Hikmah Perbedaan KH. Hasyim Muzadi Dan Gus Dur


Oleh Ubaidillah Achmad

Perbedaan akan melahirkan banyak hikmah. Dari perbedaan ada pandangan yang berbeda yang menguatkan sikap untuk berbeda. Bermula dari perbedaan, seseorang akan bersikap hati hati terhadap konflik yang akan timbul dari perbedaan. Konflik saja kurang menarik, namun yang lebih menarik, adalah pandangan seseorang yang tumbuh matang dan dewasa pasca konflik.

Dalam konflik orang yang tidak bisa mengambil hikmah, hanya ada dua kemungkinan, jika menang bisa membuat lupa diri, namun jika kalah bisa membuat kecil hati. Sedangkan, bagi seseorang yang dapat mengambil hikmah, juga ada dua kemungkinan: menang bisa lebih hati hati karena pernah mengalami kekalahan, kalah dapat memetik hikmah kekalahan.

Bagaimana jika terjadi perbedaan antara mereka yang sama sama memegang risalah kenabian? Meskipun media berbeda, tujuan tetap sama, sebagaimana mengacu pada tujuan risalah kenabian. Misalnya, tetap mengacu pada tujuan beribadah untuk mencari ridlau Allah dan mengacu pada akhlak mulia Nabi Muhammad. Yang menarik, adalah bagaimana triks menguasai konflik menjadi aroma harum yang mengikat dan melahirkan eksistensi diri bagi para pelaku konflik.

Hikmah Perbedaan
Berikut ini, catatan saya terhadap pandangan KH. Hashim Muzadi, Mengapa perlu mencatat pandangan KH. Hasyim Muzadi terhadap Gus Dur? karena ada beberapa hal menarik yang perlu dicatat, dan betapa sebuah intensitas pertemuan itu tidak menjamin sebuah komitmen untuk selalu sama dalam satu pandangan dan gerakan. Sebagai contoh, KH. Hasyim Muzadi selama 20 tahun bersama Gus Dur, namun berbeda pandangan dan pola gerakan. Hal ini, merubakan bentuk yang terjadi di lingkungan tradisi NU. Boleh beda dalam kebersamaan, boleh bersama sama dalam perbedaan.

Terlihat selama dua periode memimpin NU (dari tahun 1999 – 2009; masing-masing periode lima tahun), KH. Hasyim Muzadi telah menunjukkan perilaku politik yang berbeda dengan Gus Dur. Misalnya, selama KH. Hasyim Muzadi menjadi ketua PWNU Jatim, telah menunjukkan kebersamaannya dengan pandangan dan pemikiran Gus Dur, namun setelah menjadi ketua PBNU, banyak yang dapat dibaca sikap perbedaan pandangan dan pola gerakan menjawab problem keberagamaan, keragaman dan kebangsaan.

KH. Hasyim Muzadi merupakan tokoh penting yang bisa menjadi salah satu di antara saksi perkembangan pemikiran Gus Dur, namun bukan berarti KH. Hasyim Muzadi adalah kunci atau satu satunya pintu membaca keunggulan dan komitmen Gus Dur di tengah perjuangan menegakkan demokrasi di indonesia. Banyak dari pandangan dan perilaku politik KH, Hasyim Muzadi yang tidak menapak jejak kegigihan Gus Dur menguatkan peran kesadaran kewarganegaraan masyarakat NU dan keragaman bangsa Indonesia.

Langkah Gus Dur selalu didasarkan pada kepentingan risalah dan pencerahan kepada umat manusia. Gus Dur membawa NU berjalan di jalan politik kebangsaan, namun KH. Hasyim Muzadi, lebih bersifat strukturalis dan berdasarkan kehendak pemimpin yang berkuasa. Hingga sekarang, saya belum menemukam pandangan KH. Hasyim Muzadi yang menunjukkan keberpihakan kepada perjuangan untuk jangka panjang pembangunan secara berkelanjutan. Misalnya, belum terlihat sikap KH. Hasyim Muzadi terhadap konflik kewarganegaraan yang menunjukkan klas minoritas-mayoritas, terhadap kasus geger pegunungan kendeng utara yang memakan waktu 4 tahun lebih hibgga sekarang.

Siapa pun berhak atas kepentingannya sendiri. Kepentingan seseorang merupakan kehendak yang umum terjadi pada diri setiap orang. Sebagai contoh, keberadaan Gus Dur menjadi istimewa. Hal ini disebabkan apa yang digerakkan Gus Dur, adalah sebuah sikap pemikiran yang jarang dimiliki oleh setiap orang. Karenanya, kehadiran resolusi Gus Dur di tengah konflik keberagamaan dan kewarganegaraan merupakan bentuk kehadiran sejarah resolusi konflik yang penting dan berharga bagi bangsa Indonesia.

KH. Hasyim Muzadi mengaku telah mendampingi Gus Dur, namun sebagai pendamping terbaca berbeda dengan prinsip dan pilihan pencerahan Gus Dur. Jika benar dalam pengakuan KH. Hasyim Muzadi, telah dalam waktu 20 tahun mengikuti jalan pikiran Gus Dur, maka KH. Hasyim belum menangkap sepenuhnya modeling Gus Dur menjawab masalah ke-Nu-an, Keislaman perspektif Islam Nusantara, Keislaman Global dan situasi politik Internasional.

