bumi tersebut, terdapat pengatahuan yang dapat dipikirkan, diindera, dikaitkan, dan diselaraskan antara satu peristiwa dengan peristiwa, antara satu rahasia dengan rahasia yang lain. Dengan demikian, jika seseorang mengerti dan mengenal Allah, maka akan bisa lebih intens menangkap hikmah dan rahasia ketuhanan. Yang dimaksud dengan rahasia ketuhanan, adalah sebuah keagungan dan kekuatan yang secara langsung dapat dipahami, dirasakan, ditangkap, dan diintegrasikan antara keberadaan manusia yang bukan siapa siapa dihadapan ilmu Allah yang meliputi lingkaran alam semesta.

Kelemahan manusia yang paling nyata, adalah tidak mampu menempatkan keberadaannya (fisik dan psikis) menembus kawasan rahasia yang tidak serupa dengan unsur kealaman atau kesemestaan. Hal yang menakjubkan dari kelemahan manusia, telah memiliki fitrah yang semuanya mengakui Allah yang meliputi segala sesuatu yang selalu terasa hadir pada saat manusia menghembuskan nafas atau pada saat merasakan berada dalam keterbataaan sifat kemanusiaan. Dalam suasana keterbatasan manusia, manusia akan merasakan totalitas makna ketuhanan dalam hidup manusia. Karenanya, hampir semua manusia memiliki kesadaran untuk beribadah kepada-Nya (QS.Ad Dzariyah/51: 56), namun karena tidak mengerti dan mengenal Allah, maka masih banyak yang dikendalikan dengan imajinasi dan syahwatnya sendiri.

Jadi, jika membaca kitab minhajul abidin, maka pembaca akan menemukan penggunaan dua istilah yang saling terkait antara ilmu dan ibadah. Kedua istilah ini, juga diulang ulang dalam uraian penjelas teks minhajul abidin karya Imam Al Ghazzali. Dalam penjelasan kitab, ilmu diposisikan lebih utama dari pada ibadah, yang diibaratkan langsung berupa kelebihan Nabi dibandingkan orang yang paling rendah di antara umat Nabi. Adanya perbandingan antara ilmu dan ibadah ini, dimaksudkan agar seseorang tidak hanya beribadah, namun mengabaikan keilmuan yang dapat membentuk pengetahuan, pengertian dan kesadaran yang tinggi tentang relasi keberadaan manusia dengan Allah dan unsur kesemestaan.

Karenanya, dalam kitab ini, posisi seorang ulama yang tguh dalam beribadah dapat menjadi modeling dan inspirasi untuk dapat menguatkan keteguhan pandangan dan sikap keberagamaan, baik secara ritual maupun sosial. Dalam konteks ibadah, dijelaskan dalam kitab ini, bahwa seseorang sudah dapat dikatagorikan ibadah, seperti membangun negara dan menciptakan kemakmuran. Jika dikaitkan dengan konteks sekarang ini, hal yang juga dapat dikatagorikan ibadah, adalah memberikan pendampingaan kepada masyarakat yang membutuhkan pendampingan di tengah relasi kuasa yang tidak seimbang.

Rahasia Ilmu
Sehubungan dengan arti penting Ilmu: mengapa Manusia harus berilmu dalam beribadah? Maulana Al Imam Al Ghazzali menjawab, dengan ilmu, maka seseorang tidak akan beribadah sesuai kehendak imajinasinya, namun benar benar beribadah karena mengerti dan mengenal Allah, baik melalui sifat sifat Allah yang wajib dan yang mustakhil. Jika kita pahami, dalam kontek sekarang, bisa saja terjadi, seseorang secara simbolik beribadah kepada Allah, namun yang ada di pikirannya, hanyalah sikap anarkis dan kekerasan terhadap sesama manusia, sikap yang menolak kadilan dan persamaan antar sesama umat manusia. Karena tidak mengerti dan mengenal Allah, maka tidak pernah terfikirkan, bahwa Allah adalah Dzat yang memiliki sifat kasih sayang kepada semua anak cucu Adam dan Allah benar benar telah memuliakan anak cucu Adam.
Selain itu, dengan ilmu, maka seseorang dapat mengetahui dan membedakan yang baik dan yang buruk, yang menata ibadah dan yang merusak ibadah, dapat menghindari akhir kehidupan yang buruk (suul khatimah), Dalam konteks akhir kehidupan yang buruk ini, banyak dirasakan seseorang. Jika tidak berilmu, maka tidak akan dapat menjawab problem yang dihadapi pada saat ajal akan menjemputnya. Misalnya, problem hati akan menjadi ragu ragu dan tidak percaya kepada Allah, problem hati yang akan menjadi tenggelam pada sikap kecintaan pada harta dan benda serta urusan dunia.

Rembang, (14/11/2016)


Ubaidillah Achmad, Penulis buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng, Dosen UIN Walisongo Semarang dan Majlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang.

Related Posts:

0 Response to "Ilmu dan Makrifat: Manusia Yang Mengerti Dan Mengenal Allah -Kajian Minhajul Abidin (2)"

Post a Comment