Rangkuman: “Definisi dan Konteks Berpikir Kritis”


Sumber Gambar google.com

Seringkali dijumpai, seseorang melakukan suatu tindakan disebabkan oleh kondisi sosial yang tidak bisa dikenalinya. Demikian pula, banyak orang yang melakukan suatu tindakan bukan merupakan akibat dari pengetahuan dan pilihan yang disadarinya. Tingkat kesadaran orang yang melakukan tindakan semacam ini berkutat pada kesadaran magic (magical consciousnes) dan kesadaran naif (naival consciousnes).

Tak pelak lagi, perlu dibongkar sistem-sistem hubungan sosial yang menentukan tindakan individu dan konsekuensi tindakan kebetulan. Dalam konteks ini, Paulo Freire menamakan bentuk kesadaran tersebut dengan kesadaran kritis (critical consciousnes). Model berpikir kritis merupakan model yang menuntut bahwa para praktikusnya berusaha menemukan kaidah kuasi-kausal dan fungsional tentang tingkah laku sosial dalam konstalasi kehidupan sosial sehari-hari.

Secara teoritik, kecenderungan untuk menekankan pada satu dimensi dalam melihat gejala-gejala sosial berakar dari persoalan: apa yang paling menentukan suatu tindakan sosial terjadi dalam masyarakat apakah kesadaran individu atau masyarakat yang lebih menentukan tindakan sosial ataukah struktur sosial dengan seperangkat institusinya yang mempengaruhi individu dan masyarakat dalam melakukan tindakan sosial.

Persoalan-persoalan inilah yang “menghantui” perkembangan teori-teori sosial modern dan kontemporer. Dalam perkembangan teori-teori sosial modern, pola kecenderungan untuk menekankan salah satu kutub secara ekstrem telah dimulai dari sosiologi Comte. Comte menekankan tingkat budaya dalam kenyataan sosial, khususnya tahap-tahap perkembangan intelektual. Kecenderungan ekstrem pada salah satu kutub ini sesungguhnya disadari oleh Marx dengan memperkenalkan pendekatan dialektika materialisme-historis dalam fenomena sosial. Menurut Marx “Men make their own history, but they do not make it just as they please“.

Namun demikian, karena Marx lebih memusatkan perhatiannya pada cara orang menyesuaikan diri dengan lingkungan fisiknya, ia justru terjebak untuk lebih menekankan struktur sosial daripada kesadaran aktor. Kegagalan Marx dalam mempertahankan posisi dialektis suatu fenomena sosial terumuskan dalam ungkapannya sendiri: “It is not the consciusness of men that determines their existence, but their sosial existence that determines their consciusness”. Perilaku sosial, dengan demikian, lebih berorientasi kepada lingkungan. Lingkungan ini tentunya tidak hanya membuat kondisi-kondisi tetapi bagian dari perumus tujuan-tujuan dan norma-norma kelakuan sosial.

Di tempat yang berbeda, kecenderungan untuk menekankan kutub kesadaran individu-individu dirumuskan oleh Weber. Menurutnya, bukanlah struktur-struktur sosial atau peranan-peranan sosial yang pertama-tama menghubungkan orang dan menentukan isi corak kelakuan mereka, melainkan “arti-arti” yang dikenakan orang kepada kelakuan mereka. Bagi Weber, hanya individu-individu yang riil secara objektif, dan masyarakat menunjukkan sekumpulan individu-individu. 

Dalam konteks dikotomistis ini, Parsond tampil untuk menyatukan dikotomi ini dengan teori fungsionalisme-struktural. Ia ingin memperlihatkan bagaimana posisi individu-individu dari perannya dalam fungsi-fungsi struktur sosial. Namun demikian, tujuannya untuk menjelaskan “bagaimana keteraturan masyarakat itu dimungkinan” justru menyeret dia untuk lebih mementingkan sistem struktur sosial daripada individu-individu. Posisi yang sama juga telah dilakukan Herbert Mead lewat teori “Interaksionisme-simbolis”. Baginya, struktur sosial memang menyediakan kondisi-kondisi tindakan sosial, tetapi tidak menentukan.

Dalam perkembangan teori-teori ilmu sosial yang paling kontemporer, usaha untuk melihat hubungan masyarakat (individu-individu) dengan struktur sosial secara seimbang juga sedang dilakukan. Berger, misalnya, mencoba menghindari kecenderungan yang lebih menekankan salah satu kutub melalui teori “konstruksi sosial”. Menurut teori ini, dunia sosial dipahami dalam pola hubungan yang dialektis antara individu dan struktur sosial melalui tiga momentum proses, yakni eksternalisasi, objektivisi, dan internalisasi.

