Bertani Di Pegunungan Kendeng Tidak Segampang Ngomong Di Dalam Forum Kelas Perkuliahan. Pak!

Sumber ilustrasi gambar google.com

Di tengah semangat juang orang-orang yang bersolidaritas untuk aksi cor kaki jilid 2, ada cacat paham yang harus diwaspadai teman-teman mahasiswa khususnya teman-teman satu kelas saya dari para pengagum ilusi pembangunan. Entah apa motifnya, saat jam perkuliahan kelas hampir selesai tiba-tiba dosen pengampu mata kuliah []—tidak usah disebut nama dan gelar akademiknya, berbicara juga bercerita di depan forum kelas terkait seputar aksi yang dilakukan oleh ibu-ibu kendeng yang tengah memperjuangkan alam lestari.

Sebagai akademisi ilmu ekonomi, dalam omongannya tersebut, ia sangat menyayangkan aksi menolak pendirian pabrik semen oleh para kartini kendeng dan orang-orang yang tengah bersolidaritas. Menurutnya jika pabrik semen beroperasi, akan bisa mengangkat derajat kesejahteraan ekonomi rakyat setempat. Selain menyerap tenaga kerja, beroperasinya pabrik pun akan membuka ruang-ruang ekonomi baru dan memperluas skala industri-industri tambang lokal. Ia pun juga meyakini bahwa perubahan tatanan ekonomi masyarakat akan menjadi lebih baik dengan adanya pabrik semen; tidak akan ada lagi ketimpangan ekonomi di sana.

Seorang dosen fakultas ekonomi tersebut justru menyarankan orang-orang  yang menolak pabrik semen termasuk teman-teman satu kelas saya agar berbalik pikiran. Dan analisis orang-orang yang mengkhawatirkan kerusakan lingkungan tidak dibenarkan olehnya. Baginya, masyarakat Kendeng harus yakin bahwa demi kesejahteraan rakyat, industri semen akan memberikan solusi atas kerusakan lingkungan. Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Semen Indonesia tidak perlu diragukan lagi komitmennya dalam mengurus lingkungan rakyat. Sebegitu yakinnya si dosen tersebut, hingga ia menyimpulkan bahwa masyarakat harus meyakini bahwa pabrik semen bisa menyejahterakan masyarakat setempat— dengan mengambil contoh pabrik semen gresik tuban. Begitulah argumen pendek basa-basi si dosen di depan teman-teman mahasiswa kelas saya untuk membela pabrik semen. Dan "Orang-orang yang demo itu mendapat bayaran" imbuhnya dalam forum kelas yang waktu itu sempat terasa sunyi.

Mendengar omongan si dosen, saya merasa ada selipan cacat paham ilusional dalam benaknya. Akademisi ekonomi macam si dosen tersebut adalah tipikal pengagum ilusi pembangunan belaka. Bagi orang macam itu, pendirian obyek kapital adalah modal pembangkit kesejahteraan rakyat. Tanpa melihat kearifan ekonomi masyarakat lokal, ia yakin bahwa menghadirkan obyek kapital adalah opsi baik untuk memajukan kesejahteraan masyarakat setempat. Ia tidak melihat efek-efek buruk industrialisasi berbasis eksploitasi alam bagi masa depan perekonomian lokal yang digerakkan kaum tani.

Masyarakat Kendeng seperti Joko Prianto (Mas Print), Bu Sukinah, dan yang lainnya adalah orang yang menyambung hidup dari pertanian. Membuka lahan pertanian di sana, tentunya membutuhkan jumlah air yang tidak sedikit guna mengaliri lahan. Mas Print dan orang-orang sekitarnya paham betul bahwa cadangan air tanah (CAT) di Watuputih (Pegunungan Kendeng) menyimpan banyak air yang bisa digunakan untuk irigasi dan urusan hajat hidup lainnya. Bahkan, ketika saya membaca prosiding hasil penelitian Ming Ming Lukiarti dkk. untuk Seminar Kebumian Ke-7 di Universitas Gadjah Mada (UGM), dinyatakan bahwa CAT Watuputih menampung hingga 54-an juta liter air. Di Kendeng sendiri juga ditemukan sebanyak 109 mata air. Air yang ditampung CAT ini pun dimanfaatkan oleh masyarakat Rembang, Pati, Grobogan, dan Blora.

