Skip to main content

Posts

Thoriqoh Malamatiyah #6

Syaikh SyihAbûddin Abi Hafs Umar al-Suhrawardi (539-632 H.) membahas tharîqah Malâmatiyah dalam kitab Awârif al-Ma‟ârif, halaman: 82, dan juga diambil dari kitab al-Kawâkib al-Durriyah fi Tarjami al-Sâdat al-Shûfiyah, juz 1, halaman: 165 nomor: 243, Arti Malâmatiyah adalah orang-orang yang mengharapkan hinaan dan cacian terhadap diri sendiri. Syaikh Hamdun al-Qashar melihat kenyataan manusia, bahwa nafsu itu menggunakan banyak metode untuk meluapkan kesenangan (syahwat). Sementara ikhlâs yang benar itu sangat langka dan sulit untuk sampai pada maqâm ikhlas.
Source: instagram.com/tamansufi.id

Thoriqoh Malamatiyah #5

Thoriqoh Malamatiyah #4

Malâmatiyah adalah nama tharîqah yang mulai berkembang pada pertengahan abad ke 3 H. di NaisAbûr kota Khurosan. Tharîqah ini juga dikenal dengan nama al-Qushâriyah) ٌ القصاري (atau al-Hamduniyah) ٌ الحمدوني (kedua nama ini dinisbatkan kepada Hamdun bin Ahmad bin Amarah al-Qashar (w. 271 H). Beliau yang menyebarkan tharîqah Malâmatiyah ini. Nama lengkapnya adalah Abû Shâlih Hamdûn bin Ahmad bin Ammarah Al-Qushshâr Al-NaisAbûri, tidak diketahui tahun kelahirannya, beliau wafat tahun 271 H. di kebumikan di pemakaman al-Khairah dalam kitab Thabaqât al-Shûfiyah, hlm 109, dikebumikan pemakaman Khaidah dalam kitab al-Thabâqat al-Kubra, hlm. 121, Beliau terkenal sebagai ulama fikih Madzhab Sufyan bin Sa‟id al-Tsauri (77-161 H).
Source: instagram.com/tamansufi.id

Thoriqoh Malamatiyah #3

Dalam thoriqoh Malamatiyah dzikir dibagi menjadi 4 macam: 1. Dzikir Lisan: dilaksanakan Sâlik dengan menggunakan lisan sementara hatinya lupa, Sâlik masih mengharapkan pahala atau ingin mencapai maqâm-maqâm tertentu dan ingin diterima di kalangan tertentu. Ini adalah dzikir Sâlik umum;
2. Dzikir Qalb (hati): setelah Sâlik bisa melaksanakan dzikir lisan dengan baik, selanjutnya Sâlik menghentikan dzikir lisan dan beralih melaksanakan dzikir qalb (hati). Sâlik pada tahap ini menghitung kenikmatan-kenikmatan yang diterima sementara dia lupa terhadap dzat pemberi nikmat, sibuk memperhatikan karunia lupa terhadap pemberi karunia, ingin mendapat pahala, merasa sudah mencapai maqâm-maqâm tertentu. Ini adalah bentuk terendah dari kedudukan terendah dan paling jauh. Munculnya keinginan batin yang memandang pada tujuan sebagai pertimbangan perwujudan awal;
3. Dzikir Sirri: setelah Sâlik melaksanakan dzikir lisan dan qalb lalu Sâlik menghentikan kedua dzikir tersebut dan beralih melakukan dziki…

Thoriqoh Malamatiyah #2

Thoriqoh Malamatiyah #1

Malamah Istiqamah Sirri: Sâlik selalu menyendiri dalam amal ibadahnya, selalu bersungguh-sungguh menjaga agamanya, dan hubungan muamalahnya. Sehingga para manusia mencaci-maki sementara Sâlik ini tidak memperdulikan dan mengabaikan hinaan tersebut. Sâlik dalam tahap ini meniadakan sifat munafik dalam hati, meninggalkan riya‟, tidak takut dihina makhluk, tetap berjalan pada prinsip-prinsip tiap ahwal, sanjungan dan hinaan terasa sama oleh Sâlik, (Kasyf al-Mahjûb, halaman: 261) Diceritakan bahwa Syaikh Abû Thahir al-Harami pada suatu hari menunggang keledai yang berjalan menuju ke arah pasar, salah satu muridnya menghalau keledai tersebut dengan memegang tali kendalinya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki berteriak “ini (Abû Thahir al-Harami) adalah syaikh Zindiq, dan disahut oleh orang-orang pasar yang lain”. Ketika mendengar teriakan ini,salah satu murid ingin membalas dengan melempari batu terhadap penghina tanpa kehendak gurunya. Lalu syaikh Abû Thahir al-Harami berkata kepada muridny…

Uwais Al-Qorni (Thoriqoh Uwaisiyah) #6

Penisbatan Tharîqah kepada Uwais al-Qarni Ra (w. 36 H) Abu"Amir Uwais bin" Amir al-Muradi Tsumma al-Qarn. Beliau adalah termasuk golongan pembesar Tabi'in (menurut Pendapat yang ashah) (Syaikh Ismâil haqqi bin Musthâfa al-Khalwati al-Barsawi, Tamâm al-Faidh fi Bâbi al-Rijâl. Libanon: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2010. halaman: 18), bahkan termasuk pembesar Tabi‟in dan orang yang paling utama pada masanya. Kedudukan Uwais al-Qarni Ra disaksikan sendiri oleh Rasûlullâh Saw., beliau bersabda: “Aku mencium nafas tuhan yang Maha Rahman dari arah tanah Yaman” Yang dimaksud oleh nabi adalah mencium bau harum kekasih Allâh Swt. yaitu Uwais al-Qarni Ra. Rasûlullâh Saw. menuturkan keistimewaan Uwais dikabarkan Allâh Swt. kepada Umar dan Ali bahwa: ”Ada seseorang dari umatku yang yang bisa memberikan syafaat di hari kiamat sebanyak bulu domba dari jumlah domba yang dimiliki oleh Rabbiah dan Mudhar (keduanya dikenal karena mempunyai domba yang banyak), lalu para sahabat bert…