Kita juga melihat usaha yang sedang dirumuskan oleh Anthony Giddens lewat teori “strukturasi”. Giddens dalam konteks aktor dan struktur sosial ini menunjukkan titik tolak hubungan tersebut dalam kesadaran subjek yang bersifat intensional. Kesadaran itu baginya bukan sesuatu yang tertutup dan terlepas dari objek-objek yang disadari, tapi kesadaran selalu mengarah dan melibatkan objek. Demikian pula tindakan sosial (agency) selalu mengandalkan keterlibatan struktur sosial. Tindakan sosial tidak pernah terlepas dari struktur sosial, struktur dalam konteks tindakan sosial, dengan demikian, berperan sebagai sarana (medium) dan sumber-daya (resources) bagi tindakan sosial, yang kemudian membentuk sistem dan institusi sosial. Bentuk pelibatan tindakan sosial dengan struktur ini ditunjukkan Giddens dalam apa yang disebutnya sebagai “recurrent sosial practioces”. Proses strukturasi ini terjadi pada tingkat kesadaran praktis (practical consciousness). Dan pada level kesadaran ini pula struktur dibangun dan dilanggengkan dalam rutinisasi dan direproduksi. Ini bisa berlangsung karena pada tindakan sosial yang berulang-ulang berakar suatu rasa aman ontologis (otological anxiety). Proses strukturasi ini mencapai titik baliknya pada kesadaran diskursif (discursive conciousness). Dalam kesadaran yang terakhir inilah terbentuk daya reflexity dalam diri pelaku (agency) untuk mengambil jarak dan mensiasati secara kritis suatu gejala. Perubahan sosial dalam konteks ini terjadi lewat aplikasi reflexity.

****
Kegiatan berpikir tidak bisa kita pisahkan dengan manusia. Berpikir selalu menyertainya dimanapun dan kapanpun manusia itu berada. Melalui kegiatan berpikir manusia dapat mengenal lingkungan dan hakekat dirinya yang sebenarnya, menyelesaikan masalah dan memberikan solusinya, dan seterusnya. Tanpa melalui adanya proses berpikir, manusia tidak dapat melakukan apa yang terbaik bagi dirinya dan apa yang harus dilakukan dalam setiap kehidupannya.

Sebagai makhluk Tuhan, manusia adalah ciptaan-Nya yang paling sempurna dan memiliki keistimewaan yang tidak dipunyai oleh makhluk-makhluk yang lain. Kesempurnaan dan keistimewaan itu kita kenal dengan akal. Akal inilah yang menjadi medium satu-satunya untuk melakukan proses berpikir. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika manusia itu disebut dengan “homo sapiens“. Yakni, manusia yang terlahir dari pikiran manusia itu sendiri: ia berakal karena kegiatan berpikir, pengetahuan yang dicapai, dan kehendak yang dimiliki dan dijalankan. Di sinilah kadang manusia itu berbeda dengan hewan. Atau dalam ungkapan yang lain, manusia adalah hewan yang berperingkat paling tinggi, alias hewan yang berakal.

Kenyataan seperti itu semakin memantapkan keyakinan manusia akan eksistensi dirinya, sehingga –tidak berlebihan– seorang filosof seperti Descartes menyatakan secara lantang “Cogito ergo sum” yang berarti “saya berpikir maka saya ada”. Paling tidak, pernyataan tersebut dilontarkan oleh Descartes sebagai kepastian akan eksistensi diri kita sendiri. Justru pernyataan inilah yang dapat membawa dan mengantarkan dunia Eropa-Barat ke alam kemajuan atau yang sering kita kenal dengan zaman aufklarung (pencerahan).


Definisi Berpikir Kritis
Dalam pengertian yang paling sederhana, “berpikir” dapat didefinisikan sebagai sebuah kegiatan jiwa atau mental manusia yang melibatkan akal (mind) untuk mencerap sesuatu. Jika dinyatakan bahwa si A itu memikirkan sesuatu, maka berarti ia telah membawa sesuatu (objek) ke dalam pikirannya. Buah yang dihasilkan dari proses kegiatan ini kita sebut dengan pemikiran.

Tentunya, kegiatan berpikir juga tidak dapat dilepaskan dari tindakan-tindakan lain yang bersifat mental. Kegiatan berpikir melibatkan tindakan seperti berkhayal, mengingat, berefleksi, intuisi, mengabstraksi, membayangkan, mengamati, mengindra, menganggap, menduga, dan seterusya. Oleh karena itu, adalah sangat mungkin suatu unsur berpikir bisa tercakup di dalam tiap-tiap hal itu.