Karenanya, tidak bisa dipungkiri bahwa melestarikan alam Pegunungan Kendeng sama artinya dengan melestarikan kehidupan makhluk hidup sekitarnya, termasuk manusia. Dan manusia-manusia yang ada di sana sudah menyambung laku hidupnya dengan cara bertani. Ini artinya masyarakat sangat membutuhkan potensi alam untuk menghidupi diri. Ketersediaan air adalah hal vital yang harus dijamin adanya. Dan muncul pertanyaan dalam benak saya "Apakah si dosen tersebut memiliki pemahaman bertani tanpa air?"

Dengan pemahaman ilusionis tentang pembangunan pabrik, si dosen mendamba efek kesejahteraan ekonomi berbasis eksploitasi alam. Melalui omongannya di forum kelas, ia membayangkan orang-orang desa menjadi pekerja pabrik manufaktur. Menjadi pekerja pabrik, artinya mengakses pertumbuhan ekonomi. Sedangkan pertumbuhkan ekonomi yang mengesampingkan kelestarian alam dan kearifan mata pencaharian yang mendarah daging, sama saja memutus rantai kesejahteraan yang sudah berkesinambungan untuk rakyat. Saya pikir, si dosen juga tidak memikirkan efek kesengsaran menjadi buruh manufaktur bagi orang-orang desa.

Belum tentu, bekerja pada sektor manufaktur itu menyejahterakan. Kita sering mengetahui bahwa buruh pabrik sampai hari ini masih menuntut kesejahteraan. Tidak hanya soal upah, kesejahteraan sosial seperti jam kerja dan hak-hak eksistensial di luar pabrik masih cenderung diabaikan pihak perusahaan. Persaingan industri manufaktur yang menuntut laba tinggi, acapkali memeras tenaga pekerjanya untuk terus menghasilkan produk komoditas. Solusinya ialah para pekerja diharuskan lembur oleh pihak perusahaan untuk melakukan produksi besar-besaran. Apalagi kalau pihak perusahaan sedang bersaing seketat-ketatnya dengan perusahaan lain, otomatis para pekerja dikorbankan demi asap pabrik tetap mengepul.

Membandingkan pola kerja petani dan pekerja manufaktur, tentunya bisa ditemukan perbedaan di antara mereka dalam mengelola eksistensi sosial masing-masing. Buruh manufaktur yang bekerja berjam-jam, dengan kedisplinan yang diatur, belum lagi kalau lembur, akan sangat kesulitan mencari celah waktu untuk sekadar bersosialisasi memikirkan nasib sesamanya. Mereka pun tak perlu tahu urusan komoditas yang mereka produksi akan berakhir dikonsumsi oleh siapa. Ini beda dengan pola kerja dan eksistensi sosial kaum tani.

Kaum tani, sudah tentu memikirkan kemana komoditas pangan yang ditanamnya akan dipasarkan. Dengan kepunyaan waktu yang diatur sendiri, para petani lebih memungkinkan untuk bergaul mengorganisir diri dan memikirkan nasib kesejahteraan bersama. Mereka lebih punya kesempatan untuk mengontrol mekanisme pasar atau menyerahkan kepada siapa komoditasnya dikonsumsi. Bila memang ada kasus pertanian di suatu daerah kurang sejahtera, itu disebabkan oleh faktor eksternal non-petani seperti permainan para pemodal untuk menguasai pasar bahan pangan. Intinya, pertanian bisa semakin sejahtera bila kaum petani tidak diganggu aktivitas perekonomiannya. Sebab, tidak ada majikan bagi petani kecuali alam.