Karenanya, saya menyebut selama KH. Hasyim Muzadi mengikuti jalan pikiran Gus Dur, lebih menunjukkan sikap sama untuk berbeda atau sikap berbeda meskipun pernah bersama sama Gus Dur.

Hal ini nampak dari pengakuan KH. Hasyim Muzadi tentang Gus Dur, sebagaimana yang di share di http://www.nu.or.id/post/read/73798/kisah-kiai-hasyim-20-tahun-mendampingi-gus-dur. Dalam pandangan KH. Hasyim Muzadi, Gus Dur lebih mengetengahkan pendekatan filosofi religius, etika religi, kemanusiaan (Humanity) dan budaya. Bahkan, KH. Hasyim Muzadi menegaskan, bahwa ada yang kurang diperhatikan Gus Dur, misalnya, menggunakan ilmu fiqih sebagai bagian dari syariat.

Selain itu, Kiai Hasyim, juga beranggapan, bahwa yang dijadikan dasar pijakan dalam pemikiran Gus Dur bukan pada prinsip legal syariat, namun lebih menekankan pada hikmah terbentuknya hukum Islam (hikmatutasyri’) dan tujuan terbentuknya syariah (maqoshiduttasyri’).

Analisis Sosial Keagamaan
Dalam konteks ilmu fiqh, justru yang dilakukan Gus Dur, adalah berdasarkan pemahaman yang mendalam terhadap teks kewahyuan dan hadis. Corak berfikir seperti ini dapat dikatagorikan sebagai bentuk berfikir untuk mendapatkan proses berfikir dan proses pemahaman yang mendalam. Karenanya, KH. A Hasyim Muzadi perlu meninjau kembali terhadap pernyataannya yang mengatakan, bahwa Gus Dur tidak banyak menggunakan ilmu fiqih sebagai bagian dari syariat.

Dalam pandangan KH. Hasyim Muzadi, Gus Dur lebih menekankan penggunaan hikmah terbentuknya hukum Islam (hikmatutasyri’) dan tujuan terbentuknya hukum Islam (maqoshiduttasyri’). Sehubungan dengan pandangan KH. Hasyim ini, dapat diajukan sebuah pertanyaan berikut: bukankah cara Gus Dur dengan menggunakan hikmatutasyri’ dan maqoshiduttasyri’ itu dasar dari cara berfikir ilmu fiqh? bukankah kedua cara Gus Dur ini, juga menjadi bagian dari bangunan dasar terbentuknya arsitektur hukum Islam?

Selain itu, KH. Hasyim Muzadi juga telah bersimpulan, bahwa pola berfikir Gus Dur berbeda dengan perspektif umat Islam Indonesia yang masih bertumpu kepada masalah tauhid dan fiqh, yang secara logis dapat dipahami selama ini tidak nampak dari prinsip pemikiran dan gerakan Gus Dur.

Apakah benar demikian? saya kira tidak demikian, sebab Gus Dur sangat ketat dalam memahami tauhid, bahkan telah mampu membuat rumusan tauhid pembebasan yang bersumber dari prinsip para nabi pembebas yang telah gigih melakukan pembebasan pada zamannya. Prinsip para Nabi Pembebas telah membentuk kekhasan perilaku atau gerakan pembebasan dan pencerahan Gus Dur.

Gus Dur juga gigih memperjuangkan kemajuan cara berfikir masyarakat santri, menguatkan sistem keragaman bangsa, dan menguatkan kebinikaan di lingkungan masyarakat Indonesia. Dalam pandangan saya, sosok Gus Dur tidak sesederhana seperti dalam pandangan KH. Hasyim Muzadi.

Meskipun demikian, Dalam pandangan saya KH. Hasyim Muzadi, tetap menunjukkan kearifannya membaca Gus Dur. Hal ini terbaca dari pemgakuan KH. Hasyim (http://www.nu.or.id) berikut ini:

Gus Dur berjasa besar kepada Nahdlatul Ulama, utamanya di bidang perluasan wawasan sehingga dalam 4 tahun menjabat sebagai wakil katib PBNU, Gus Dur mempersiapkan khittah 1926 di Muktamar situbondo tahun 1984.

Selain itu, dalam pengakuan KH. Hasyim Muzadi, bahwa Gus Dur tidak pernah merasa keberatan apa-apa untuk dikatakan sesat, karena Gus Dur sangat mengetahui hal tesebut berangkat dari pemikiran legal formal yang hitam putih. Tetap saja Gus Dur bersilaturahmi kepada semua pihak bahkan tokoh tokoh yang tidak setuju pendapatnya, karena menurut Gus Dur sendiri kelompok yang tidak setuju merupakan sesuatu yang logis saja sebagai akibat dari sistem pemikiran.

Rembang, 22 12 2016


Ubaidillah Achmad, Penulis buku Islam Geger Kendeng dan Suluk Kiai Cebolek, Dosen UIN Walisongo Semarang, Khadim Majlis Kongkow As Syuffah Sidorejo Pamotan Rembang.

Related Posts:

0 Response to "Hikmah Perbedaan KH. Hasyim Muzadi Dan Gus Dur"

Post a Comment