Berpikir bisa saja digunakan untuk menghasilkan sesuatu atau tidak menghasilkan sesuatu sama sekali. Ia bisa dipergunakan demi tujuan: menipu, berdebat, menyatakan, menjelaskan, meminta maaf, merasinalisasikan, dan sebagainya.

Meskipun setiap manusia dibekali dengan daya pikir masing-masing, namun daya itu kadang tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam rangka menghadapi realitas praksis kehidupan. Seringkali orang terpedaya oleh pikiran-pikiran orang lain. Atau tertipu oleh hal-hal yang berada di luar dirinya, sehingga tidak dapat memberikan keputusan yang tepat. Ini berarti dapat dikatakan bahwa daya pikir saja tidak cukup bagi seseorang. Mustinya, daya itu harus diasah sedemikian rupa melalui pembelajaran-pembelajaran tertentu. Di sinilah kita perlu memaksilkan daya berpikir kita.

Hal lain yang juga tidak boleh dilupakan berkaitan dengan proses berpikir, bahwa pikiran yang dihasilkan oleh manusia tidak semata-mata lahir dari diri sendiri. Tetapi, kadang realitas yang berada di luar diri kita memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Ada faktor-faktor sosial yang mendorong, menentukan dan memperngaruhi pikiran seorang individu. Oleh karena itu,  kadang kita menemukan seseorang berpikir dengan menggunakan cara pikir kelompoknya. Hanya dalam arti yang terbatas seseorang itu sungguh menciptakan sendiri cara berpikir yang kita anggap berasal dari dirinya.

Tegasnya, seseorang dalam melakukan proses berpikir–sedikit banyak–telah mengambil bagian dalam pemikiran lebih lanjut yang telah dipikirkan oleh orang lain sebelumnya. Pada saat berpikir, seseorang berada dalam suatu situasi yang diwariskan  dengan pola-pola pemikiran yang sesuai untuk situasi ini dan berusaha menjelaskan lebih lanjut cara-cara menanggapi yang telah ada atau menggantinya dengan cara-cara lain supaya dapat menghadapi tantangan-tantangan baru yang muncul dari peralihan-peralihan dan perubahan-perubahan situasinya secara memadai. Di satu pihak, ia menemukan situasi yang sudah jadi dan di lain pihak di dalam situasi itu ia menemukan pola-pola pemikiran dan pola-pola tingkah laku yang telah terbentuk sebelumnya.

Dalam hal ini orang seringkali mengalami kegagalan berpikir dalam memahami hakekat suatu masalah. Kegagalan ini disebabkan karena seseorang tidak menyadari bahwa ketika memikirkan sesuatu ia berada dalam dua situasi (alam) yang berbeda. Yaitu, situasi saat sekarang dan sekumpulan pehamanan mengenai sesuatu yang diwarisi dari situasi sebelumnya.

Kegagalan dalam berpikir juga bisa saja ditimbulkan oleh adanya kepentingan tertentu. Kepentingan tumbuh dan bercokol dalam diri masing-masing individu. Untuk mendapat pemahaman mengenai hakekat suatu masalah, maka proses berpikir harus dijauhkan dari kepentingan tersebut. Baik kepentingan maupun berpikir adalah sama-sama berada di dalam diri setiap individu.

Jika seseorang tidak ingin mengalami kegagalan berpikir dalam memahami suatu masalah atau memberikan keputusan, maka harus mampu menjauhkan dirinya dari beberapa faktor yang dapat menjauhkan seseorang dari sesuatu yang menjadi objek berpikir. Dua hal tersebut di atas, yaitu adanya dua dunia pada saat melakukan kegiatan berpikir dan kepentingan yang bercokol dalam diri, merupakan contoh yang paling nyata dalam pengalaman kegagalan berpikir manusia.

Dari pemaparan ini, tentunya tidak semua atau setiap kegiatan berpikir dapat menuntun seorang individu dalam memahami hakekat masalah atau memberikan keputusan yang benar. Justru beberapa faktor seperti disinggung di atas seringkali menghambat, dan bahkan menjadikan kualitas berpikir manusia menjadi kurang memiliki manfaat atau bahkan sia-sia. Di sinilah agaknya kita butuh untuk bersikap secara kritis.
Max Horkheimer, seorang filosof berkebangsaan Jerman, pernah menyatakan bahwa “masa depan kemanusiaan tergantung pada adanya sikap kritis dewasa ini”. Tentunya, statemen ini tidak berlebihan jika kita kontekskan dengan tema pembahasan kali ini.