Dengan analisis di atas, melihat potensi Pegunungan Kendeng, kesejahteraan ekonomi yang cocok untuk diterapkan di sana ialah pertanian. Walau ada juga masyarakat lokal yang bekerja sebagai penambang di atas pegunungan, tapi resiko menambang jelas jauh lebih berbahaya dibandingkan bertani. Logikanya, kalau gugusan karst habis untuk ditambang, mau apa lagi yang harus dikorbankan buat makan? Beda dengan pertanian, dengan kelimpahan sumber daya alam yang tersedia, para petani bisa terus menghasilkan pangan dan mewariskan sistemnya secara turun-temurun lintas generasi.

Mendengarkankan ceramah anti perjuangan oleh si dosen yang dengan menggebu-gebu, saya pun merasa risi dan gerah berada di dalam kelas, lalu saya putuskan untuk searching-searching berita perkembangan aksi cor kaki jilid 2. Dan dengan tidak sengaja saya menemukan tulisan dari mas taufik dalam akun media tumblr nya yang tengah berkunjung di wilayah Kendeng bersama teman-teman Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekspresi guna melakukan liputan sekaligus mampir bersolidaritas dengan Mas Print, Bu Sukinah, dan para tetangganya pada oktober 2016 yang lalu. Menurut hasil liputan mereka, terdapat beberapa tambang lokal yang berada di wilayah Kendeng dan dari pertambangan lokal yang ada tersebut sudah cukup mengkhawatirkan. Tambang karst lokal yang dimulai sejak akhir dekade 90-an tersebut dipelopori oleh para pemilik otoritas (penguasa) lokal seperti kepala desa dan bupati yang sempat menjabat. Dan dari situ, para pejuang petani kendeng tidak menginginkan lagi adanya pertambangan baru di pegunungan Kendeng. Dan karenanya, disini saya menyimpulkan, bahwasanya pantaslah jika keberadaan pabrik semen di tolak habis-habisan oleh masyarakat Kendeng.

Saya memang bukanlah siapa-siapa di dalam hiruk piruk para pejuang yang tengah memperjuangkan alam lestari. Tapi, mendengarkan omongan si dosen tersebut di dalam forum perkuliahan, saya melihat ada kegegalan paham dari seorang akademisi yang mengagungkan-agungkan ilusi. Meminjam contoh pabrik semen gresik tuban, ia mencoba memberi pemahaman kepada teman-teman mahasiswa kelas saya melalui ocehannya.

Mungkin bagi nalar ilusionis si dosen, mengoperasikan pabrik untuk menaikkan taraf hidup masyarakat pegunungan itu sama mudahnya dengan mbacot teori kesejahteraan pembangunan di ruang kuliah. Ia dengan bijaksananya, mengklaim pengoperasian pabrik adalah upaya menyejahterakan rakyat, dan pejuang yang tengah memperjuangkan hak alam lestari adalah para orang-orang yang dibayar. Beda paham dengan saya yang anti penindasan, saya cenderung melihat basis kesejahteraan berdasarkan potensi lokalitas yang dimiliki masyarakat setempat. Secara empirik, saya menyaksikan betapa hijaunya lahan pertanian dibanding morat-maritnya pertambangan lokal di atas Kendeng. Nah, kalau kehadiran pabrik Semen Indonesia direstui, apa tidak semakin bikin morat-marit alam, pak dosen?

Sebagai seorang mahasiswa yang mengagumi Tan Malaka, Wiji Thukul, dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya, saya ragu kalau akademisi ekonomi macam si dosen diatas sempat membaca pemikiran (alm) Tan Malaka juga Wiji Thukul yang menjadi tokoh pembela rakyat tertindas, melawan tirani. Dan juga Dr. Alexander Sonny Keraf, pria kelahiran Lembata, Flores Timur, 1 Juni 1958 yang mengatakan "Saya mantan menteri lingkungan hidup, saya 5 tahun sebagai wakil ketua komisi yang membidangi lingkungan, saya terlibat menyusun undang-undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, dan posisi saya tentang semen di seluruh Pegegunungan Kendeng adalah harus dihentikan. Karena sejak menteri sebelum saya, Pak Sarwono, melihat bahwa di Jawa sudah tidak layak ada pembangunan pabrik semen dari sisi daya dukung dan daya tampung lingkungannya." dalam saluran youtube juga tulisannya "Jadikan Lingkungan Hidup Panglima Pembangunan" dalam laporan yang ditulis Koran Kompas edisi 24 Maret 2017. Serta (alm) Mubyarto, begawan ekonomi kerakyatan UGM, melalui esai Pertanian dan Ketahanan Ekonomi Rakyat yang diterbitkan oleh Mubyarto pada tahun 1998, ia mengungkapkan bahwa sistem pertanian berkelanjutan dari rakyat haruslah didukung. Konservasi sumber daya alam dan pemanfaatan ilmu pengetahuan petani adalah potensi dari sistem pertanian berkelanjutan ini. Maka, dengan sistem inilah krisis pangan bisa diatasi dan otomatis menjamin ketahanan perekonomian rakyat.