Dalam beberapa kamus disebutkan, bahwa kata “kritik” berarti mengupas atau membahas sesuatu secara cermat. Sebagian kamus lain juga menyebutkan bahwa kata “kritik” berarti memahami dan menganalisa sesuatu secara mendalam, tanpa tercampuri oleh hawa nafsu atau kecenderungan-kecenderungan lain.
Dalam kata kritik juga terkandung makna “mengubah”. Arti ini misalnya saja dapat kita temukan dalam pemahaman Popper ketika mendefinisikan “sikap kritis”. Menurutnya, sikap kritis adalah sikap bersedia mengubah hukum-hukum kita, mengujinya, menyangkalnya, dan memfalsifikasikannya bila mungkin.

Jika beberapa arti kritik ini kita hubungkan dengan kegiatan berpikir yang dilakukan oleh setiap manusia, maka dapat dipahami bahwa berpikir kritis tentunya merupakan sebuah kegiatan berpikir untuk memahami suatu obyek secara kritis. Kritis dalam arti tidak tercampuri oleh hawa nafsu atau kecenderungan-kecenderungan lain dan bersedia mengubah obyek pemikiran, mengujinya, menyangkalnya, dan memfalsifikasikannya. Singkatnya, berpikir kritis adalah suatu aktifitas yang menuntut kreativitas pikir secara terus-menerus, sehingga merupakan sebuah proses panjang dalam sejarah pemikiran umat manusia.

Berpikir kritis sangat diperlukan di tengah kehidupan praksis. Untuk kemajuan kehidupan, kritik mutlak diperlukan. Kritik merupakan motif utama untuk setiap perkembangan atau babakan kehidupan manusia. Apa yang dapat kita lakukan dengan berpikir kritis adalah merasionalisasikan hal-hal yang berkaitan dengan praksis kehidupan, selanjutnya memberikan putusan-putusannya  dan sekaligus mengubah kehidupan kita.
Pada titik ini, berpikir kritis hampir sama dengan berfilsafat atau berpikir kefilsafatan, karena filsafat –dalam dataran tertentu—diterjemahkan sebagai sikap kritis yang mempersoalkan segala sesuatu yang menurut kaca mata awam tidak perlu dipersoalkan. Namun, berpikir kritis bukanlah berpikir kefilsafatan atau berfilsafat itu sendiri. Jika tidak semua orang mampu melakukan kegiatan berpikir kefilsafatan, maka tidak demikian halnya dengan berpikir kritis.


Konteks Berpikir Kritis
Munculnya semangat intoleran, fasistik, eksklusif, dan otoritarianistik dalam sistem kehidupan sosial dewasa ini tidak bisa dipisahkan dari transformasi sosial, ekonomi, politik, dan budaya dalam skala global. Adapun aktor utama yang menjadi designer dan atau rekonstruktor sistem formasi sosial kontemporer tiada lain adalah kapitalisme aliran neo-liberal. Kelompok ini berambisi besar untuk menggiring tata pergaulan dan kehidupan sosial umat manusia menuju konstruksi global sistem dunia liberal kapitalistik yang berada di bawah kendali hegemoniknya.

Sistem hegemonik dunia kapitalisme saat sekarang ini memiliki kecanggihan adaptasional yang luar biasa sehingga dari waktu ke waktu ia mampu menghadirkan realitas yang serba baru. Seperti dimaklumi, wajah sistem dunia neo-liberal kapitalistik saat sekarang ini, pada hakekatnya, merupakan kelanjutan (continuity) dan sekaligus perubahan (transformation) dari gerakan modernisasi dengan paradigma developmentalismenya, dan gerakan kolonialisme masif negara-negara Barat atas negara-negara –meminjam bahasa kaum modernis– Dunia Ketiga (underdeveloped countries) pascarevolusi industri di era pencerahan (enlightenment).

Berkat kecanggihan pola transformasi dan adaptasi yang dilakukan para aktor kapitalis, maka sistem dunia kapitalisme sampai saat sekarang ini mampu mempertahankan eksistensi status quo struktur formasi sosialnya, dominasi, dan hegemoninya. Sehingga menjadikannya sebagai satu-satunya sistem dunia yang tidak ada pilihan lain bagi negara-negara yang diposisikan ke dalam zona dunia ketiga (under-developed countries) untuk tidak mengikutinya.