Saya meyakini bahwa kita harus berjuang untuk melawan tirani pada tatanan Negara yang menindas, menjadikan lingkungan hidup sebagai panglima pembangungan dan juga mengamini konsep kesejahteraan ekonomi rakyat yang digagas Mubyarto wabilkhusus untuk masyarakat pegunungan. Bahwa kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal lah yang sebenarnya menjadi sarana kemakmuran rakyat, bukan malah dengan cara mengundang “monster besar” untuk menyantap karst di pegunungan. Sebaliknya, meminjam istilah Revrisond Baswir, murid Mubyarto, apa yang diilusikan oleh si dosen menandakan dirinya sebagai “ekonom terjajah”.

Ekonom terjajah ialah pemikir ekonomi yang cenderung mengidolakan tata pembangunan ekonomi ala Orde Baru; cenderung mengejar pertumbuhan tinggi namun lupa menyokong kesejahteraan rakyat. Adapun manifesto ekonomi macam itu semakin terjebak dalam jerat kapitalisme global. Memperbanyak industri manufaktur untuk fokus menjual komoditas namun komoditas tersebut dipakai hanya untuk menyerap keuntungan modal sebanyak-banyaknya; bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain. Sehingga seringkali terlupa (atau sengaja dilupakan), sesungguhnya masyarakat yang berada di dekat obyek kapital (industri manufaktur) tidak membutuhkan samasekali kegunaan komoditas yang diproduksi oleh sebuah pabrik.

Memandang kepada industri semen, menurut data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), dalam setahun kemarin, kapasitas produksi industri semen mencapai 92 juta ton sedangkan perkiraan konsumsi semen yang dibutuhkan dalam negeri hanya 62 juta ton. Melihat overproduksi tersebut, Thomas Lembong, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyarankan agar investasi terhadap industri semen harus dihentikan. Alasannya, permintaan akan semen lebih rendah dibanding jumlah pasokannya. Dari sini, muncullah pertanyaan, apakah rakyat mau diberi makan kelebihan semen? Untuk menyantap nasi, sambal, dan tempe goreng saja masih banyak yang kesusahan.

Mendebat pernyataan si dosen yang menyayangkan perjuangan petani Kendeng, adalah peringatan bahwa masih ada pakar akademisi ekonomi yang melupakan arti penting sebuah perjuangan. Makna “kesejahteraan rakyat” acapkali disamakan dengan pembangunan obyek kapital untuk menjual komoditas sebanyak-banyaknya. Maka terlalu naif lah apabila seorang pemikir ekonomi melupakan basis kesejahteraan rakyat lokal seperti bertani sebagai potensi yang semestinya lestari.

Saya rasa ada satu hal yang harus si dosen di atas yakini: bahwa bertani di Pegunungan Kendeng tidak segampang mbacot di dalam forum kelas perkuliahan!

Dalam konteks pembahasan tulisan ini, saya ingin meminjam kata-kata dari Tan Malaka untuk teman-teman mahasiswa di kelas saya: "Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali"
Dan Wiji Thukul: "Satu kata untuk penindasan: Lawan!"
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat!
Salam Kendeng, Lestari.


Kudus, 26/03/2017

Related Posts:

0 Response to "Bertani Di Pegunungan Kendeng Tidak Segampang Ngomong Di Dalam Forum Kelas Perkuliahan. Pak!"

Post a Comment