Realitas semacam ini telah memunculkan sebuah formasi sosial yang tidak saja penting, melainkan eksploitatif yang menempatkan pihak yang lemah (dunia ketiga/kaum proletar) selalu tergantung kepada pihak yang kuat (negara Barat/kaum kapitalis). Sementara itu, proses pelanggengan sistem global dunia modern yang didesain oleh kaum kapitalis neo-liberal diperkokoh dengan nalar positivisme yang terkenal dengan karakter epistemologinya yang serba objektivistik, empirik, rasionalistik, berjarak, dan bebas nilai serta universal.
Prinsip-prinsip pengetahuan yang tidak selaras dengan logika positivisme dinilai tidak rasional dan atau tidak ilmiah. Secara umum, nalar positivisme cenderung melihat segala sesuatu secara linier, serba tunggal atau seragam, absolut, dan kurang memberikan ruang bagi munculnya perbedaan. Maka, karakter dasar dari nalar ini pun tampak hegemonik dan eksploitatif.

Arus besar sistem global dunia modern kapitalistik memang terasa sulit untuk dilawan oleh kekuatan mana pun. Terlebih lagi, pada saat sekarang ini hampir tidak ada satu kekuatan pun yang cukup representatif untuk dapat mengimbanginya dan bahkan mendekonstruksi formasi sosial yang diskriminatif tersebut.

Namun, membiarkan sistem dunia tersebut berkembang tanpa koreksi, kritik, kontrol, dan “perlawanan” merupakan kenaifan tersendiri. Untuk kepentingan kritisisme terhadap sistem dunia tersebut, kita perlu menghidupkan kembali kesadaran atau nalar kritis (critical consciousness) yang selama ini dimarjinalisasikan, dipasung, dan sengaja dibunuh secara sistemik oleh kelompok status quo.

Sebagai langkah konkretnya, kaum intelektual diharapkan memiliki kemampuan untuk memposisikan diri sebagai aktor sosial (social agents) yang aktif, kreatif, dan produktif dalam melahirkan berbagai alternatif guna keluar dari sistem hegemonik dan sekaligus melakukan counter-culture terhadap setiap kemapanan. Untuk itu, hendaknya mereka berani melakukan pembacaan kritis dan pembongkaran terhadap segala realitas hegemonik tersebut.

Selanjutnya, untuk dapat merealisasikan agenda transformasi sistem dunia yang lebih humanis, maka kaum intelektual diharapkan mampu melampaui apa yang Habermas sebut dengan instrumental knowledge yang merupakan potret nalar positivisme, di mana tujuan pengetahuan direduksi sebatas untuk mengontrol, memprediksi, memanipulasi dan mengeksploitasi, serta mendominasi objeknya. Demikian pula, mereka tidak lantas mencukupkan diri dengan menggunakan paradigma hermeneutic knowledge atau intepretative knowledge di mana tugas pengetahuan hanyalah sebatas untuk memahami belaka.

Akan tetapi, diharapkan mereka mampu menggunakan dan mengembangkan model pengetahuan kritis atau critical knowledge atau emancipatory knowledge yakni suatu pendekatan yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai katalis untuk membebaskan manusia dari segenap ketidakadilan. Dalam perspektif teori kritis, pengetahuan itu tidak boleh dan tidak mungkin netral, tetapi harus melakukan keberpihakan.

Dalam konteks ini, paradigma kritis senantiasa berpihak kepada setiap kelompok yang tertindas oleh sistem hegemonik. Model pengetahuan ketiga itulah yang paling memungkinkan untuk digunakan sebagai modal intelektual guna membangun pergerakan aksi transformatif menuju terciptanya struktur formasi sosial yang benar-benar demokratis.


Sumber-Sumber Teoritis Berpikir dan Bersikap Kritis
Secara garis besar landasan teoritis sikap kritis  bisa mendasarkan pada banyak acuan. Pertama, dan ini biasanya dikaitkan dengan  suatu paradigma baru dalam ilmu-ilmu sosial, yang sudah beranjak keluar dari dikotomi “kiri” dan “kanan” yang konvensional, dan dikenal dengan berbagai label seperti critical theory, critical science, critical social science, radical planning, powerreflexive methodology.

Yang kedua, bisa mengacu pada berbagai pemikiran kaum sosialis-utopis-anarkis baru seperti Ivan Illich, David Dickson, E.F.Schumacher, dan Murray Bookchin, serta pemikir atau tokoh gerakan Asia dan Afrika yang tidak Cuma radikal dalam kata-kata, tapi juga radikal dalam aksi, seperti Gandi Che Guevara, Mahatma Gandhi dan Franz Fanon.

Dengan meramu dan meremas-remas pemikiran berbagai pakar diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya dalam bersikap kritis itu mengandung sekaligus secara bersamaan  yakni bersikap ilmiah, etis dan utopis.

Related Posts:

0 Response to "Rangkuman: “Definisi dan Konteks Berpikir Kritis”"

Post a Comment